← Beranda
Andalkan Jam Malam Anak, Kenakalan Remaja di Surabaya Turun Signifikan hingga 80 Persen
Novia Herawati• Selasa, 21 April 2026 | 17.41 WIB
Ilustrasi pembinaan remaja yang terjaring razia. Kenakalan remaja di Surabaya turun signifikan hingga 80 persen. (Humas Pemkot Surabaya)

JawaPos.com - Kebijakan penerapan jam malam anak mulai menunjukan hasil. Dalam setahun terakhir, jumlah kasus kenakalan remaja di Kota Surabaya mengalami penurunan hingga 80 persen. 

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya, Ida Widayati, menyebut tren kenakalan remaja mengalami penurunan drastis.

Berdasarkan data hasil kolaborasi dengan Satpol PP, jumlah kasus yang ditangani pada tahun lalu tercatat lebih dari 450 kasus. Sementara pada tahun ini, jumlahnya turun jauh hingga berada di bawah 100 kasus.

Baca Juga: Simak jadwal Waktu Shalat untuk Wilayah Kota Bandung Besok Rabu, 22 April 2026

“Alhamdulillah ada penurunan yang cukup signifikan (pada kasus kenakalan remaja di Surabaya), terutama sejak diberlakukannya kebijakan jam malam bagi anak-anak,” tutur Ida pada Selasa (21/4). 

Penurutnya, kebijakan jam malam menjadi salah satu faktor penting dalam menekan potensi kenakalan remaja. Namun, perubahan pendekatan dalam penanganan juga menjadi kunci utama keberhasilan ini. 

Jika sebelumnya anak-anak yang terjaring hanya menjalani konseling singkat di markas Satpol PP sebelum dipulangkan ke orang tuanya, kini Pemkot Surabaya menerapkan model pembinaan yang lebih intensif.

“Kami ubah polanya. Tidak hanya konseling singkat, tetapi ada edukasi. Anak-anak kami berikan pemahaman tentang dampak kriminalitas, bahaya narkoba bagi kesehatan, hingga wawasan kebangsaan,” imbuhnya.

Baca Juga: 15 Tahun Memimpin, Tim Cook Umumkan Mundur dari CEO Apple, Siapakah Penggantinya?

Menurut Ida, remaja yang terlibat minuman keras, tawuran, maupun geng motor kini tidak langsung dipulangkan, melainkan dibina terlebih dahulu di Rumah Aman agar mendapat pendampingan lebih menyeluruh.

Program pembinaan berlangsung selama 7 hingga 14 hari. Selama periode itu, anak-anak tidak hanya mendapatkan pendampingan psikologis, tetapi juga tetap difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan. 

“Program ini telah berjalan sejak pertengahan tahun lalu (2025) dan secara bertahap menunjukkan dampak positif. Jumlah anak yang harus menjalani pembinaan di rumah aman kini semakin berkurang," tutur Ida.

Ia optimistis penerapan jam malam dan pembinaan menyeluruh dapat menjaga tren penurunan kenakalan remaja di Surabaya, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi tumbuh kembang generasi muda.

“Kami berharap anak muda bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang positif, karena perilaku negatif tidak hanya berdampak secara sosial, tetapi juga memengaruhi psikologis dan masa depan mereka,” tukasnya.

EDITOR: Bintang Pradewo