← Beranda
Harga Plastik Naik Hingga 60 Persen, UMKM di Surabaya Diminta Berinovasi Kemasan
Novia HerawatiRabu, 8 April 2026 | 21.26 WIB
Ilustrasi kantong plastik yang kini mengalami kenaikan signifikan akibat konflik di Timur Tengah. (Dokumentasi Jawa Pos Group)

JawaPos.com - Konflik di Timur Tengah hingga penutupan Selat Hormuz memicu gangguan distribusi petrokimia dunia. Akibatnya, harga komoditas plastik mengalami kenaikan tajam dalam waktu singkat.

Lonjakan harga plastik di pasaran bahkan mencapai 60 persen. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, mengingat plastik masih banyak digunakan masyarakat sebagai kemasan ekonomis.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan sejumlah strategi agar para pelaku UMKM bisa menjaga stabilitas produksi dan kenaikan harga plastik tak berdampak signifikan pada harga sembako.

Baca Juga: Tanpa Banyak Sorotan, 6 Zodiak Ini Justru Paling Beruntung di April 2026

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, menyatakan kenaikan harga plastik saat ini dipengaruhi oleh dinamika global.

"Memang kenaikan harga plastik sekarang ini cukup signifikan ya, sekitar 30 sampai 60 persen. Jadi memang dipacu pasokan global dan harga energi di dunia yang tidak bisa kita hindari," ujar Mia, Rabu (8/4).

Ia tak menampik bahwa kenaikan harga plastik berdampak langsung pada pelaku usaha, terutama pada biaya produksi. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga jual jika tidak diantisipasi dengan inovasi.

"Memang terasa dengan perubahan atau kenaikan harga plastik ini, tetapi kita melakukan pendampingan UKM, misalnya dengan inovasi kemasan, karena pasti akan berpengaruh dengan harga biaya produksi," imbuhnya.

Mia menyebut keluhan dari pelaku usaha terkait kenaikan harga plastik belum terlalu banyak. Meski begitu, Pemkot mendorong pelaku UMKM Surabaya untuk beralih ke alternatif kemasan non-plastik yang ramah lingkungan.

"Keluhan belum banyak, tetapi kita tetap antisipasi karena kan tidak tahu perkembangan ke depan. Kita dorong inovasi kemasan di UMKM supaya tidak lagi plastik, sehingga menekan biaya produksinya," tegas Mia.

Selain mendorong penggunaan kemasan alternatif, Dinkopumdag Surabaya menilai penyesuaian pola distribusi dan penjualan bisa jadi solusi jangka pendek, seperti menjual dalam jumlah besar untuk mengurangi plastik kecil.

"Jadi kalau terkait dengan perdagangan pada umumnya ya mungkin kuantitas jual itu tidak lagi dikemas kecil-kecil. Tapi yang memang paling signifikan itu perubahan kemasan yang harus mulai dilakukan," terangnya.

Dari sisi pengawasan, Mia menyebut Dinkopumdag Surabaya telah melakukan pengecekan di berbagai toko dan pasar. Hasilnya menunjukkan adanya kenaikan harga plastik yang mulai dirasakan di tingkat distribusi.

Untuk menekan harga, Pemkot Surabaya menjalin komunikasi langsung dengan distributor guna mempersingkat rantai pasok. Langkah ini diharapkan membuat harga lebih kompetitif bagi pelaku usaha dan UMKM.

"Dinkopumdag Surabaya sudah melakukan beberapa langkah antisipasi, monitoring harga dan ketersediaan secara rutin. Kita berusaha agar harga tidak naik dan daya beli masyarakat tidak menurun," pungkas Mia. (*)

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah