← Beranda
Usai Idul Adha, Warga Kedurus Dilatih Cek Kesehatan Mandiri Cegah Diabetes dan Hipertensi
Moch. Rizky Pratama PutraSabtu, 30 Mei 2026 | 22.55 WIB
Warga dan Kader Surabaya Hebat (KSH) mengikuti pelatihan pemeriksaan kesehatan mandiri di Kelurahan Kedurus, Surabaya, Sabtu (30 Mei 2026), pasca Idul Adha. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)

JawaPos.com - Warga Kelurahan Kedurus, Kecamatan Karang Pilang, Surabaya, mendapat pelatihan pengecekan kesehatan mandiri pada Sabtu, 30 Mei 2026, dua hari setelah Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.

Pelatihan ini membekali kader kesehatan dan masyarakat dengan kemampuan mendeteksi dini diabetes melitus serta hipertensi agar risiko komplikasi bisa dicegah lebih cepat.

Suasana Kantor Kelurahan Kedurus tampak ramai sejak pagi.

Warga yang datang terlihat antusias mengikuti pelatihan, mulai dari mengenal alat pemeriksaan kesehatan hingga memahami langkah pencegahan penyakit tidak menular yang banyak ditemukan di lingkungan mereka.

Mengapa Pelatihan Ini Digelar Setelah Idul Adha?

Pelatihan ini menjadi momentum penting setelah perayaan Idul Adha yang identik dengan meningkatnya konsumsi makanan berbahan daging.

Namun, perhatian masyarakat ternyata tidak hanya perlu tertuju pada daging, melainkan juga bahan pelengkap yang sering menyertainya.

Ketua tim pengabdi Poltekkes Kemenkes Surabaya, Dyah Wijayanti, S. Kep, NS, M.Kep, mengingatkan santan dan gula olahan justru menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

"Sebenarnya dagingnya sedikit ya, tapi 'temannya' daging itu seperti santan, kemudian gula yang olahan itu yang perlu diperhatikan. Jadi, boleh makan tapi dibatasi," ujarnya kepada JawaPos.com, Sabtu (30/5/2026).

Baca Juga: Kasus Diabetes di Indonesia Naik Dalam 1 Dekade, Lonjakan Gula Darah Postprandial Jadi Sorotan

Menurut Dyah, kasus diabetes dan hipertensi masih menjadi penyakit tidak menular dengan angka kejadian tinggi, baik di Kota Surabaya maupun Jawa Timur.

Karena itu, diperlukan keterlibatan masyarakat hingga tingkat lingkungan terkecil untuk membantu menekan angka kasus tersebut.

"Kasus-kasus diabet dan hipertensi ini menjadi kasus PTM yang tinggi. Insidennya tinggi di Kota Surabaya, dan sebenarnya di Jawa Timur juga termasuk dalam angka yang tinggi," katanya.

Kader Kesehatan Jadi Garda Terdepan Deteksi Dini

Pelatihan ini difokuskan kepada Kader Surabaya Hebat (KSH) yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat RW.

Mereka mendapatkan pembekalan metode Health Behavior Self Care (HBS), yaitu pendekatan yang membantu warga lebih mandiri dalam menjaga kesehatan dan mengenali tanda-tanda kegawatan penyakit.

Melalui metode tersebut, kader diajarkan cara menggunakan alat pemeriksaan, memahami faktor risiko diabetes dan hipertensi, hingga menentukan langkah yang harus dilakukan saat menemukan warga dengan kondisi kesehatan tertentu.

"Bagaimana upaya kader kesehatan bisa memberikan peran dan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan melalui tenaga kesehatan atau paramedis yang ada di Puskesmas untuk menurunkan angka kejadian hipertensi dan diabet," ujar Dyah yang juga didampingi timnya Dr. Siti Nur Kholifah, SKM., M.Kep.Sp.Kom dan Hasyim As’ari, S.Kep.,Ns.M.Ked.

Baca Juga: Puasa Ramadhan Bisa Jadi Momentum Jaga Gula Darah, Ini Tips Mencegah Diabetes Tipe 2

PLT Lurah Kedurus Donny mengapresiasi pelatihan tersebut karena dapat memperkuat peran kader di tengah masyarakat.

Menurutnya, para kader nantinya dapat menjadi perpanjangan tangan tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi dan melakukan skrining awal.

"Kami sangat mengapresiasi kegiatan pengabdian masyarakat dari Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Surabaya pada pagi hari ini. Kegiatan ini difokuskan pada pencegahan kegawatan terhadap penyakit diabetes melitus dan hipertensi," ujarnya.

Efek Konsumsi Daging Tidak Langsung Terasa

Donny menilai waktu pelaksanaan kegiatan sangat tepat karena bertepatan dengan tingginya konsumsi daging pasca Idul Adha.

Ia mengingatkan dampak pola makan tidak sehat biasanya tidak muncul secara instan, melainkan baru terasa beberapa bulan kemudian.

"Kita melihat kemarin hampir seminggu ini setelah momentum Idul Adha, konsumsi daging sedang tinggi. Kalau kita bicara apa yang dikonsumsi, efeknya kan tidak instan, mungkin baru terasa 1 sampai 3 bulan ke depan," katanya.

Karena itu, warga tidak cukup hanya mengurangi porsi makan. Mereka juga perlu mengimbangi dengan aktivitas fisik serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.

"Kita perlu mengimbangi, misalkan dengan olahraga. Kemudian selanjutnya adalah cek kesehatan yang terkait dengan yang kita makan tadi, misalkan kolesterol, diabet, dan hipertensi," tambah Dyah.

Ke depan, hasil pelatihan ini akan diterapkan di masing-masing RW. Saat ada pertemuan warga maupun kegiatan kemasyarakatan, kader dapat melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana di luar agenda rutin Puskesmas.

Sistem Jemput Bola hingga Rumah Warga

Bagi para kader kesehatan, pelatihan ini menjadi bekal penting untuk meningkatkan pelayanan kepada warga.

Salah satunya dirasakan oleh Rini, Koordinator Kelurahan KSH Kedurus, yang selama ini aktif melakukan kunjungan rumah atau KR kepada warga.

Menurut Rini, banyak warga di wilayahnya yang hidup dengan diabetes dan hipertensi. Karena itu, kemampuan mendeteksi dini menjadi kebutuhan yang sangat penting.

"Agenda adanya edukasi ini saya banyak-banyak terima kasih, biar teman-teman lebih bisa mendalami lagi. Soalnya kan kita berinteraksi langsung sama warga," ujarnya.

Ia menjelaskan, sistem jemput bola dilakukan untuk menjangkau warga yang jarang hadir ke Posyandu.

Mulai dari pekerja, remaja sekolah, hingga lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas tetap bisa mendapatkan pemantauan kesehatan.

"Kunjungan ke rumah-rumah, yang enggak pernah datang ke Posyandu kita datangin. Soalnya kan seperti Bapak-bapak atau yang remaja-remaja mereka kan sekolah. Sekolah, ada yang kerja, jadi kita datangin ke rumah," katanya.

Rini juga mengungkapkan salah satu kendala utama yang selama ini dihadapi kader adalah keterbatasan alat pemeriksaan kesehatan.

Setelah pandemi Covid-19, banyak kegiatan pemeriksaan kesehatan rutin yang tidak lagi berjalan optimal karena keterbatasan fasilitas.

Baca Juga: Tips Aman Olah Daging Kurban agar Tidak Sebabkan Hipertensi

"Kita kan terbatas pada alatnya. Katanya itu tadi mau dikasih, alhamdulillah membantu kita, tenan. Soalnya alatnya kan mahal," ungkapnya.

Dengan tambahan pengetahuan dan alat pemeriksaan, para kader diharapkan bisa bergerak lebih cepat saat menemukan warga yang berisiko mengalami komplikasi penyakit.

Mereka dapat segera mengarahkan warga untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut di Puskesmas maupun fasilitas kesehatan terdekat.

Melalui pelatihan ini, upaya pencegahan diabetes dan hipertensi tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan.

Peran masyarakat melalui kader di tingkat lingkungan diharapkan menjadi benteng pertama untuk mendeteksi risiko penyakit lebih awal, terutama setelah masa konsumsi makanan tinggi lemak dan gula selama perayaan Idul Adha.

EDITOR: Edy Pramana