JawaPos.com - Polrestabes Surabaya menyatakan 6 demonstran yang diamankan usai kericuhan aksi #IndonesiaSekarat di depan Gedung Negara Grahadi pada Jumat malam (26/6), positif narkoba.
Hal tersebut disampaikan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan kepada awak media di Mapolrestabes Surabaya, Minggu (26/6).
"Ada enam orang (demonstran Aksi #IndonesiaSekarat) yang saat ini kita proses karena dari hasil pemeriksaan urin, mereka terbukti menggunakan narkoba (metamfetamin)," tuturnya.
Enam demonstran tersebut, di antaranya M.R., seorang kuli berusia 32 tahun yang tinggal di Jalan Tambak Gringsing Baru, Surabaya. Hasil tes urine menunjukkan ia positif metamfetamin.
Baca Juga: Korban Tewas Gempa Kembar Venezuela Tembus 1.430 Jiwa, Lebih dari 51 Ribu Orang Masih Hilang
Selain itu, ada M.I., juru parkir berusia 32 tahun yang berdomisili di Tambak Gringsing Baru, Surabaya. Berdasarkan hasil pemeriksaan urine, ia juga dinyatakan positif metamfetamin.
Kemudian A.F., karyawan pabrik berusia 24 tahun asal Kebalen Kulon, Surabaya, serta M.Z., pekerja swasta berusia 18 tahun yang tinggal di Jalan Perlis Selatan, Surabaya. Hasil tes urine keduanya menunjukkan positif metamfetamin.
Ada pula A.D., pekerja swasta berusia 15 tahun asal Jalan Jagalan, Surabaya, dan F.K.A., pengangguran 24 tahun yang tinggal di Kalisosok, Surabaya. Polisi menyatakan hasil tes urine mereka positif metamfetamin.
"Keenam orang tersebut positif narkoba setelah di cek oleh Dokkes Polrestabes Surabaya. Saat ini kita kerja sama dengan BNN Surabaya untuk melakukan assesment," pungkas Kombes Pol Luthfie.
Kronologi singkat
Aksi demonstrasi bertajuk #IndonesiaSekarat awalnya berjalan damai. Ratusan massa yang menamakan diri dari Front Anti Kapitalisme, berorasi secara bergiliran, melakukan teatrikal dan baca puisi.
Kericuhan terjadi sekitar pukul 14.30 WIB, ketika Juru Bicara Front Anti Kapitalisme, Septia Rahma menyerukan keinginannya untuk ditemui pejabat. Teriakan "Revolusi" pun menggema dan terdengar jelas.
Tak lama dari itu, sejumlah massa melempar benda-benda di sekitar mereka, seperti botol air minum, bongkahan kayu, hingga kaca ke arah aparat polisi yang berada di belakang gerbang Gedung Negara Grahadi.
Di sisi lain, aparat kepolisian berupaya memberikan peringatan secara lisan melalui pengeras suara. Namun peringatan itu tidak digubris oleh pendemo. Ketegangan antara massa dan aparat pun semakin kerasa.
Polisi pun menembakkan meriam air atau water cannon untuk meredam kericuhan yang terjadi. Massa aksi tampak berlarian untuk menyelamatkan diri ke Jalan Pemuda, Jalan Yos Sudarso, dan Jalan Panglima Sudirman.
Pada sekitar pukul 19.00 WIB, aparat kepolisian membuat barikade untuk memukul mundur pendemo. Dengan berbagai upaya, polisi berhasil membubarkan massa aksi sekitar pukul 19.50 WIB.
Aksi #IndonesiaSekarat di Surabaya mengkritisi berbagai program dan kebijakan pemerintah. Ada 11 tuntutan dibawa oleh masa, mulai dari turunkan harga bapok dan BBM, hentikan program MBG, hingga cabut UU Polri dan UU TNI.
Dalam peristiwa tersebut, polisi mengamankan 24 demonstran aksi #IndonesiaSekarat, termasuk 1 di antaranya perempuan. Hingga Minggu sore (28/6), sebanyak 14 demonstran sudah dibebaskan.