← Beranda
Bibit Pesepak Bola Putri Surabaya Bermunculan, PSSI Jatim Dorong Pembinaan Berkelanjutan
Juliana ChristySenin, 18 Mei 2026 | 05.31 WIB
Euforia juara mewarnai penutupan MilkLife Soccer Challenge Seri 2 Surabaya 2025-2026 di Lapangan Jala Krida Mandala, Minggu (17/5). (Juliana Christy/Jawa Pos)

 

 

Euforia juara mewarnai penutupan MilkLife Soccer Challenge Seri 2 Surabaya 2025-2026 di Lapangan Jala Krida Mandala, Minggu (17/5). (Juliana Christy/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Bibit-bibit pesepak bola putri bermunculan di Surabaya. Hal itu salah satunya terlihat dalam gelaran MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 2 Surabaya yang mempertemukan pemain-pemain kelompok umur (KU)-10 dan KU-12 di Lapangan Jala Krida Mandala, Minggu (17/5).

Pada partai final, dua tim keluar sebagai juara baru. SDN Pacarkeling V/186 B menjadi kampiun KU-12 setelah menang dramatis atas SDN Manukan Kulon lewat adu penalti dengan skor 6-5, usai bermain imbang 1-1 di waktu normal. Sementara gelar juara KU-10 diraih SDN Manukan Kulon setelah menundukkan SDN Dr Sutomo V/327, juga melalui adu penalti.

Laga final KU 12 berlangsung ketat sejak awal. SDN Manukan Kulon sempat unggul cepat lewat gol kapten tim Emily Zitara pada menit kelima. Namun SDN Pacarkeling V/186 B mampu bangkit melalui gol Locita Waranggaini Olah Nismara di babak kedua.

Hingga waktu normal berakhir, skor tetap imbang 1-1 dan pertandingan dilanjutkan ke babak adu penalti. Kedua tim kembali sama kuat hingga skor 5-5 sebelum penentuan dilakukan lewat coin toss sesuai regulasi pertandingan. SDN Pacarkeling V/186 B akhirnya memastikan kemenangan melalui eksekusi Darleine Maryam Khairunisa. Pemain SDN Pacarkeling V/186 B, Locita Waranggaini Olah Nismara, juga terpilih sebagai Best Player kategori KU 12 berkat penampilan impresif sepanjang turnamen.

Di balik sengitnya pertandingan final, Asprov PSSI Jawa Timur menilai kompetisi tersebut menjadi langkah positif untuk memperkuat pembinaan sepak bola putri usia dini di Jawa Timur.

Perwakilan Asprov PSSI Jawa Timur Arief Anton Sujarwo mengatakan, MLSC menjadi ruang penting bagi atlet-atlet putri untuk berkembang melalui kompetisi yang rutin dan berkelanjutan. “Dari sisi kompetisinya ini suatu langkah besar, karena atlet-atlet putri sudah memiliki jalur pembinaan yang nantinya berdampak baik terhadap sepak bola Jawa Timur, khususnya sepak bola wanita,” katanya usai penutupan turnamen.

Menurut Arief, perkembangan kompetisi sepak bola putri mulai terlihat dari meningkatnya jumlah peserta di kelompok umur 10 tahun dibanding tahun sebelumnya. Ia berharap pembinaan juga diimbangi peningkatan kualitas pelatih agar perkembangan sepak bola putri semakin merata. “Kalau pelatihnya bagus dan merata, tentunya sekolah-sekolah sepak bola khusus wanita itu akan semakin berkembang,” ujarnya.

Sementara itu, Head Coach MLSC Jackson F Tiago mengatakan pihaknya akan kembali menyeleksi pemain-pemain terbaik hasil seri pertama dan kedua untuk memperkuat tim All Star Surabaya yang dijadwalkan tampil di Kudus pada 21 Juni mendatang. “Besok ada beberapa anak yang sudah lolos di seri pertama dan seri kedua. Nanti kami latihan bersama lagi untuk melihat 16 pemain terbaik yang akan mewakili All Star Surabaya di Kudus,” katanya.

Jackson menilai, karakter pemain putri Surabaya menjadi salah satu hal paling menonjol sepanjang turnamen berlangsung. “Kita punya Surabaya itu wani. Benturan atau apa, mereka tetap bertanding. Tidak ada yang cengeng,” ucapnya.

Ia menegaskan, MLSC tidak sekadar mencari tim juara. Fokus utama turnamen adalah membangun ekosistem sepak bola putri sekaligus menemukan individu-individu potensial yang bisa berkembang hingga level nasional.

Baca Juga: Banjarmasin Antusias, Sinyal Positif Kebangkitan Sepak Bola Putri

Baca Juga: Jacksen Siapkan Latihan Intensif, 642 Siswi Ramaikan MLSC Samarinda Jadi Angin Segar bagi Sepak Bola Putri 

’’Mau juara atau tidak juara itu tidak penting buat kami. Kami mencari individu-individu yang menonjol dan punya potensi untuk jadi bagian dari tim nasional Indonesia suatu hari nanti,” tandasnya. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan