← Beranda
Puluhan Pelajar Diduga Terpapar HIV di Sidoarjo, Pakar Unair Soroti Bahaya Stigma
Novia HerawatiKamis, 30 Juli 2026 | 12.39 WIB
Ilustrasi HIV. Pexels

JawaPos.com - Temuan puluhan pelajar berusia 11-17 tahun di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terpapar Human Immunodeficiency Virus atau HIV jadi alarm publik untuk deteksi dini penyakit tersebut dan tak membuat stigma tertentu.

Dosen Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Dewi Setyowati, menilai fenomena meningkatnya kasus HIV ini menjadi alarm bersama terkait pengendalian medis.

Menurut dia, stigma negatif terhadap penyandang HIV di Indonesia kerap menghambat pengendalian penyakit. 

Padahal, deteksi dini dan edukasi yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup serta menekan diskriminasi.

Baca Juga: Kemenkes Catat 1.006 Orang Dewasa Sidoarjo Kena HIV, Mayoritas Gay

"Semakin cepat seseorang mengetahui status HIV-nya, maka semakin cepat pula tatalaksana dapat diberikan. Meskipun jumlah kasus yang terdeteksi naik, itu justru menjadi indikator bahwa skrining berjalan lebih baik," ujarnya.

Dengan skrining yang lebih baik dan cepat, penanganan medis kepada pasien HIV dapat segera dilakukan.

Dewi menjelaskan HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga penderita rentan mengalami infeksi dan komplikasi.

"Seseorang umumnya meninggal bukan karena HIV secara langsung, melainkan akibat penyakit yang muncul ketika daya tahan tubuh telah menurun drastis akibat virus HIV tersebut," imbuhnya.

Dewi menambahkan, temuan kasus HIV pada anak memerlukan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui sumber penularannya. Mengingat sebagian besar kasus HIV pada anak penularannya secara vertikal.

Baca Juga: Dinkes Sidoarjo Bantah Isu 522 Pelajar Terpapar HIV, Data Sebenarnya 60 Kasus

"HIV tidak menular melalui berjabat tangan, berbincang, atau hidup berdampingan. Pemahaman keliru ini yang membuat banyak pasien HIV dijauhi, sehingga mereka enggan melakukan pengobatan," kata Dewi.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap sebanyak 60 remaja berusia 11-17 tahun di Sidoarjo terdiagnosis HIV sepanjang periode 2001 hingga Juni 2026. Dari 60 kasus ini, sebanyak 7 orang meninggal dunia.

Data tersebut merupakan bagian dari 1.183 kasus HIV kumulatif yang ditemukan pada kelompok usia 0-24 tahun di Kabupaten Sidoarjo.

Kemenkes menyebut bahwa meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan tidak serta-merta menunjukkan lonjakan penularan, melainkan juga mencerminkan semakin luasnya layanan deteksi dini HIV di berbagai fasilitas kesehatan.

Dari data itu, hingga Juni 2026, sebanyak 34 remaja masih menjalani terapi antiretroviral (ARV), 7 orang meninggal dunia, dan 19 lainnya berstatus lost to follow-up (LFU) atau tidak lagi terpantau dalam layanan pengobatan. 

Baca Juga: Temuan Kasus HIV di Sidoarjo Terus Meningkat, Kemenkes Sebut Tak Berarti Penularan Masif, Justru Deteksi Dini Efektif

EDITOR: Bayu Putra