JawaPos.com - Dalam rangka pelaksanaan Piala Dunia U-17, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya lakukan penyemprotan ekstra terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo guna menekan bau sampah yang menyengat serta eliminasi lalat.
Diketahui, di area Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) terdapat TPA yang memiliki bau sampah menyengat, namun sampai sejauh ini belum ada keluhan mengenai bau tersebut.
Usut punya usut, ternyata Pemkot Surabaya telah melakukan pengelolaan sampah yang baik di TPA Benowo bahkan sejak sebelum Piala Dunia U-17 dimulai.
Adanya perlakuan khusus tersebut, menurut Sub Koordinator Pengelolaan Sarana dan Prasarana Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Agustinus Hendra CA, sudah bagian dari persiapan yang memang harus dilakukan dalam gelaran Piala Dunia U-17 yang merupakan ajang bergengsi ini.
Menurut Agustinus, perlakuan khusus untuk menekan bau menyengat tersebut sudah dilangsungkan sejak awal November lalu.
Pengelolaan sampah melalui penyemprotan cairan itu dinilai lebih intens dalam rangka adanya Piala Dunia U-17 ini.
"Sebelumnya, ini pengelolaan rutin di TPA Benowo. Tapi, kemarin persiapan menjelang pembukaan Piala Dunia lebih intens," terangnya seperti yang dilansir JawaPos.com dari Radar Surabaya pada Selasa (14/11).
Pengelolaan sampah melalui penyemprotan tersebut dilakukan berulang kali, bahkan khusus untuk gelaran bergengsi ini, penyemprotan dilakukan sebanyak empat kali dalam sehari. Biasanya, jika tidak ada event Piala Dunia U-17, penyemprotan dengan cairan mikro organik itu maksimal dua kali dalam sehari.
"Titik penyemprotannya banyak dan tersebar," ungkap Agustinus menambahkan.
Dalam rangka gelaran Piala Dunia U-17, penyemprotan TPA Benowo terbagi dalam empat sesi dalam satu hari.
Penyemprotan sesi pertama dilakukan di pagi hari, lalu sesi kedua pada siang hari, mengantisipasi terjadinya penguapan. Kemudian berlanjut hingga sore dan malam hari.
"Kalau hari biasa itu pagi pukul 7.30 dan 12.00. Kita tambah di sore sampai malam harinya. Siang ke sore masih ada panas, khawatir terjadi penguapan," jelasnya.
Jam operasional TPA Benowo juga dialihkan menjadi malam hari karena adanya event bergengsi tersebut.
Oleh karena itu, penyemprotan berlanjut hingga malam hari karena pada saat itu ada sampah yang juga baru datang.
"Kita semprot juga yang baru datang supaya pagi harinya tidak terlalu kuat baunya. Kalau dibiarkan, petugas yang pagi hari perlu kerja ekstra," paparnya.
Agustinus, atau sapaan akrabnya Hendra, mengatakan bahwa ada 5-6 titik lokasi penyemprotan dalam satu sesi pengerjaan.
Spot-spot tersebut antara lain beberapa tumpukan sampah TPA, di gasifikasi PSEL Benowo, akses masuk GBT dari Tol, akses masuk ke TPA, hingga kawasan rumah-rumah pemulung.
"Kita terus monitoring titik mana yang masih menyengat, itu segera disemprot. Kalau di area masuk GBT dirasa sudah aman, kita fokuskan ke titik lain," jelas Hendra.
Hendra mengatakan bahwa cairan mikro organik itu cukup ampuh untuk menekan bau menyekat, namanya cairan Eco Lindi.
Tak hanya menekan bau, cairan tersebut juga ampuh untuk mengeliminasi lalat.
"Dalam sehari kita siapkan sekitar 30 ribu liter. Pelaksananya PT. Sumber Organik selaku pengelola TPA Benowo," tandasnya.