JawaPos.com - Tim Nasional (Timnas) Esports Indonesia menerapkan pendekatan sport science dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas) sebagai persiapan menghadapi Asian Games 2026.
Tim tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis permainan, tetapi juga kondisi fisik, nutrisi, kesehatan, dan mental atlet, dikutip dari ANTARA.
Manajer Timnas Esports Indonesia Glorya Famiela mengatakan persiapan atlet dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan mereka berada dalam kondisi optimal saat menghadapi pertandingan.
"Untuk pelatnas sendiri bukan hanya strength and conditioning. Untuk sisi nonteknis itu biasa kita memanfaatkan sport science. Jadi bukan hanya strength and conditioning, fisik harus bugar, tetapi ada dari sisi nutrisi, makan dijaga juga, terus ada psikolog kita juga untuk menjaga psikisnya, mental," kata Glorya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Baca Juga: Cedera Saat Bela Timnas Indonesia, Marselino Ferdinan Jalani Operasi Lutut di Spanyol
Selain dukungan psikolog, tim pelatnas juga menyiapkan tenaga medis yang terdiri atas satu dokter dan satu perawat. Keduanya bertugas mendampingi atlet sekaligus memastikan kondisi kesehatan selama menjalani program latihan.
Glorya mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian dari sistem pendukung yang disiapkan agar atlet dapat menjalani pelatnas secara maksimal menjelang Asian Games.
Untuk Asian Games, Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) menyiapkan 34 atlet dan tujuh pelatih yang akan turun dalam delapan nomor pertandingan.
Baca Juga: Pelatnas Asian Games 2026 Dapat Tambahan Anggaran, Total Rp222 Miliar
Indonesia mengikuti Honor of Kings (HOK), Identity V, Naraka: Bladepoint, Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), PUBG Mobile (PUBGM), eFootball, Gran Turismo, dan Pokemon UNITE.
"Memang kalau dari kita, kita ingin bukan hanya game-game yang tenar saja yang kita berangkatkan. Kita juga pengen semuanya memberikan kesempatan untuk menjadi timnas," kata Glorya.
Ia menyebut gim seperti Naraka dan Identity V mendapat apresiasi setelah berhasil lolos kualifikasi, sementara Pokemon memiliki rekam jejak kompetitif yang cukup baik karena para pemainnya kerap mencapai podium atau setidaknya lolos ke babak playoff.
Competitive Martial Arts (CMA) tidak masuk dalam daftar akhir keberangkatan setelah melalui hasil evaluasi Tim Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional (PPON) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI).
Di sisi lain, Glorya mengatakan pelaksanaan pelatnas dilakukan secara mandiri dengan dukungan dari internal tim dan sejumlah sponsor.
Dukungan pemerintah, menurut dia, sejauh ini difokuskan pada kebutuhan keberangkatan, kepulangan, tiket, dan akomodasi selama kontingen berada di Jepang.
Baca Juga: Dana Pelatnas Asian Games 2026 Naik Jadi Rp 222 M, Menpora Dorong Atlet Raih Target 4 Emas
Meski esports belum menjadi cabang olahraga prioritas, Glorya optimistis timnya dapat berkontribusi terhadap target perolehan medali Indonesia pada Asian Games 2026.
"Kami yakin sesuai targetnya dari Kemenpora kemarin, emasnya empat untuk seluruh cabang. Kita bisa membantu mendongkrak itu dari sisi esports," ujar Glorya.
Ia berharap keberhasilan meraih medali nantinya dapat menjadi pembuktian bahwa esports memiliki potensi untuk turut memberikan kontribusi terhadap prestasi olahraga Indonesia di tingkat internasional.