JawaPos.com - Pemerintah mewajibkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menambah menu telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tambahan menu itu untukmeningkatkan penyerapan produksi telur dan membantu menstabilkan harga di tingkat peternak.
Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Indyah Aryani mengatakan, anjloknya harga telur terjadi akibat melimpahnya produksi yang tidak diimbangi penyerapan pasar. Sebagai provinsi dengan populasi ayam petelur terbesar di Indonesia, Jawa Timur selama ini mengalami surplus produksi telur.
"Harga telur saat ini memang sedang turun karena produksi melimpah, sementara penyerapannya belum optimal," kata Indyah di Surabaya, Jumat (29/5).
Menurut dia, kondisi tersebut dipicu meningkatnya kapasitas produksi peternak yang sebelumnya mengantisipasi kebutuhan hari raya dan program MBG. Namun realisasi penyerapan pasar tidak sesuai dengan perkiraan sehingga stok telur menumpuk dan harga jatuh di bawah harga pokok produksi.
Baca Juga: Suka Telur Rebus? Ternyata Ini Manfaatnya Jika Dikonsumsi saat Sarapan Pagi
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemprov Jatim bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian, dan pemerintah kabupaten/kota memperkuat penyerapan telur melalui program MBG dengan mewajibkan SPPG menambah porsi telur dalam menu makanan.
Selain itu, pemerintah juga mengajak masyarakat meningkatkan konsumsi protein hewani, khususnya telur, guna membantu menyerap produksi peternak lokal.
Indyah menambahkan, peternak saat ini juga menghadapi tingginya biaya produksi akibat kenaikan harga jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak yang menyumbang sekitar 50–60 persen biaya produksi.
Untuk meringankan beban peternak, pemerintah menyiapkan program subsidi jagung melalui Bulog dan Bapanas. Melalui skema tersebut, peternak diharapkan dapat memperoleh jagung dengan harga sekitar Rp 5.000 per kilogram melalui koperasi.
Baca Juga: BGN Instruksikan SPPG Utamakan Produk Lokal Termasuk Telur dalam Program MBG
Di sisi lain, Pemprov Jatim juga mendorong perluasan pasar ekspor produk peternakan ke sejumlah negara, antara lain Malaysia, Singapura, Timor Leste, dan Jepang. Jepang disebut telah menyelesaikan analisis risiko dan menunjukkan minat terhadap produk telur serta daging ayam beku asal Jawa Timur.
Pemprov berharap peningkatan penyerapan dalam negeri, subsidi pakan, dan pembukaan pasar ekspor dapat membantu menstabilkan harga telur sehingga peternak tetap memperoleh keuntungan dan masyarakat mendapatkan pangan dengan harga terjangkau. (Fai)