JawaPos.com — Memasuki H+2 Lebaran Idulfitri 1447 H, gelombang arus balik mulai terasa di berbagai ruas jalan Kabupaten Gresik. Di tengah padatnya perjalanan pulang, satu tradisi tetap tak tergantikan: berburu oleh-oleh khas untuk dibawa pulang.
Bagi pemudik maupun wisatawan yang meninggalkan Kota Pudak, membawa buah tangan bukan sekadar kebiasaan. Lebih dari itu, oleh-oleh menjadi cara sederhana menyimpan kenangan rasa dari perjalanan Lebaran.
Gresik dikenal bukan hanya sebagai kota industri, tetapi juga gudangnya kuliner tradisional yang bertahan lintas generasi. Ragam jajanan khasnya punya cita rasa unik yang sulit ditemukan di daerah lain.
Baca Juga: Geger! Mayat Perempuan Berdaster Merah Ditemukan di Sawah Pasuruan, Identitas Masih Misterius
Pudak masih menjadi ikon kuliner yang tak tergoyahkan di Gresik hingga hari ini. Terbuat dari tepung beras, gula, dan santan, jajanan ini dibungkus pelepah pinang atau ope yang memberi aroma khas menggoda.
Rasa manis legit berpadu dengan tekstur lembut membuat pudak selalu jadi incaran utama pemudik.
Tak heran jika deretan toko di sepanjang Jalan Sindujoyo, Desa Pulopancikan, hingga Jalan Veteran selalu ramai pembeli sejak pagi.
Beberapa nama legendaris seperti Pudak Galaksi dan Pudak Cap Kuda tetap jadi pilihan favorit. Banyak pemudik rela antre demi mendapatkan pudak hangat yang baru saja diangkat dari kukusan.
Selain pudak, otak-otak bandeng juga menjadi oleh-oleh khas yang tak kalah populer. Berbeda dari daerah lain, olahan ini menggunakan ikan bandeng yang dibumbui rempah kuat lalu dimasukkan kembali ke kulitnya sebelum dibakar.
Sensasi gurih tanpa duri menjadi daya tarik utama makanan ini. Aroma bakaran yang khas membuat siapa pun sulit menolak untuk mencicipinya.
Kawasan Pasar Gresik, Jalan Sindujoyo, hingga sekitar Alun-alun Gresik menjadi pusat perburuan otak-otak bandeng. Salah satu yang cukup dikenal adalah olahan dari Bu Muzanah yang kerap diburu pembeli.
Tak lengkap rasanya jika pulang tanpa membawa jubung dan ayas sebagai pelengkap. Dua camilan manis ini sering hadir dalam satu paket dan menjadi teman setia pudak.
Jubung dibuat dari ketan hitam yang ditaburi wijen, menghasilkan rasa legit dengan sentuhan gurih. Sementara ayas memiliki tekstur kenyal mirip moci dengan warna-warni cerah yang menggoda mata.
Keduanya mudah ditemukan di toko oleh-oleh sepanjang Jalan Sindujoyo dan kawasan Jalan Veteran. Banyak pembeli memilih paket lengkap karena lebih praktis dan ekonomis.
Sebagai kota pesisir, Gresik juga punya kekayaan olahan laut yang tak boleh dilewatkan. Salah satunya adalah kerupuk ikan payus dan ikan kenjer yang terkenal renyah dan gurih.
Rasa laut yang kuat menjadi ciri khas kerupuk ini. Banyak pemudik membelinya dalam jumlah besar untuk stok camilan di rumah.
Sentra kerupuk di Desa Sidorukun menjadi lokasi favorit untuk berburu produk ini. Selain itu, pusat oleh-oleh di Jalan Sindujoyo juga menyediakan berbagai varian kerupuk siap bawa.
Bagi pecinta kopi, Gresik menawarkan sensasi berbeda lewat kopi kasar khasnya. Tekstur bubuk yang tidak terlalu halus memberikan pengalaman unik saat diseruput.
Sensasi “kemeruntus” menjadi ciri khas yang justru dicari penikmat kopi tradisional. Rasanya kuat dan cocok dinikmati saat kembali beraktivitas setelah libur panjang.
Kopi ini bisa ditemukan di Pasar Kota Gresik maupun kedai-kedai kopi legendaris di kawasan Bandar Grissee. Banyak pembeli menjadikannya oleh-oleh sekaligus stok pribadi di rumah.
Namun, tingginya permintaan selama musim Lebaran membuat beberapa produk cepat habis. Terutama pudak dan otak-otak bandeng yang biasanya sudah ludes sebelum siang hari.
Pemudik disarankan datang lebih pagi, sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 WIB. Alternatif lainnya adalah melakukan pemesanan sehari sebelumnya agar tidak kehabisan.
Selain waktu, kemasan juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Terutama untuk makanan basah seperti pudak dan otak-otak yang harus tertutup rapat.
Hal ini penting agar kualitas makanan tetap terjaga selama perjalanan panjang. Apalagi jika waktu tempuh lebih dari 12 jam, kondisi kemasan sangat menentukan ketahanan produk.
Berburu oleh-oleh di Gresik bukan sekadar membeli makanan. Ada cerita, tradisi, dan rasa yang ikut dibawa pulang dalam setiap bungkusnya.
Di tengah padatnya arus balik, oleh-oleh khas ini menjadi pengingat hangat tentang perjalanan Lebaran. Sekaligus bukti Gresik selalu punya cara untuk dirindukan.