Berjaya di era 1950-1960an, Tan Joe Hok secara faktual adalah tunggal putra terbaik dunia pertama yang dimiliki Indonesia. Sosok ini sekaligus membuka mata dunia akan kekuatan Merah Putih di peta dunia tepok bulu angsa hingga detik ini.
Tan Joe Hok adalah putra bangsa pertama yang menjuarai All England pada 1959. Ia juga memenangi Medali Emas Asian Games 1962 di Jakarta. Di sektor berego, ia membawa Indonesia menjadi Juara Piala Thomas tiga kali beruntun (1958, 1961, 1964).
Di era yang sama dengan Tan Joe Hok, ada nama Ferry Sonneville. Dominasi dan kehebatan keduanya di lapangan membuat Ferry dan kompatriotnya itu dijuluki The Big Two tunggal putra dunia.
Berdarah Belanda, Ferry dikenal memiliki kecerdasan taktik yang tinggi. Kepiawaiannya ikut sumbangsih membawa Indonesia menjuarai Piala Thomas pada 1958, 1961 dan 1964. Di ajang All England 1959, Ferry hanya mampu melangkah hingga babak final, sebelum ditaklukkan oleh Tan Joe Hok di partai puncak.
Aktif di tahun 1968 – 1976, tidak berlebihan rasanya untuk menyebut Rudy Hartono sebagai salah satu penguasa lapangan bulu tangkis dunia paling dominan.
Meskipun tidak memiliki angka ranking resmi karena berkarir di era pra-koputerisasi BWF, Rudy Hartono sudah mencatatkan namanya di Rekor Guinness sebagai satu-satunya tunggal putra yang menembus final All England 10 kali beruntun dan memenangkannya sebanyak 8 kali.
Tak cuma itu, ia juga tercatat menjadi Juara Dunia IBF 1980, peraih medali emas Olimpiade 1972 saat bulu tangkis menjadi cabang olahraga demonstrasi, dan membawa Indonesia 4 kali menjadi Juara Piala Thomas (1970, 1973, 1976, 1979).
Pada masanya, Icuk Sugiarto dikenal sebagai raja reli dengan ketahanan fisik luar biasa serta pertahanan yang sangat rapat. Ia merebut predikat pemain terbaik dunia setelah memenangkan All Indonesian Final melawan Liem Swie King di Kejuaraan Dunia 1983.
Ayah dari Tommy Sugiarto itu juga tercatat pernah menjadi Juara Piala Dunia Bulu Tangkis sebanyak tiga kali (1985, 1986, 1988). Icuk juga ikut andil membawa Indonesia menjuarai Piala Thomas 1984 dan medali emas Asian Games 1986 di nomor beregu.
Suami Susy Susanti ini memang aktif bermain di awal era komputerisasi BWF di mana sistem ranking modern sudah diterapkan.
Walaupun sejarah mencatat namanya sebagai tunggal putra Indonesia pertama yang menjuarai Olimpiade di Olimpiade Barcelona 1992, namun posisi poin mingguannya selalu berada di bawah bayang-bayang dua kompatriotnya yang tak kalah tangguh saat itu, yakni Ardy Wiranata dan Joko Suprianto. Dua nama inilah yang justru saat itu kerap bergantian menguasai peringkat 1 dunia.
Walau tak pernah menjadi ranking 1 dunia, reputasi Alan Budikusuma sebagai pemain tangguh di turnamen-turnamen akbar berformat multi-event dan kejuaraan-kejuaraan besar lainnya jelas tidak bisa diremehkan.
Selain Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budikusuma tercatat menjadi Juara Piala Dunia Bulu Tangkis 1993. Ia juga menjadi juara di sejumlah turnamen terbuka tingkat tinggi, seperti China Open 1991, German Open 1992, dan Malaysia Open 1995.
Alan Budikusuma juga membawa Indonesia menjadi Juara Piala Thomas sebanyak dua kali (1994, 1996).