← Beranda
Dispendik Surabaya: Gerakan Ayah Antar Anak ke Sekolah Jadi Upaya Cegah Fatherless
Novia HerawatiSelasa, 14 Juli 2026 | 01.41 WIB
Para ayah mengantarkan anak-anak mereka pada pertama MPLS di SD Negeri Kaliasin 1 Surabaya, Senin (13/7). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

 

 

JawaPos.com - Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) jenjang SD dan SMP negeri di Surabaya diwarnai kehadiran para ayah melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS), Senin (13/7).

Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah memperkuat peran ayah dalam pengasuhan, sekaligus meminimalisir fenomena fatherless yang dinilai berdampak pada tumbuh kembang anak.

Baca Juga: Dispendik Surabaya Pastikan Tak Ada Lagi Perpeloncoan di MPLS 2026

"Ayah diminta mengantar anak ke sekolah di hari pertama agar anak merasa bangga karena didampingi ayahnya sampai ke sekolah,” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya, Febrina Kusumawati, Senin (13/7). (*)

Febrina menjelaskan, Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah adalah tindak lanjut program Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) untuk mempererat kedekatan emosional antara ayah dan anak.

Dispendik Surabaya mendukung penuh pelaksanaan GAMAS. Sebelumnya, instansinya juga melibatkan para ayah dalam pengambilan rapor anak sebagai upaya meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

“Kehadiran ayah menjadi penyeimbang luar biasa. Harapannya sebelum berangkat kerja, para ayah masih bisa mengantar anak sampai gerbang sekolah, ada salam, pelukan, sehingga terjalin kedekatan secara hati,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala DP3A-PPKB Kota Surabaya, Ida Widayati menilai Gerakan ayah mengantar anak ke sekolah menjadi salah satu strategi Pemkot Surabaya untuk meminimalisir fenomena fatherless yang dinilai dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

“Selama ini apa-apa ibunya. Sekarang peran ayah harus ditingkatkan dan kedekatan ayah dengan anak juga harus dibangun lagi. Alhamdulillah responsnya baik sekali," ujar Ida di Surabaya. 

Berdasarkan data internal DP3A-PPKB, sejumlah kasus anak yang ditangani kurang menunjukkan keterlibatan ayah dalam keluarga. Hal ini berdampak pada kondisi psikologis anak hingga memicu perilaku menyimpang.

“Itu (GAMAS) menjadi kesempatan bagi kami menyampaikan pesan kepada ayah agar terus menjalin komunikasi dengan anaknya. Nanti akan kami kuatkan lagi melalui parenting, terutama bagi orang tua siswa baru,” tukasnya.

Baca Juga: Demi Antar Anak di Hari Pertama MPLS, Ayah di Surabaya Rela Tinggalkan Pekerjaan Sejenak

Pemkot Surabaya juga mengakomodasi anak yang tidak memiliki ayah. Mereka dapat diantar oleh anggota keluarga laki-laki terdekat, seperti kakek atau paman, agar tetap memperoleh pendampingan pada hari pertama sekolah. (*)

 

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan