JawaPos.com - Kasus keracunan massal usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan SPPG Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya pada Senin (11/5) kemarin, menjadi perhatian.
Sedikitnya 210 orang yang terdiri dari siswa tingkat TK-SMP, guru, dan wali murid dilaporkan menjadi korban keracunan program MBG. Rata-rata dari mereka mengalami gejala seperti pusing, mual, hingga diare.
Di tengah proses penanganan kasus tersebut, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kota Surabaya, Kusmayanti, mengakui adanya kesalahan penerapan SOP dalam mengolah paket MBG di SPPG tersebut.
Hal ini disampaikan dalam hearing di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Surabaya pada Rabu (13/5). Agenda ini turut dihadiri Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI, Natalius Pigai, SPPG, sekolah, Pemda, dan pihak-pihak terkait.
“Penerapan pada SOP yang ditentukan BGN itu sudah baik, namun di SPPG terjadi kesalahan penerapan. Di antaranya pengawas gizi tidak ada di tempat saat bahan baku datang,” tutur Kusmayanti.
Kondisi tersebut membuat pihaknya belum dapat memastikan penyebab terjadinya keracunan massal, apakah berasal dari kualitas bahan baku sejak awal atau terjadi pada proses pengolahan.
Selain itu, proses uji laboratorium terkendala karena sampel makanan tidak utuh. Hanya daging yang bisa diperiksa, sementara sampel lain rusak setelah sebagian diambil pihak kepolisian.
Kusmayanti mengatakan pihaknya masih menunggu hasil laboratorium dan penyelesaian BAP seluruh petugas sebelum dapat menarik kesimpulan akhir mengenai penyebab pasti insiden tersebut.
“Dengan segala kerendahan hati kami memohon maaf. Ini menjadi catatan bagi kami untuk jauh lebih waspada dan lebih hati-hati dalam penerapan SOP (pengolahan paket makanan MBG)," pungkasnya.
Hingga kini, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan sampel klinis pasien. Dinas Kesehatan Kota Surabaya menyebut hasil lab diperkirakan keluar 5 -7 hari.
Klarifikasi SPPG Tembok Dukuh, Klaim Olah Makanan sesuai Prosedur
Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla menyampaikan permohonan maaf atas insiden keracunan yang diduga terjadi setelah ratusan korban menyantap menu MBG dari dapurnya.
"Kami mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak yang terdampak, kepada siswa dan guru yang keracunan makanan kita. Dari kami akan bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan," ujar Chafi.
Kendati demikian, Chafi menegaskan bahwa bahan makanan yang dipakai dalam kondisi segar. Proses pengolahan hingga penyajian dalam ompreng MBG juga sudah dilakukan sesuai prosedur BGN yang berlaku.
"Dagingnya nggak basi, karena saat kita terima dagingnya sudah bagus. Memang daging itu kan bahan yang sangat riskan banget gitu. Bumbunya pun sudah sesuai sama resep dan standar masaknya begitu," tegasnya.
Atas insiden ini, operasional dapur MBG di SPPG Tembok Dukuh dihentikan sementara waktu. Penghentian dilakukan sambil menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan dari BBLK Surabaya keluar. (Ashifatun Nurin Nadiyah)