← Beranda
Sempat Nyaris Putus Sekolah, Anak Pemulung di Surabaya Temukan Asa di Sekolah Rakyat
Novia HerawatiJumat, 26 Juni 2026 | 21.29 WIB
Kaka Dwi Ramadhani kini tinggal di kamar asrama Sekolah Rakyat Menengah Atas 21 Surabaya, setelah sempat tak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. (Novia Herawati/ JawaPos.com)

Kaka Dwi Ramadhani tak jadi putus sekolah usai ditawari masuk Sekolah Rakyat. Ia ingin memutus rantai kemiskinan keluarganya lewat jalur pendidikan.

JawaPos.com - "Kaka, ayo berangkat," panggil sang ayah dari depan rumah sederhana dengan gerobak sampah di sampingnya.

Kaka, panggilan akrab Kaka Dwi Ramadhani, ingat betul kalimat sakti yang terlontar rutin sejak lima tahun silam tersebut. Itu adalah ajakan untuk berjuang bersama demi mengisi periuk nasi keluarga.

Kala itu, tanpa banyak bicara, Kaka bergegas menalikan sepatunya dan beranjak ke depan rumah. Ia dan ayahnya lalu berangkat mengais rezeki saat matahari belum benar-benar kehilangan teriknya.

Baca Juga: Bertemu Mensos, Bupati Ipuk Laporkan Progres Sekolah Rakyat dan Digitalisasi Perlinsos

Waktu masih menunjukkan pukul 15.00 WIB, ketika Kaka menemani ayahnya menyusuri jalanan kampung di Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, Surabaya.

Berbekal gerobak sampah berukuran sedang sebagai 'alat tempur', Kaka dan ayahnya mencari botol plastik, kardus bekas, kaleng minuman, potongan besi tak terpakai, dan barang-barang lain yang masih memiliki nilai jual.

"Jadi saya ikut ayah keliling. Gerobak yang sudah penuh dengan barang bekas ditaruh di sebuah lahan, nanti ada pengepul yang beresin," kenang remaja kelahiran 2009 ini kepada JawaPos.com, Kamis (25/6).

Tak Ada Hari Minggu untuk Kaka

Bagi remaja seusianya, hari Minggu mungkin identik dengan bermain atau beristirahat. Namun bagi Kaka, Minggu adalah hari untuk bekerja keras.

Sejak duduk di bangku kelas VII SMP, Kaka terbiasa membantu ayahnya bekerja memulung barang bekas demi bisa makan.

Baca Juga: Dikebut Jelang Operasi, Sekolah Rakyat Banyuwangi untuk 1.000 Siswa Kurang Mampu Ditarget Rampung 20 Juni 2026

Panas matahari, jalanan panjang, dan penghasilan tak menentu menjadi rutinitas yang dulunya dijalani remaja 17 tahun itu tanpa banyak mengeluh

Senin hingga Jumat, aktivitas Kaka normal. Ia berangkat sekolah untuk belajar seperti anak-anak sebayanya.

Tetapi setiap akhir pekan, ia berganti peran menjadi pencari barang bekas demi menambah penghasilan keluarga.

"Jadi Sabtu istirahat, Minggu saya cari sampah. Awalnya cuma ingin ikut ayah, karena kalau hari libur juga nggak ada kegiatan di rumah, terus inisiatif bantu ayah, lumayan dapat uang jajan," ucapnya.

Dari pekerjaan tersebut, Kaka mendapat upah dari ayahnya. Nominalnya tidak besar, sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.

Baca Juga: Pekerja Komitmen Sesuai Target, Menteri PU Dody Pastikan Sekolah Rakyat di Sukoharjo Fungsional Juli 2026

Namun bagi seorang anak SMP, uang tersebut cukup untuk membeli es krim atau jajanan yang diinginkan. Tak jarang, uang itu sengaja ia sisihkan untuk ditabung dan diserahkan kepada ibunya.

"Kadang saya kasih ke adik atau mama. Kalau ada uang lebih ya biasanya saya kasih ke mama," ucap remaja berambut cepak.

Kehidupan keluarga Kaka memang jauh dari kata berkecukupan. Di rumah kos sederhana dengan ukuran 3 x 3, Kaka tinggal bersama kedua orang tua dan seorang adik yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Ketika Kaka menginjak kelas IX SMP, ayahnya memutuskan tak lagi bekerja sebagai pemulung.

