JawaPos.com- Dalam beberapa kali kesempatan, Presiden Joko Widodo maupun Menko Luhut Binsar Panjaitan menyebut, pilar penting dalam penanganan pandemi Covid-19 adalah 3T (tracing, testing, treatment), vaksinasi, dan protokol kesehatan. Sejauh ini, memang tiga pilar itu kuncinya.
Sejak pandemi, semua kabupaten/kota terus getol melakukan dan mengampanyekan tiga pilar tersebut. Dengan beragam inovasi berbasis daerah masing-masing. Termasuk di Jawa Timur. Makin TSM (terstruktur, sistematis, dan masif) tentu makin baik. Peluang keluar dari belenggu zona merah pun makin besar.
Berdasarkan data mingguan satgas penanganan Covid-19 Pemprov Jatim, per 13 Agustus 2021, daerah di Jatim yang tertinggi melakukan pelacakan kontak erat (tracing) adalah Kabupaten Gresik. Dengan nilai rasio 10,2. Kemudian disusul berturut-turut Banyuwangi (7,9), Sumenep (5,6), dan Surabaya (4,5). Di wilayah Surabaya Raya, Sidoarjo jauh tertinggal. Hanya 0,5.
Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Gresik drg Saifudin Ghozali ketika dikonfirmasi membetulkan data tersebut. Dia menjelaskan, rasio tracing 10,2 itu artinya setiap 1 kasus terkonfirmasi positif Covid-19, petugasnya sudah melakukan tracing dan menemukan kontak eratnya sebanyak 10 orang.
‘’Nah, dari tracing itu selanjutnya mereka kita tes PCR atau antigen. Kalau hasil tes positif, kita lakukan treatment sesuai dengan kondisi yang bersangkutan. Apakah tanpa gejala, atau bergejala ringan, sedang atau berat,’’ papar Ghozali.
Keunggulan Gresik dapat melakukan 3T dengan rasio tertinggi tersebut karena didukung SDM yang mencukupi. Menurut Ghozali, hal itu tidak lepas dari keputusan Bupati Fandi Akhmad Yani yang cepat merekrut banyak relawan tenaga kesehatan (nakes). ‘’Selanjutnya, para relawan nakes itu bekerja sama dengan petugas TNI-Polri, intensif melakukan 3T di wilayah perkotaan sampai ke desa-desa,’’ ucap dia.
Sebetulnya, target dari Kementerian Kesehatan, sesuai standar organisasi kesehatan dunia (WHO) tracing itu minimal rata-rata 15 orang kontak erat. Artinya, setiap ada 1 kasus positif Covid-19, dilakukan pelacakan kontak erat paling sedikit 15 orang.
‘’Ke depan akan terus kami masifkan 3T itu. Karena dengan itu, maka kita berbasis data untuk dapat menekan potensi persebaran Covid-19,’’ jelasnya.
Apakah tidak lantas semakin banyak tracing, maka makin banyak pula peluang temuan kasus positif? ‘’Belum tentu. Yang pasti, dengan 3T itu maka akan ada kecepatan penanganan. Setiap kali ditemukan kasus potisif, mereka tidak akan menjadi carrier Covid-19. Kalau tidak diketahui, maka peluang si carrier tersebut menularkan virusnya kan besar. Jadi, bisa kemana-mana karena tidak terlacak,’’ ungkapnya.
Nah, 3T tersebut mesti juga dibarengi dengan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang mencukupi dan memadai. Belajar dari lonjakan kasus Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir, kabupaten/kota terus meningkatkan kualitas dan kuantitas fasyankes. Termasuk Gresik.
‘’Alhamdulillah, total BOR (bed occupancy rate) Gresik saat ini ada sekitar 1.500. Ini juga terbanyak dibanding daerah lain. Artinya, kalau ada pelonjakan lagi, insya Allah kita sudah siap. Tidak seperti sebelumnya. Tapi, semoga saja tidak,’’ kata Ghozali.
Yang jelas, lanjut dia, tingkat kesembuhan (recovery rate) di Gresik belakangan juga terus meningkat. Berdarkan data terbaru, recovery rate sudah 87 persen. Artinya, mayoritas kasus positif sembuh atau dapat disembuhkan. Bahkan, pasien yang dirawat di RS Lapangan Gejos sejauh ini 100 persen sembuh.
‘’Karena itu, seperti disampaikan Pak Bupati, masyarakat tidak perlu takut dan khawatir kalau dilakukan 3T. Itu semata-mata untuk memutus mata rantai persebaran,’’ tegasnya.
Di lain pihak, serbuan vaksinasi juga terus dilakukan. Hanya, untuk dapat menggenjot minimal 70 persen penduduk agar tercipta herd immunity (kekebalan komunal), sejauh ini terkendala dengan droping atau ketersediaan vaksin. Sebetulnya, semua sudah sangat siap untuk menuntaskan vaksinasi, kalau memang vaksinnya ada. ‘’Tapi, kabarnya akhir bulan ini hingga September, akan ada droping vaksin dalam jumlah besar,’’ ujar alumnus Universitas Jember itu.
Data terbaru per 14 Agustus 2021, jumlah kasus harian di wilayah Surabaya Raya memang masih terus bertambah. Namun, belakangan cenderung lebih landai. Untuk Kota Surabaya, misalnya, kasus aktif atau pasien yang menjalani perawatan ada sebanyak 4.373 atau berkurang 270 orang dibandingkan sebelumnya. Demikian juga kasus kematian. Sejak pekan lalu, Kota Surabaya sudah mentas dari zona merah atau risiko tinggi.
Lalu di Gresik, kasus aktif masih ada 882 orang. Sejauh ini, Gresik masih berada di zona merah. Namun, dengan skor 1,8, sebetulnya tinggal selangkah lagi bisa mentas dari zona merah. Untuk dapat masuk ke zona dengan risiko sedang sesuai ketentuan WHO, skornya minimal 1,81. Jadi, tinggal 0,01 saja. Adapun Sidoarjo, masih menyisakan kasus aktif 1.732 orang. Kota Delta juga masih di zona merah dengan skor 1,57.
Sementara itu, untuk cakupan vaksinasi, Kota Surabaya paling tinggi capaiannya. Data dari Kementerian Kesehatan per 14 Agustus 2021, suntikan dosis I sudah menjangkau 1.652.415 orang atau 74,50 persen. Sidoarjo 535.015 orang (33,14 persen) dan Gresik 282,983 orang (27,97 persen). Untuk vaksinasi dosis II, Surabaya sudah mencapai 1.130.287 orang (50,96 persen), Sidoarjo 281.536 orang (17,44 persen), Gresik 97.021 orang (9,59 persen).
Untuk mempercepat vaksinasi tersebut, wilayah aglomerasi Surabaya Raya, yaitu Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, sudah berencana melakukan kolaborasi. Yakni, dengan saling membantu. ‘’Nanti para tenaga kesehatan dari Surabaya akan siap membantu pelaksanaan vaksinasi di Sidoarjo dan Gresik,’’ kata Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Begitu pula sebaliknya.