← Beranda
Antisipasi Klaster Sekolah, Dinkes Gelar Uji Swab Acak Serentak
M SholahuddinRabu, 29 September 2021 | 18.39 WIB
Photo
JawaPos.com– Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas telah berlangsung sekitar satu bulan. Hingga kemarin (28/9) pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo belum menerima laporan ada siswa yang terpapar virus korona.

Kepala Dinkes Sidoarjo drg Syaf Satriawarman SpPros menyatakan, ada murid yang mengeluh sakit demam, batuk, atau pilek. Namun, mereka belum tentu terkena Covid-19. Bisa jadi hanya sakit flu biasa yang sering terjadi saat musim pancaroba seperti sekarang. ”Sejauh ini, para siswa yang masuk sekolah tidak bermasalah. Masih nihil laporan tentang adanya klaster PTM,’’ ujarnya.

Dia tak menampik adanya kabar tentang temuan banyaknya siswa yang terpapar Covid-19. Terutama mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) atau madrasah ibtidaiyah (MI). Bahkan, Jawa Timur disebut sebagai wilayah yang banyak temuan siswa sekolah terpapar virus korona. Karena itu, pihaknya akan mengadakan tes swab antigen acak untuk siswa.

Kemarin, dinkes telah mengeluarkan surat untuk pelaksanaan uji swab antigen siswa yang ikut PTM terbatas. Tapi, tidak semua siswa akan diperiksa. Tes dilakukan secara acak dengan sampel beberapa anak saja. Mulai jenjang SD atau MI, SMP atau MTS, hingga SMA atau MA.

”Masing-masing sekolah yang diminta untuk menjalani rapid antigen oleh dikbud dan Kemenag menyiapkan 50 anak,’’ ujar Syaf. Untuk jenjang SD, yang diperiksa adalah siswa kelas VI. Pemeriksaan perdana dimulai hari ini di tiga SD.

Total ada sebanyak 26 sekolah yang bakal menjadi sampel dalam pemeriksaan acak rapid antigen siswa. Jumlahnya 1.300 anak. Baik siswa sekolah negeri maupun swasta di Kota Delta. Jumlah itu meliputi sekolah di bawah naungan dikbud maupun Kemenag. Tim dari puskesmas di wilayah sekolah tersebut yang bakal melakukan pemeriksaan. Sesuai jadwal, rapid test berlangsung hari ini hingga 6 Oktober.

Syaf menambahkan, saat ini vaksinasi untuk para siswa terus berjalan secara masif. Mereka yang berusia 12 tahun ke atas sudah mendapat suntikan vaksin. Sebagian siswa yang duduk di bangku kelas VI SD telah mendapat vaksinasi. Sebab, mereka telah berusia 12 tahun. Setidaknya, ada 26.727 anak usia 12 hingga 17 tahun yang mendapat vaksin dosis pertama.

Belum adanya laporan siswa terpapar Covid-19 dan tidak ditemukannya klaster PTM bukan berarti semua pihak boleh lengah. Syaf mengimbau agar pihak sekolah, siswa, dan orang tua tetap mematuhi ketentuan yang ada. ’’Bagi yang belum mendapat vaksin, protokol kesehatan (prokes) harus diterapkan dengan ketat. Hal itu merupakan cara untuk mengantisipasi penularan,’’ tegas dia.

Syaf berharap, para orang tua terus bisa mengedukasi sekaligus menerapkan prokes dalam wujud penjemputan tepat waktu. Membekali anak dengan masker ganti, hand sanitizer hingga keperluan pribadi lain. Anak juga harus memahami prokes seperti pemakaian masker yang tepat dan jaga jarak. Pihak sekolah wajib menyediakan sarana-prasarana penunjang prokes. Mulai tempat cuci tangan, hand sanitizer, hingga pengukur suhu badan.

Ketersediaan sarana penunjang itu selalu diminta pihak Kementerian Agama (Kemenag) Sidoarjo untuk madrasah yang menggelar PTM. ”Alat pengukur suhu itu harus ada di sekolah. Sebelum masuk kelas, anak-anak wajib diukur suhunya,’’ ujar Kasi Madrasah Kemenag Sidoarjo Abdul Rohman.

Jika ada anak yang demam, diminta istirahat di rumah terlebih dahulu. Saat sudah sembuh, siswa bisa masuk sekolah lagi. Orang tua yang belum siap mengikutkan anaknya untuk tatap muka juga tetap diberi fasilitas mengikuti pembelajaran jarak jauh.

 
EDITOR: M Sholahuddin