Sejak saat itu, sang ayah melakoni berbagai pekerjaan serabutan demi memastikan dapur keluarga kecilnya tetap mengepul.

Baca Juga: Prabowo: MBG, Cek Kesehatan Gratis, hingga Sekolah Rakyat adalah Investasi Masa Depan Bangsa

Meski ayahnya beralih profesi, gerobak sampah tak benar-benar hilang dari kehidupan Kaka.

Di hari-hari tertentu, ia ikut tetangganya mengangkut sampah dari lorong-lorong pasar tradisional dekat rumahnya.

Selain mencari barang bekas, Kaka juga pernah melakoni pekerjaan lain. Ia bekerja sebagai pengambil bola di lapangan tenis tempat atlet berlatih. Bayaranya lumayan, dalam dua jam, Kaka memperoleh upah Rp 60 ribu.

"Jadi satu jam itu dibayar Rp 30 ribu, itu dari jam 4 sampai jam 6 sore. Soalnya kan kondisi keluarga juga susah, kalau bisa bantu buat makan, meski gak seberapa, saya ingin bantu," ucapnya dengan senyum tipis.

Asrama Sekolah Rakyat Menengah Atas 21 Surabaya yang berada di dalam Kampus Lidah Wetan Unesa. (Novia Herawati/JawaPos.com)
Asrama Sekolah Rakyat Menengah Atas 21 Surabaya yang berada di dalam Kampus Lidah Wetan Unesa. (Novia Herawati/JawaPos.com)

Di Ambang Putus Sekolah, Asa Datang Tanpa Diduga

Saat kelulusan SMP semakin dekat, kenyataan pahit menghantam Kaka. Kedua orang tuanya mengatakan tak lagi memiliki biaya untuk menyekolahkannya ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

Baca Juga: Target Juni 2026! Pembangunan 93 Sekolah Rakyat Dikejar untuk Tahun Ajaran Baru

"Sudah Ayah, Ma, kalau nggak ada uang, saya tidak apa-apa kalau tidak lanjut sekolah," tutur Kaka dengan tegar. Namun, sorot mata sayu dan wajah murungnya tak mampu menutupi kesedihan yang berusaha ia sembunyikan.

Dalam hati kecilnya, Kaka masih menyimpan mimpi yang sama seperti remaja seusianya: melanjutkan sekolah demi masa depan yang lebih baik. Ironisnya, keinginan itu dikalahkan oleh belenggu bernama kemiskinan.

Hari-hari berikutnya Kaka mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa masa sekolahnya telah berakhir. Ia membayangkan hidup tanpa seragam sekolah dan waktu yang dihabiskan untuk bekerja.

Namun, takdir ternyata menyiapkan cerita lain. Sehari setelah percakapan itu, seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) datang ke rumahnya membawa kabar gembira yang mengubah jalan hidup Kaka.

Ia berkesempatan sekolah di Sekolah Rakyat, program di bawah naungan Kementerian Sosial (Kemensos) RI dengan tawaran apik: tinggal di asrama dan seluruh biaya pendidikan ditanggung negara.

Baca Juga: Lowongan 8.000 Guru dan Tenaga Kependidikan Sekolah Rakyat Dibuka Tahun Ini, Cek Ketentuannya

Sekolah Rakyat: Jalan Baru Meraih Mimpi

Kaka meyakini bahwa kesempatan emas tidak datang dua kali. Apalagi, tawaran masuk Sekolah Rakyat datang di waktu yang tepat, saat impiannya untuk melanjutkan sekolah nyaris kandas karena keterbatasan ekonomi.

"Ini seperti hadiah," ucap Kaka singkat dengan ekspresi semringah saat menceritakan perasaannya mendapat tawaran untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Atas 21 Surabaya.

Bagi Kaka, kesempatan untuk bergabung dengan Sekolah Rakyat adalah titik balik dalam hidupnya.

Dari remaja yang hampir putus sekolah, hingga kini memiliki ruang untuk menata masa depan dengan lebih optimistis.

Setahun menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Atas 21 Surabaya, perubahan besar juga mulai dirasakan oleh Kaka. Bukan hanya soal belajar, tetapi juga pola hidup yang kini jauh lebih teratur dan terarah.

