← Beranda
Prediksi BMKG: Banjir Rob Ancam Pesisir Surabaya Hingga 18 Juli 2026
Novia HerawatiRabu, 15 Juli 2026 | 19.15 WIB
Ilustrasi banjir rob. (Dok/Jawa Pos)

JawaPos.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Pelabuhan Tanjung Perak memperingatkan potensi banjir rob di wilayah pesisir Surabaya pada periode 12 - 18 Juli 2026. 

Banjir rob merupakan genangan yang terjadi ketika air laut pasang (naik) melebihi elevasi daratan di kawasan pesisir. Kondisi tersebut mengakibatkan air laut meluap dan menggenangi wilayah yang lebih rendah.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya, Sutarno mengatakan bahwa banjir rob bulan Juli 2026 dipicu oleh pasang maksimum air laut akibat fenomena bulan baru (new moon). 

Baca Juga: 17 Desa di Jombang Belum Punya Lahan untuk Bangun Kopdes Merah Putih, Aset Pemkab Tak Bisa Dipakai

"Pasang air laut maksimum yang terjadi saat ini fase bulan baru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan Banjir Rob di area pesisir dengan ketinggian 120-150 cm dari rata-rata permukaan air laut (DPL)," tuturnya, Rabu (15/7).

Pasang air laut maksimum bisa menimbulkan genangan setinggi 10 - 30 sentimeter di daratan. Akibatnya, transportasi pesisir, aktivitas petani garam, perikanan, dan proses bongkar muat di pelabuhan, terganggu.

Adapun wilayah yang berpotensi terdampak banjir rob, meliputi kawasan Surabaya Barat (Kecamatan Benowo), Surabaya Utara (kawasan Pelabuhan dan Kecamatan Kenjeran), dan kawasan Surabaya Timur. 

Selain Surabaya, banjir rob juga berpotensi terjadi di sejumlah daerah di pesisir Jawa Timur, seperti Gresik, Lamongan, Tuban, Pasuruan, Sidoarjo, Kalianget (Sumenep, Madura), hingga Banyuwangi. 

BMKG Tanjung Perak menyebut banjir rob berpotensi di wilayah-wilayah tersebut mulai pagi hingga sing hari, pukul 09.00 - 12.00 WIB. Oleh karena itu, masyarakat pesisir diimbau untuk lebih waspada saat beraktivitas. 

"Bagi masyarakat yang tinggal atau beraktifitas di wilayah pesisir Surabaya dan sekitarnya, diimbau untuk lebih waspada terhadap pasang air laut yang berpotensi bencana alam banjir rob," pungkas Sutarno. (*)

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah