JawaPos.com - Nama Syahlendra Haical sempat menjadi perbincangan hangat baru-baru ini. Santri 13 tahun itu selamat dari maut dalam tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo pada Senin (29/10).
Kurang lebih 48 jam santri asal Probolinggo itu bertahan di bawah reruntuhan bangunan yang gelap, penuh debu dan benda tajam. Momen penyelamatan Haical pun cukup dramatis dan viral di media sosial.
Haical berhasil dievakuasi oleh Tim SAR gabungan pada hari ketiga, yakni Rabu (1/10) bersama dengan satu orang temannya bernama Rafi Catur Okta Mulya, 17 tahun, santri asal Surabaya. Nahas, nyawa Rafi tak tertolong.
Setelah berhasil dievakuasi, Haical langsung dilarikan ke RSUD Notopuro Sidoarjo untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, kondisi Haikal kritis akibat infeksi yang berkembang pesat di tubuhnya.
Infeksi tersebut menyebabkas nekrosis pada tulang kaki sebelah kiri, pembuntuan aliran darah, hingga memengaruhi fungsi ginjal dan liver. Dengan berat hati, dokter dan keluarga sepakat untuk melakukan operasi amputasi.
Pada Sabtu dini hari (4/10), dokter melakukan operasi amputasi bagian kaki kiri Haical untuk menghentikan infeksi yang semakin menjalar. Bukan pilihan yang mudah, namun ini demi menyelamatkan nyawa.
"Kami khawatir terjadi infeksi sistemik yang mengancam nyawa. Akhirnya pada Jumat magrib, keluarga menyetujui amputasi," ujar Direktur RSUD Notopuro, Atok Irawan, Sabtu (11/10).
Kini, kondisi Haikal berangsur membaik. Meskipun fungsi ginjalnya masih harus dipantau secara ketat. Atok menyebut Haikal menjadi satu satunya korban Ponpes Al Khoziny yang masih dirawat di RSUD Notopuro.
“Kita merawat pasien tinggal Haical saja, yang lain sudah pulang, karena fungsi ginjalnya (Haical) belum stabil. Tekanan darah di kaki lebih tinggi dari lengan. Tim dokter multidisiplin terus mengobservasi,” imbuhnya.
Atas permintaan keluarga, Haical dirawat di ruang HCU (High Care Unit) RSUD Notopuro, guna meminimalkan gangguan dari tamu yang datang dan menjaga stabilitas emosional pasien Haical.
Secara terpisah, dokter spesialis ortopedi dan traumatologi RSUD Notopuro Sidoarjo, dokter Larona Hydravianto yang juga menangani Haical, menyampaikan kondisi pasien kini menunjukkan perkembangan yang baik.
“Kondisi Haikal baik sampai saat ini. Progresnya makin baik. Kami belum bisa pastikan karena ada hal yang masih butuh observasi. Bila semua baik, InsyaAllah pekan depan kemungkinan bisa pulang," pungkas Larona.
Kronologi Singkat
Bangunan empat lantai yang difungsikan sebagai musala di area Pondok Pesantren Al Khoziny, tiba-tiba ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB.
Insiden tragis ini terjadi saat para santri sedang melakukan Salat Asar berjamaah pada rakaat kedua. Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam reruntuhan bangunan. Polisi menyebut dugaan awal karena kegagalan konstruksi.
Setelah 9 hari berjibaku mengevakuasi korban yang tertimbun reruntuhan, kegiatan operasi SAR resmi ditutup pada Selasa (7/10) pukul 10.00 WIB.
Data terakhir, korban dalam bencana non alam ini mencapai 171 orang, dengan rincian 104 korban selamat dan 67 kantong jenazah korban, termasuk 8 body part.
Hingga kini, proses identifikasi jenazah korban masih dilakukan oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) di RS Bhayangkara. Dari puluhan korban meninggal dunia, 51 orang berhasil teridentifikasi.