Baca Juga: Kawal Langsung Pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II di Lapangan, Menteri PU: Biar Cepat Selesai

"Kalau dulu beli alat tulis harus dicicil sedikit demi sedikit. Buku pelajaran dan LKS juga sering menjadi masalah karena orang tua tidak ada uang, sekarang semuanya tersedia. Peralatan sekolah juga lengkap," tutur Kaka.

Kenyamanan tempat tinggal juga menjadi pengalaman baru baginya. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, keterbatasan ruang membuat Kaka kerap berpindah tempat tidur. Bagaimana tidak, kamar kos berukuran 3 x 3 dihuni 4 orang.

Bahkan kadang ia harus menumpang tidur di rumah nenek yang berada persis di sebelah kos keluarganya.

Sementara di asrama Sekolah Rakyat, Kaka mendapat tempat tinggal yang layak dan jadwal yang tertata.

"Di sini juga bapak-ibu guru penjelasan materinya mudah dipahami. Melihat teman-teman yang rajin belajar membuat saya ikut termotivasi. Kalau mereka bisa, saya juga ingin bisa, karena itu saya menjadi lebih semangat," ucapnya.

Baca Juga: Audit Kemensos Ungkap Dugaan Markup Sepatu Sekolah Rakyat, 2 Pejabat Dicopot Sementara

Ketakutan bakal sulit bergaul yang dulu menghantui Kaka juga tak terbukti. Kehidupan bersama teman-teman baru di Sekolah Rakyat justru membuat Kaka lebih percaya diri berinteraksi dengan banyak orang.

"Dulu takut nggak punya teman. Ternyata teman-teman di sini baik-baik dan asyik diajak ngobrol. Saya senang bisa sekolah lagi di Sekolah Rakyat Surabaya. Saya akan berusaha, seenggaknya bisa lulus SMA," ucapnya dengan mata berbinar.

Harapan Baru bagi The Invisible People

Kaka Dwi Ramadhani yang nyaris mengubur mimpinya untuk melanjutkan sekolah adalah satu dari sekian banyak anak yang bernasib serupa.

Mereka tumbuh dengan berbagai keterbatasan, luput dari perhatian, bahkan dipandang sebelah mata untuk menunjukkan potensinya.

Dalam banyak hal, mereka hidup sebagai kelompok yang kerap disebut the invisible people.

Baca Juga: Pembangunan Sekolah Rakyat Dharmasraya Dikebut, PTPP Optimistis Rampung Lebih Cepat

Ironisnya, jumlah mereka tidak sedikit. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat bahwa angka putus sekolah di tingkat SMA justru lebih tinggi dibandingkan jenjang di bawahnya.

BPS mencatat ada 0,86 persen penduduk Indonesia yang putus sekolah di jenjang SMA/ SMK sederajat.

Jauh di atas angka putus sekolah jenjang SMP sebesar 0,54 persen dan jenjang SD sederajat sebesar 0,09 persen.

Bahkan, angka putus sekolah di pedesaan lebih tinggi dari perkotaan. Pada jenjang SMA sederajat misalnya, siswa putus sekolah di pedesaan nyaris menyentuh angka 1, yakni 0,99 persen, sementara di perkotaan 0,78 persen.

Di tengah kondisi tersebut, Sekolah Rakyat hadir bukan sekedar sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebuah ikhtiar untuk memutus rantai kemiskinan yang kerap diwariskan akibat terbatasnya akses dan kesempatan.

Baca Juga: Pembangunan Sekolah Rakyat di Bengkulu Lampaui Target, Progres Kini Tembus 53 Persen

Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo menuturkan, pembangunan Sekolah Rakyat berangkat dari temuan di lapangan bahwa sebagian besar keluarga miskin kesulitan menyekolahkan anak-anak mereka.

"Ketika Presiden (Prabowo Subianto) membangun Sekolah Rakyat khusus untuk masyarakat miskin, harapan itu muncul kembali. Yang sebelumnya tidak punya kesempatan, kini bisa kembali bersekolah," ujarnya, dikutip dari website resmi Kemensos RI, Kamis (25/6).

Menurut Agus, penyediaan akses pendidikan bagi masyarakat miskin melalui Sekolah Rakyat merupakan bentuk nyata dari upaya negara menghadirkan keadilan sosial sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang.

“Sekolah Rakyat ini program prioritas Bapak Presiden yang dimaksudkan untuk memutus transmisi kemiskinan. Presiden tidak ingin kalau orang tuanya miskin, anaknya ikut miskin,” tegas Agus Jabo.

Bagi anak-anak yang selama ini dianggap the invisible people, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi ruang untuk belajar, berkembang, sekaligus memupuk kembali harapan tentang masa depan yang lebih baik.

Baca Juga: Progres Fisik Pembangunan Sekolah Rakyat di Brebes 7,44 Persen, Bos WIKA Klaim Sudah Membaik

Potensi Anak-Anak Invisible Mulai Terlihat

Wakil Kesiswaan Sekolah Rakyat Menengah Atas 21 Surabaya, Dinda Anggi Winarta, mengatakan, pada tahun pertama, sekolahnya menerima 100 siswa dari kelompok desil 1 dan desil 2.

Mereka berasal dari latar belakang sosial yang beragam. Ada yang berasal dari keluarga pemulung, penjahit, buruh, hingga kelompok rentan lain yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan.

"Kalau berbicara mengenai siswa yang dianggap invisible, sebenarnya anak-anak ini memiliki banyak potensi. Tugas kami di sini (Sekolah Rakyat) adalah menggali potensi tersebut," ujar Dinda kepada JawaPos.com, Kamis (25/6).

Kaka Dwi Ramadhani (belakang kiri) dan tim paduan suara saat tampil di acara Open House Sekolah Rakyat Menengah Atas 21 Surabaya, Jumat (26/6). (Novia Herawati/JawaPos.com)
Kaka Dwi Ramadhani (belakang kiri) dan tim paduan suara saat tampil di acara Open House Sekolah Rakyat Menengah Atas 21 Surabaya, Jumat (26/6). (Novia Herawati/JawaPos.com)

Menurut dia, ketika anak-anak yang selama ini dianggap the invisible people mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama, berbagai potensi mulai muncul, baik di bidang akademis maupun seni dan olahraga.

"Sekolah Rakyat kami memiliki belasan ekstrakurikuler dan kami menemukan banyak siswa yang memiliki bakat sebagai atlet, penari. Potensi-potensi itulah yang kami gali di luar pembelajaran akademik," lanjutnya.

Baca Juga: Kisah Alma, Siswi Sekolah Rakyat yang Bisa Lanjut Sekolah di Tengah Keterbatasan Ekonomi Keluarga

Upaya menggali potensi siswa ini perlahan membuahkan hasil. Setelah satu tahun berjalan, perubahan positif mulai terlihat dalam diri para siswa, baik dari segi kemampuan, kepercayaan diri, maupun kehidupan sehari-hari mereka.

Dari segi fisik, para siswa Sekolah Rakyat tampak lebih sehat, segar, dan terawat. Kebutuhan makan, kesehatan, serta aktivitas olahraga rutin yang difasilitasi sekolah turut mendukung perkembangan anak.

Dalam keseharian, siswa juga dinilai lebih tertib, lebih sopan dalam berbicara, dan semakin mandiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Perubahan itu juga terlihat dari cara pandang siswa terhadap sekolah dan asrama.

"Dulu mereka sangat ingin pulang saat ada kesempatan libur, bahkan di awal ada yang kabur. Sekarang malah anak-anak ini betah tinggal di asrama dan tidak ingin pulang karena merasa nyaman," pungkas Dinda.

Perubahan-perubahan positif tersebut menjadi bukti bahwa anak-anak yang selama ini dianggap the invisible people juga memiliki potensi yang sama untuk berkembang. Mereka berhak mengakses pendidikan yang layak.

Baca Juga: Usai Audiensi dengan KPK, Mensos Pastikan Tak Ada Kebocoran Anggaran Pengadaan Sepatu Rp 27 Miliar di Sekolah Rakyat

Begitu pula dengan Kaka. Meski pernah jadi pemulung, ia tak ingin masa depannya suram. Ia ingin mengangkat derajat keluarganya lewat pendidikan, dan itu tengah ia jalani sekarang.

Kisah Kaka Dwi Ramadhani menunjukkan bahwa kemiskinan seringkali membuat banyak anak menjadi 'tak terlihat'. Mereka ada, berjuang dalam diam, dan perlahan mengubur cita-cita karena keadaan.

Melalui Sekolah Rakyat, harapan itu kembali dinyalakan. Kesempatan yang diberikan kepada Kaka dan ratusan anak lainnya membuktikan bahwa di balik label the invisible people, tersimpan mimpi yang layak diperjuangkan. (*)

 

 

EDITOR: Bayu Putra