JawaPos.com - PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya resmi berpindah ke kawasan Tambak Osowilangun per 1 Juni 2026. Namun belum genap sebulan beroperasi, RPH tersebut menghadapi masalah kekurangan pasokan air.
Direktur Utama PT RPH Surabaya Perseroda, Fajar A. Isnugroho, mengatakan masih ada sejumlah sarana dan prasarana yang perlu dibenahi, salah satunya ketersediaan debit air untuk pembersihan pascapemotongan hewan.
“Salah satu faktor pembersihan jeroan atau babatan itu menggunakan air yang cukup, ini menguras air yang cukup besar. Nah sudah 2 minggu lebih ini kesulitan karena ketersedian tandon air yang terbatas,” ujarnya, Jumat (19/6).
Fajar mengatakan persoalan pasokan air di RPH Tambak Osowilangun telah disampaikan kepada Pemkot Surabaya. RPH Surabaya juga mengusulkan penambahan tandon untuk mengoptimalkan debit air.
Sebab sebelumnya, petugas RPH Surabaya sudah mencoba membersihkan jeroan dan babatan menggunakan kombinasi air PDAM (tandon) dengan sumur, namun hasilnya tidak maksimal.
“Kendala air sumur ini airnya asin, karena air asin ketika digunakan untuk mencuci babatan itu akan merusak, sehingga kami putuskan untuk tidak menggunakan air sumur dan akhirnya menggunakan air PDAM," imbuhnya.
Oleh karena itu, perlu adanya penambahan debit air PDAM. Fajar mengatakan dalam sehari, kebutuhan air untuk menunjang proses pembersihan di RPH Tambak Osowilangun mencapai 50 ribu liter.
Saat ini, pasokan air PDAM yang tersedia baru sekitar 20 ribu liter per hari. Menurut Fajar, jumlah tersebut belum mencukupi seiring meningkatnya aktivitas pemotongan hewan setiap hari.
"Dalam sehari, RPH Tambak Osowilangun mampu menampung 80 ekor sapi lokal dan 150 ekor sapi impor. Itu menjadi masalah tersendiri, baik masalah (pasokan) airnya, elevasinya, ipalnya, dan genangannya,” terang Fajar.
Selain persoalan pasokan air, PT RPH Surabaya juga mencatat perlunya evaluasi terhadap elevasi lantai di area pemotongan. Hal itu diperlukan agar aliran darah dan kotoran dapat langsung mengalir ke saluran pembuangan.
Menurut Fajar, ketiadaan elevasi lantai membuat darah hasil pemotongan kerap menggenang. Kondisi tersebut dikeluhkan para jagal sehingga petugas RPH harus turun tangan membantu proses pembersihan.
Ia menambahkan, sistem rel gantung atau railing yang digunakan untuk memindahkan daging juga perlu dibenahi. Pasalnya, fasilitas tersebut masih sering mengalami kendala dan macet saat dioperasikan.
“Kami segera atasi untuk mencari solusinya. Memang perlu pembenahan, perlu perbaikan, dan penyempurnaan sarana serta prasarana, secara bertahap akan kita penuhi dalam waktu singkat, satu setengah bulan bisa diselesaikan dengan baik,” pungkas Fajar.