← Beranda
Basarnas Ungkap Alasan Sekoci KMP Mutiara Sentosa II Gagal Diturunkan Saat Kebakaran
Novia HerawatiRabu, 5 Agustus 2026 | 20.31 WIB
Kepala Basarnas, Marsdya TNI Mohammad Syafii mengungkap alasan sekoci KMP Mutiara Sentosa II gagal diturunkan saat kebakaran di Perairan Utara Sumenep, Pulau Madura, Minggu (2/8). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Basarnas mengungkap alasan sekoci atau perahu penyelamat milik KMP Mutiara Sentosa II tidak diturunkan saat terjadi kebakaran di Perairan Utara Sumenep, Pulau Madura pada Minggu (2/8).

Kepala Basarnas, Marsdya TNI Mohammad Syafii mengatakan bahwa kapal jenis Ro-Ro milik PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) tersebut sudah dilengkapi perlengkapan keselamatan, termasuk sekoci. 

Namun, kobaran api yang muncul begitu cepat membuat kru kapal tidak memiliki kesempatan untuk menurunkan sekoci maupun rakit penolong darurat yang berada di bagian belakang kapal.

“Artinya sekoci tidak bisa diturunkan bukan karena tidak ada, tetapi memang kondisi api yang tidak memungkinkan bagi kru untuk menurunkan peralatan keselamatan tersebut,” tuturnya di Surabaya, Selasa sore (4/8).

Baca Juga: BPS: Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 Tumbuh 5,29 Persen

Dari data yang dihimpun Basarnas, titik awal kebakaran berasal dari bagian tengah bawah kapal. Kondisi angin yang cukup kencang menyebabkan api cepat merambat hingga ke bagian belakang dalam waktu singkat.

Dalam kondisi tersebut, kru kapal berupaya memadamkan api. Namun karena kobaran tidak lagi bisa dikendalikan, fokus penanganan langsung dialihkan untuk menyelamatkan seluruh penumpang di atas kapal.

Seluruh penumpang diinstruksikan untuk menuju anjungan dan bagian depan kapal yang dinilai lebih aman dari kobaran api. Kru lalu membagikan pelampung (life jacket) sebagai perlengkapan keselamatan darurat.

“Pada saat (kru kapal) tidak sanggup memadamkan api, saat itulah kru memberikan informasi melalui broadcast (pesan berantai) agar seluruh penumpang menggunakan life jacket (pelampung),” imbuhnya.

Syafii menjelaskan penanganan kebakaran kapal berbeda dengan insiden kapal bocor. Pada kasus kebocoran, kru masih memiliki waktu untuk menurunkan sekoci dan mengembangkan perahu karet.

“Kalau kapal bocor, kru masih punya kesempatan menurunkan perahu karet, sekoci, bahkan bisa menyampaikan informasi perkembangan situasi secara detail. Tetapi saat kebakaran, kondisinya berbeda,” kata Syafii.

Senada, Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Suntana mengungkapkan sebenarnya KMP Mutiara Sentosa II telah dilengkapi 6 unit sekoci dan 25 rakit penolong darurat (life raft).

Baca Juga: Tertinggi Salurkan KPR Subsidi, Menteri PKP Apresiasi Langkah BTN Penuhi Kebutuhan Hunian Masyarakat

“Kapal memiliki enam sekoci dan 25 life raft. Cuma yang bisa turun satu sekoci karena kebakaran (kobaran api yang membesar dalam waktu singkat ke arah belakang, tempat peralatan keselamatan),” ucap Suntana.

Kronologi singkat

Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Mutiara Sentosa II yang melayani rute Surabaya - Makassar, mengalami kecelakaan laut di Perairan Utara Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur pada Minggu pagi (2/8).

Laporan awal insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di Perairan Utara Sumenep, Madura, diterima Petugas Siaga Kantor SAR Surabaya dari pihak Syahbandar Tanjung Perak dan PT ALP pada Minggu (2/8) pukul 08.24 WIB. 

Sementara pihak perusahaan kapal mendapat info dari nahkoda bahwa kapal terbakar di ujung utara madura sekitar pukul 06.00 - 07.00 WIB dan setelahnya nahkoda tidak dapat dihubungi kembali. 

Pada hari ketiga pencarian, Selasa siang (4/8), Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi 238 korban KMP Mutiara Sentosa II, dengan rincian, 233 korban selamat dan 5 korban meninggal dunia. 

Kepala Basarnas, Marsdya TNI Mohammad Syafii mengatakan jumlah tersebut sudah sesuai dengan data manifes yang dilaporkan KSOP, perusahaan operasi kapal, dan keterangan nahkoda kapal. 

"Karena itu, secara resmi saya sampaikan bahwa operasi SAR secara khusus dalam penanganan kedaruratan KM Mutiara Sentosa II secara resmi saya alihkan kepada operasi rutin oleh Kantor SAR Surabaya," tutur Syafii. (*)

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan