← Beranda
Dinkes Surabaya Sebut Korban Keracunan MBG Capai 210 Orang, Mayoritas Siswa
Novia HerawatiJumat, 15 Mei 2026 | 00.55 WIB
SPPG Tembok Dukuh siap menanggung biaya pengobatan korban dugaan keracunan setelah menyantap menu MBG, Senin (11/5). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya mencatat sebanyak 210 orang menjadi korban keracunan setelah menyantap makanan MBG yang didistribusikan SPPG Tembok Dukuh pada Senin (11/5) lalu.

Menu MBG hari itu adalah nasi putih, lauk daging krengsengan berbumbu kecokelatan, tahu goreng, tumis sayur berisi kacang panjang dan irisan wortel, serta potongan jeruk. Semuanya diletakkan dalam ompreng stainless.

"Kesimpulan sementara, kasus dugaan keracunan pangan akibat MBG terdampak pada 210 korban," tutur Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Billy Daniel Messakh dalam rapat hearing DPRD, Rabu (13/5) kemarin.

Rata-rata dari korban mengaku mengalami gejala mual, pusing, hingga diare setelah menyantap MBG dengan menu utama daging krengsengan, yang dibagikan SPPG Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya.

Baca Juga: Kasus Keracunan MBG: SPPG Tembok Dukuh Surabaya Ternyata Tak Kantongi Sertifikat Laik Higiene

Korban keracunan dilarikan ke beberapa fasilitas kesehatan, seperti Rumah Sakit Ibu dan Anak Ikatan Bidan Indonesia (RSIA IBI) Surabaya, RS William Booth, Faskes Kimia Farma dr. Sri Hawati, dan sejumlah puskesmas.

Di RSIA IBI Surabaya, sebanyak 135 pasien terdampak dugaan keracunan MBG menjalani penanganan medis. Rinciannya, 128 pasien menjalani rawat jalan dan tujuh pasien lainnya dirawat inap.

Dari total pasien di RSIA IBI Surabaya: 127 orang merupakan siswa, 7 guru, dan 1 wali murid. Sementata di RS William Booth menangani 1 pasien rawat inap dan di Faskes Kimia Farma dr. Sri Hawati menangani 1 pasien rawat jalan.

Kemudian di beberapa puskesmas, PKM Asemrowo menerima 8 pasien (7 rawat jalan dan 1 dirujuk ke RSIA IBI Surabaya), PKM Gundih menangani 4 pasien rawat jalan, dan PKM Tembok Dukuh menerima 62 pasien rawat jalan.

"Dari total tersebut, 202 pasien mengalami gejala ringan dan 8 pasien mengalami gejala sedang," imbuh dokter Billy yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama RSUD dr. Mohamad Soewandhie Surabaya.

Baca Juga: Waduh! Dinkes Surabaya Temukan Lalat hingga Lubang Tikus di Dapur SPPG Tembok Dukuh 

Klarifikasi SPPG Tembok Dukuh, Klaim Olah Makanan Sesuai Prosedur

Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla menyampaikan permohonan maaf atas insiden keracunan yang diduga terjadi setelah ratusan korban menyantap menu MBG dari dapurnya.

"Kami mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak yang terdampak, kepada siswa dan guru yang keracunan makanan kita. Dari kami akan bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan," ujar Chafi.

Kendati demikian, Chafi menegaskan bahwa bahan makanan yang dipakai dalam kondisi segar. Proses pengolahan hingga penyajian dalam ompreng MBG juga sudah dilakukan sesuai prosedur BGN yang berlaku.

"Dagingnya nggak basi, karena saat kita terima dagingnya sudah bagus. Memang daging itu kan bahan yang sangat riskan banget gitu. Bumbunya pun sudah sesuai sama resep dan standar masaknya begitu," tegasnya.

Pada Senin (11/5), Chafi menyatakan bahwa dapur MBG yang dipimpinnya telah beroperasi sejak Februari 2026 dan mengantongi izin dan sertifikasi lengkap yang disyaratkan Badan Gizi Nasional (BGN).

Namun dua hari berlalu. Rabu (13/5), Chafi membuat pengakuan mengejutkan bahwa dapur MBG tersebut belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Ia pun menyampaikan permohonan maaf.

"Saya Chafi di sini mau meminta maaf karena kemarin itu mungkin kesalahpahaman dari saya, saya mengiranya untuk segala proses yang saya pahami adalah dari proses pendaftaran gitu," tuturnya.

"Tetapi memang kita sedang proses dan ada beberapa sertifikat seperti SLHS yang masih belum saya kantongi, tinggal satu step terakhir sebenarnya seperti itu, tnggal verifikasi saja (Dinkes Surabaya)," dalih Chafi.

Atas insiden ini, operasional dapur MBG di SPPG Tembok Dukuh dihentikan sementara waktu. Penghentian dilakukan sambil menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan dari BBLK Surabaya keluar. 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra