← Beranda
Kasus Stunting Turun Signifikan Selama 3 Tahun, Dinkes Surabaya Ungkap Pola Pencegahan dan Penanganannya
Dayinta Kadya Palupi• Selasa, 13 Februari 2024 | 22.35 WIB
Pencegahan dan penanganan kasus stunting di Surabaya turun secara signifikan (Sumber: Pemkot Surabaya)

JawaPos.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ungkap kasus stunting di Kota Surabaya turun signifikan selama 3 tahun terakhir.

Kepala Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Sri Lestari ungkap pola pencegahan dan penanganannya.

Penurunan kasus stunting secara signifikan di Surabaya ini dipaparkan dalam laman Pemkot Surabaya yang penurunannya hingga tinggal 279 kasus di akhir tahun 2023.

Sri Lestari menuturkan penanganan kasus stunting di Surabaya dilakukan secara holistik mulai dari hulu ke hilir.

Salah satu penanganan intervensi yang dilakukan dari usai remaja yakni dengan memberikan Tablet Tambah Darah (TTD).

"Kita sudah mengintervensi stunting dari hulu ke hilir. Jadi dari remaja sudah kita intervensi, kita berikan TTD (Tablet Tambah Darah), salah satu intervensi mencegah stunting," kata Sri Lestari, Senin (12/2).

Pemberian TTD pada remaja diperlukan karena pada saat menjadi Calon Pengantin (Catin), gizinya sudah membaik.

Bahkan pendampingan dan intervensi yang dilakukan Pemkot akan semakin masif ketika remaja tersebut menjadi calon pengantin.

"Jadi mulai remaja kita perbaiki (gizinya), kita berikan TTD. Kemudian lanjut saat menjadi calon pengantin, itu sudah betul-betul kita damping,” ungkap Sri Lestari.

Tidak hanya itu, Sri Lestari juga menambahkan pihaknya juga memberikan Multiple Micronutrient Supplement (MMS) pada Catin.

“Kita berikan juga intervensi MMS (Multiple Micronutrient Supplement)," tambah Kepala Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Surabaya.

Dinas Kesehatan Surabaya melalui Puskesmas juga melakukan pemeriksaan rutin kepada pasangan Catin untuk memastikan kesehatan setiap pasangan calon pengantin.

Pemeriksaan untuk para calon pengantin tidak hanya difokuskan dari segi kesehatan, namun juga diperiksa status gizi Kekurangan Energi Kronis (KEK).

"Jadi, kita harapkan di Catin selama 3 bulan sebelum dia menikah, itu betul-betul dipersiapkan kondisi tubuhnya sehat," ungkap Sri Lestari.

Selain itu, dalam pencegahan dan penanganan stunting, Dinkes Surabaya melakukan Pemberian Makanan Tambahan (PMK) bagi ibu hamil yang mengalami KEK.

"Sehingga pada saat dia mengandung, itu dalam keadaan sehat. Sehingga anaknya nanti jauh dari rawan stunting, kita harapkan seperti itu," tambah Sri.

Menurut Sri Lestari, Bayi yang baru lahir berat badannya kurang dari 2,5kilogram atau tinggi kurang dari 48 sentimeter akan berpotensi rawan terkena stunting.

Jika terjadi kasus seperti itu, makan Pemkot Surabaya akan fokus terhadap perbaikan gizi balita tersebut melalui Pemberian Makanan Tambahan.

Tidak hanya hal tersebut, Pemkot Surabaya juga memberikan intervensi untuk kesiapan orang tuanya melalui Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH).

Dari data Pemkot Surabaya, pada tahun 2021, prevalensi atau jumlah keseluruhan kasus stunting di Surabaya mencapai 6.722 kasus.

Namun jumlah tersebut turun menjadi 923 kasus di awal tahun 2023 dan terus turun hingga akhir tahun 2023 menjadi 279 kasus.

EDITOR: Hanny Suwindari