JawaPos.com - Nama pebulu tangkis Indonesia Jonatan Christie mendadak jadi sorotan setelah sukses menjadi tunggal putra nomor satu dunia. Profil raja tunggal putra dunia tersebut akan diulas dalam artikel.
Kepastian Jonatan menjadi ranking satu dunia diketahui setelah BWF merilis daftar ranking terbaru pada Selasa (25/8) usai gelaran Kejuaraan Dunia Bulu tangkis 2026.
Pemain yang akrab disapa Jojo itu melesat dua tingkat ke posisi pertama setelah sebelumnya menghuni peringkat ketiga dunia.
Baca Juga: Mirip MilanLab! Persebaya Surabaya Pionir di Sepak Bola Indonesia dalam Penerapan Sport Science
Jonatan menjadi raja sektor tunggal putra dengan mengoleksi 87,631 poin. Pemain yang akrab disapa Jojo itu mengkudeta pemain Tiongkok, Shi Yu Qi, dari peringkat pertama dunia.
Awal Mula Perjalanan Jonatan Christie di Bulu Tangkis
Jonatan Christie lahir di Jakarta pada 15 September 1997.
Dalam profil resmi PBSI, Jonatan tercatat sebagai atlet asal Jakarta Selatan yang pernah membela klub Tangkas.
Baca Juga: Resmi! Jonatan Christie Jadi Tunggal Putra Nomor 1 Dunia, Akhiri Penantian 26 Tahun Indonesia
Kedekatan Jonatan dengan bulu tangkis sudah terjalin sejak usia dini.
Sang ayah, Andreas Adi, menjadi sosok yang mengenalkannya pada olahraga tersebut ketika Jonatan masih berusia sekitar enam tahun.
Sebelum fokus menekuni bulu tangkis, Jonatan ternyata sempat menjajal sejumlah cabang olahraga lain, termasuk basket dan sepak bola.
Namun, berkat arahan dan dukungan dari sang ayah, ia akhirnya mantap memilih bulu tangkis untuk ditekuni secara serius.
Potensi besar Jonatan sudah tampak ketika dirinya masih berusia belia.
Pada 2008, tepat saat menginjak usia 11 tahun, dia mampu mengumpulkan tujuh gelar dari berbagai ajang mulai tingkat daerah, nasional, hingga internasional.
Baca Juga: Jaring Bibit Unggul, Korem Wijayakrama Hasilkan Atlet Taekwondo Lewat Danrem Cup 2026
Di tahun yang sama, Jonatan juga berhasil meraih medali emas pada Olimpiade Pelajar Sekolah Dasar se-Asia Tenggara yang berlangsung di Jakarta.
Rangkaian prestasi tersebut menjadi bukti bahwa bakat Jonatan sudah terasah sejak usia muda.
Berkat pencapaiannya tersebut, Jonatan kemudian memperoleh penghargaan Satyalancana pada 2009.
Baca Juga: 3 Poin Tata Kelola Klub Modern Persebaya Surabaya: Bisnis dan Teknis Dipisah, Trust Jadi Kunci!
Prestasi yang diraih sejak usia belia itu pun menjadi modal penting dalam membangun karir panjangnya sebagai pebulu tangkis profesional.
Karir Level Senior Dimulai Sejak Usia Muda
Peralihan Jonatan Christie ke level senior berlangsung cukup cepat.
Pada 2013, saat usianya baru sekitar 15 tahun, Jonatan sudah mampu meraih gelar Indonesia International Challenge setelah menundukkan Alamsyah Yunus pada laga final.
Baca Juga: AQUA Cup Badminton Solo 2026, Dorong Talenta Muda Indonesia Berkembang Lewat Kompetisi
Gelar tersebut menjadi salah satu pijakan awal dalam perjalanan kariernya di level senior.
Seiring waktu, nama Jonatan semakin dikenal setelah tampil di berbagai turnamen internasional dan mulai berhadapan dengan sederet pemain elite dunia.
Momen penting lainnya terjadi pada Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta.
Tampil di depan dukungan publik sendiri, Jonatan sukses menyabet medali emas tunggal putra setelah mengalahkan wakil Taiwan, Chou Tien Chen, pada partai puncak.
Baca Juga: Siap Tembus Timnas, Begini Langkah CSC Athletes Dorong Industri Padel Nasional
Kini, Jonatan menjadi salah satu tumpuan utama Indonesia di sektor tunggal putra.
Keberhasilannya mencapai peringkat satu dunia juga mengakhiri penantian panjang Indonesia untuk kembali memiliki wakil tunggal putra yang menduduki posisi teratas ranking dunia.
Mengapa Jonatan Christie Bisa Jadi Nomor 1 Dunia?
Jonatan bisa dibilang tidak meraih hasil bagus di ajang Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2026.
Baca Juga: Unity Cup 2026: Strategi PB PI Jaksel Dorong Padel Jadi Industri dan Wadah Prestasi Atlet
Sebab, pemain non Pelatnas PBSI Cipayung itu terhenti di babak 16 besar setelah kalah dari Rasmus Gemke (Denmark).
Tunggal putra Indonesia itu bisa merangkak naik ke puncak daftar ranking tunggal putra karena para pesaingnya menelan hasil minor di Kejuaraan Dunia Bulutangksi 2026.
Shi Yu Qi secara mengejutkan terhenti di babak 64 setelah kalah dari Ayush Shetty (India).
Baca Juga: Petenis Anthony Susanto Tak Terkalahkan di Fase Penyisihan Grup A Universal Tennis Rating Pro Tennis
Kemudian Kunlavut Vitidsarn juga menelan pil pahit di ajang bergengsi tersebut setelah gugur di babak perempat final.
Begitu pula dengan Anders Antonsen dari Denmark yang terhenti di babak tersebut.
Momentum sebenarnya didapat oleh peringkat enam dunia, Chou Tien Chen untuk mengkudeta Shi Yu Qi dari peringkat satu.
Namun, pemain dari Taiwan itu harus terhenti di semifinal setelah kalah dari wakil Jepang, Kodai Naraoka.
Baca Juga: Petenis Renaldi Aquila Salim Gagal Raih Posisi Runner Up Grup UTR PTT di Bali
Peluang Jonatan untuk naik ke posisi pertama sempat mendapat ancaman dari Chou Tien Chen.
Tunggal putra Taiwan tersebut berhasil melaju hingga semifinal. Jika mampu melangkah lebih jauh, dia berpotensi mengumpulkan tambahan poin yang cukup untuk mengubah persaingan di papan atas ranking BWF.
Namun, langkah Chou Tien Chen akhirnya terhenti di semifinal setelah kalah dari Kodai Naraoka.
Baca Juga: KONI Klungkung Kirim 9 Atlet ke Kejurnas Menembak, Incar Emas di Nomor Air Pistol
Hasil tersebut membuat Jonatan berada di posisi terdepan hingga akhirnya kini menjadi peringkat pertama dunia dalam ranking BWF.
Poin Jonatan Christie Tak Hanya Datang dari Hasil Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2026
Perlu diketahui, tanking dunia juga berisikan poin dari 10 turnamen terbaik dalam satu tahun atau 52 pekan terakhir.
Baca Juga: Satria Mulia Goh Sukses Hole in One di Ciputra Golf Surabaya
Perbaikan poin dalam sebuah turnamen yang sama, praktis akan membuat sang pemain mengalami pelonjakan poin.
Salah satu alasan Jonatan tetap bisa melesat meski gagal menjadi juara Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2026 adalah konsistensinya dalam turnamen lain selama satu tahun terakhir.
Dia mengumpulkan poin penting dari sejumlah pencapaian, termasuk menjadi juara Denmark Open 2025, Hylo Open 2025, dan Korea Open 2025.
Jonatan juga menjadi finalis India Open 2026 dan Indonesia Open 2026.
Baca Juga: Festival Sepak Bola Rakyat Jadi Ruang Pembinaan Talenta Muda di Lima Kota
Capaian tersebut membantu menjaga jumlah poinnya tetap kompetitif dalam perhitungan ranking.
Salah satu hasil penting lainnya terjadi di China Open 2026.
Jonatan mencapai perempat final, meningkat dibandingkan pencapaiannya pada edisi sebelumnya yang hanya sampai babak kedua.
Baca Juga: UK Petra Gagas Liga Golf Mahasiswa, Berharap Diikuti Lebih Banyak Mahasiswa
Rangkaian hasil tersebut menjadi bagian penting dalam perhitungan poin ranking dunia.
Jadi, status nomor satu tidak ditentukan hanya oleh seberapa jauh Jonatan melangkah di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2026.
Akhiri Penantian 26 Tahun Indonesia
Pencapaian Jonatan ini menjadi sejarah bagi bulu tangkis Indonesia.
Baca Juga: Rekap Hasil Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2026: Empat Wakil Indonesia Lolos ke Babak 32 Besar
Pemain kelahiran Jakarta itu bakal menjadi tunggal putra pertama yang menempati peringkat satu dunia di era penghitungan ranking BWF modern.
Kemudian, Jonatan juga mengikuti jejak Taufik Hidayat yang terakhir kali menghuni peringkat satu dunia pada tahun 2000.
Artinya, Jojo sukses mengakhiri penantian 26 tahun lamanya untuk membawa Indonesia merajai sektor tunggal putra.