JawaPos.com–Lebih dari satu bulan perang di timur tengah berlangsung. Kini para pegiat UMKM di Kota Pudak mulai merasakan dampaknya. Tingginya biaya transport membuat kapasitas ekspor menurun drastis.
Shubkhi Basyar, pelaku UMKM eksportir Kabupaten Gresik mengatakan bahwa perang antara Amerika dan Iran tidak menyebabkan dampak langsung. Terbukti saat awal-awal perang, ekspor sekam bakar dan pakan ternak tetap berjalan normal.
Namun pasca ketegangan yang terjadi di selat Hormuz, Shubkhi baru merasakan dampaknya. ”Ke Korea Selatan ini masih bisa kirim 50 ton. Biasanya 100 ton lebih,” ucap dia.
Baca Juga: Mengaku Jadi Korban SK Palsu, Pegawai DPMD Gresik Tak Kunjung Lapor Polisi
Penurunan orderan itu disebabkan karena buyer menunda pesanan. Sebab biaya pengiriman mengalami kenaikan signifikan.
”Ini agak lesu, semua lini terkena. Terutama transportasi yang berakibat pada ekspor impor,” ujar Shubkhi.
Dia pun tidak bisa berbuat banyak. Sebab dari segi permintaan mengalami penurunan. Sehingga mau tidak mau Shubkhi hanya bisa menunggu ketegangan di Selat Hormuz mereda.
Baca Juga: Harga Plastik Naik, Puskesmas di Gresik Tak Lagi Gunakan Bungkus untuk Obat
”Tidak bisa apa-apa. Ini menyuplai orderan di bulan ini saja,” terang Shubkhi.
Sementara itu, dilansir dari Antara, Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan negosiasi masih berjalan terkait kepentingan Indonesia di Selat Hormuz, dengan situasi menjadi kompleks karena situasi internal dalam negeri di Iran.
Sugiono menyampaikan, Kementerian Luar Negeri lewat Kedutaan Besar RI di Tehran terus melakukan pembicaraan untuk meloloskan dua kapal Pertamina yang mengangkut dua juta barel minyak mentah.
”Permasalahannya menjadi semakin kompleks dengan situasi internal yang terjadi di Iran sendiri. Karena kadang-kadang apa yang menjadi policy dari atas itu tidak serta-merta bisa diimplementasikan di lapangannya. Itu yang sedang dicari penyelesaiannya seperti apa,” ujar Menlu Sugiono.
Tidak hanya itu, terdapat juga perkembangan terkait dengan syarat untuk dapat melintasi Selat Hormuz yang masih dinegosiasikan serta pertemuan diinisiasi Inggris dan Prancis dengan lebih 20 negara pekan ini untuk mengembangkan strategi terkoordinasi guna membuka kembali Selat Hormuz yang sangat vital untuk pelayaran.
”Jadi, saya mewakili Presiden hadir secara daring di rapat tersebut. Yang intinya, pertama bahwa negara-negara yang ikut di dalam konferensi tersebut menolak segala jenis pemungutan fee atau tol yang bagi kapal-kapal yang lewat di Hormuz. Karena hal tersebut bertentangan dengan apa yang dikenal dengan freedom of navigation,” ungkap Sugiono.
Baca Juga: Cegah Penipuan Rekrutmen Pegawai, Dewan Beri Rekomendasi Pendataan Semua ASN Gresik
Di sisi lain, negara peserta juga mendukung berbagai upaya diplomatis dan negosiasi politik untuk menyelesaikan ketegangan di Selat Hormuz. Terdapat juga rencana untuk menempatkan proteksi terhadap kapal-kapal yang melalui Selat Hormuz yang sesuai dengan hukum internasional atau melalui mandat dari PBB.
”Tapi, tentu saja ini masih dalam pembicaraan yang lebih lanjut,” tambah Sugiono.