JawaPos.com - Kasus puluhan remaja di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, yang terdiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) mendorong pentingnya penguatan upaya pencegahan.
Dosen Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Dewi Setyowati menilai edukasi sejak dini perlu diperkuat agar risiko penularan HIV dapat ditekan.
"Semakin cepat seseorang mengetahui status HIV-nya, maka semakin cepat pula tatalaksana dapat diberikan. Keterbukaan terhadap informasi kesehatan membuat penanganan HIV semakin optimal," ujarnya, Kamis (30/7).
Dewi menyebut ada lima langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan HIV. Pendekatan ini dikenal dengan ABCDE, yakni Abstinent (tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah).
Kemudian Be faithful (setia kepada pasangan), Condom (menggunakan kondom sebagai upaya pencegahan pada kondisi berisiko), Drugs (tidak berbagi jarum suntik), dan Education (pendidikan yang memadai).
"Pemerintah telah menghadirkan berbagai program seperti skrining dan pengobatan yang
ditanggung. Namun, upaya tersebut perlu didukung oleh keluarga melalui pendampingan dan edukasi yang benar," imbuhnya.
Menurut Dewi, lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir dan perilaku anak. Ia mengajak masyarakat untuk tetap waspada terhadap HIV, tanpa memberikan stigma kepada penyandangnya.
Banyak masyarakat yang masih keliru dan mengaitkan HIV dengan perilaku menyimpang, seperti berganti-ganti pasangan seksual, hubungan seksual di luar nikah, atau penggunaan narkoba suntik.
Stigma Negatif Bikin Penyandang HIV Malu Berobat
Akibat stigma tersebut, orang yang hidup dengan HIV kerap dikucilkan, disalahkan, bahkan takut membuka status kesehatannya. Kondisi ini membuat banyak orang enggan menjalani tes maupun pengobatan sejak dini.
Padahal penyakit tersebut dapat ditemukan pada berbagai kelompok, termasuk ibu rumah tangga. HIV juga tidak menular lewat berjabatan tangan, berbincang, maupun hidup berdampingan.
"Pemahaman yang keliru inilah yang membuat banyak penyandang HIV (ODHIV) dijauhi (oleh masyarakat), sehingga mereka enggan melakukan pemeriksaan ataupun pengobatan," pungkas Dewi.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap sebanyak 60 remaja berusia 11-17 tahun di Sidoarjo terdiagnosis HIV sepanjang periode 2001 hingga Juni 2026. Dari 60 kasus ini, sebanyak 7 orang meninggal dunia.
Data tersebut merupakan bagian dari 1.183 kasus HIV kumulatif yang ditemukan pada kelompok usia 0-24 tahun di Kabupaten Sidoarjo.
Kemenkes menyebut bahwa meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan tidak serta-merta menunjukkan lonjakan penularan, melainkan juga mencerminkan semakin luasnya layanan deteksi dini HIV di berbagai fasilitas kesehatan.
Dari data itu, hingga Juni 2026, sebanyak 34 remaja masih menjalani terapi antiretroviral (ARV), 7 orang meninggal dunia, dan 19 lainnya berstatus lost to follow-up (LFU) atau tidak lagi terpantau dalam layanan pengobatan. (*)