← Beranda
Mercedes Tak Panik meski Dominasi di Formula 1 2026 Mulai Diganggu McLaren
Rizka Perdana PutraKamis, 30 Juli 2026 | 23.34 WIB
Kimi Antonelli. Mercedes mulai kehilangan dominasi di Formula 1 2026. Toto Wolff tetap tenang dan mengungkap strategi serta celah regulasi yang dimiliki tim. (Instagram @kimi.antonelli)

JawaPos.com – Dominasi Mercedes mulai mendapat tantangan memasuki paruh musim Formula 1 2026. Setelah menyapu bersih enam seri pembuka dengan kemenangan, tim asal Brackley itu hanya mampu memenangi dua dari lima balapan terakhir.

Setelah Ferrari memutus tren kemenangan Mercedes di Barcelona-Catalunya dan Silverstone, kini giliran McLaren yang tampil impresif pada GP Hungaria di Hungaroring akhir pekan lalu. Tim berjuluk Papaya itu bahkan nyaris finis satu-dua sebelum Oscar Piastri mengalami masalah pada gearbox.

Meski begitu, Kepala Tim Mercedes Toto Wolff menegaskan timnya tidak panik. Menurutnya, performa McLaren di Hungaroring sudah sesuai prediksi.

"Jika Anda bertanya kepada AI siapa favorit di Budapest, AI akan mengatakan McLaren," kata Wolff, dikutip dari Motorsport.

"Mereka adalah tim yang dominan di sini (Hungaroring) dalam beberapa tahun terakhir. Saya pikir mereka bisa finis satu dan dua seperti tahun lalu. Jadi, jelas ini adalah salah satu trek yang bagus untuk mereka, dan tidak terlalu bagus untuk kami," lanjutnya.

Selain karakteristik sirkuit yang lebih menguntungkan McLaren, Wolff tetap percaya diri karena Mercedes memang sengaja menunda paket upgrade besar hingga paruh kedua musim.

Strategi tersebut diambil agar tim tetap berada dalam batas anggaran (cost cap) yang ditetapkan FIA.

Temukan Celah Regulasi

Meski belum membawa banyak pembaruan teknis, Mercedes tetap menjadi acuan utama di Formula 1 musim ini. Tim Silver Arrow kembali menemukan celah regulasi (loophole) yang memberi keuntungan pada sesi kualifikasi.

Sesuai regulasi FIA, tenaga listrik mobil akan berkurang secara bertahap (ramp down) ketika daya baterai hampir habis. Mercedes menemukan cara untuk menghindari kondisi tersebut.

Caranya, pembalap sedikit mengangkat pedal gas (lift-off) sebelum kapasitas baterai mencapai nol persen. Dengan demikian, sistem ramp down tidak aktif sehingga mobil tetap memperoleh tenaga penuh sebesar 350 kW hingga garis finis.

Strategi itu tetap memiliki risiko tinggi. Jika pembalap terlambat melakukan lift-off dan baterai lebih dulu mencapai nol persen, mobil dianggap melanggar regulasi dan berpotensi didiskualifikasi.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, Mercedes mengembangkan sistem nada peringatan (warning tone) yang dikirim langsung ke earpiece pembalap sebagai penanda waktu yang tepat untuk mengangkat pedal gas.

EDITOR: Hendra