← Beranda
ITS Ubah Sawit Jadi Bensin Ramah Lingkungan, Begini Cara Kerjanya
Novia HerawatiJumat, 10 April 2026 | 02.23 WIB
Cara kerja bensin kelapa sawit karya peneliti Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS. (Humas ITS)

 

JawaPos.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memperkenalkan BBM ramah lingkungan dari kelapa sawit. Inovasi ini diharapkan menjadi alternatif dalam menghadapi krisis energi global.

Dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Hosta Ardhyananta selaku ketua peneliti mengatakan fokus inovasi adalah mengurangi residu yang dihasilkan dari proses produksi BBM fosil.

“Fokus dari inovasi kami adalah bagaimana mengonversi minyak mentah dari kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan,” ucap Hosta di Surabaya pada Kamis (9/4).

Pakar bidang polimer, komposit, dan nanomaterial ini menjelaskan Bensin Sawit atau Benwit dibuat dengan metode catalytic cracking, yaitu teknik yang memecah molekul berukuran besar menjadi lebih kecil dengan katalis.

Baca Juga: Kembangkan Ekosistem Hidrogen di Asia Tenggara, PLN IP Benchmarking dengan EVN dari Vietnam

Proses awal memakai katalis berbasis alumina (γ-Al₂O₃) sebagai “gunting molekuler”. Katalis tersebut berfungsi mengurai trigliserida dalam Crude Palm Oil (CPO) menjadi fraksi hidrokarbon ringan.

Metode ini menghasilkan konversi biogasoline sekitar 60 persen, namun memerlukan suhu tinggi hingga 420° Celsius. Selanjutnya, digunakan katalis bimetalik nikel oksida dan tembaga oksida dengan komposisi seimbang.

konversi biogasoline sekitar 60 persen, tetapi membutuhkan suhu tinggi hingga 420° Celsius. Selanjutnya dilakukan dengan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) dengan komposisi seimbang.

Katalis NiO memutus rantai karbon, sedangkan CuO menghilangkan oksigen. Kombinasi ini menurunkan suhu operasi menjadi 380° Celsius dan meningkatkan rendemen biogasoline hingga 83 persen, membuat proses reaksi lebih efisien.

Bensin nabati yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek C5 - C11, yakni komponen utama bensin komersial. Sementara gas hasil sampingnya dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar untuk memanaskan reaktor.

“Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor (alternatif), sehingga mendukung konsep produksi minim limbah," bebernya.

Hosta menyebut riset ini juga memperhitungkan life cycle assessment (LCA) untuk memastikan prinsip terbarukan dan berkelanjutan. Produksi biogasoline dari CPO memiliki jejak karbon sangat rendah.

Baca Juga: IU Lakukan Hal ini Untuk Memutus Rumor Perseteruan 9 Tahun dengan Lee Hyori

Sistem zero-emission yang dikembangkan tim ITS mendukung Sustainable Development Goals, khususnya poin 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta poin 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

"Rancangan inovasi ini didedikasikan khusus untuk kemandirian teknologi Indonesia dalam produksi bensin, sehingga nilai jual kepada masyarakat bisa ditekan. Semoga inovasi ini bisa terus dikembangkan," pungkas Hosta. 

EDITOR: Sabik Aji Taufan