← Beranda
Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Lingkup Olahraga, NOC Indonesia Minta Cabor Punya Aturan Main yang Jelas
Latu Ratri MubyarsahRabu, 18 Maret 2026 | 23.09 WIB
Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari minta semua cabor memiliki aturan main agar tidak ada kasus kekerasan hingga pelecehan seksual di olahraga. (Istimewa)

 

JawaPos.com–Kasus kekerasan hingga pelecehan seksual di lingkungan olahraga membuat NOC Indonesia meminta semua cabang olahraga (cabor) memiliki aturan main yang jelas.

Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari mencontohkan, saat menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI), ada sistem monitoring. Mulai dari pelatih, kepala pelatih, manajer, binpres, hingga ke ketua umum.

”Nah itu merupakan sistem monitoring di balap sepeda pada saat itu. Jadi sangat penting dari setiap cabor memiliki sistem monitoring,” ujar Raja Sapta Oktohari di Jakarta.

Baca Juga: PB Akuatik Indonesia Gelar Kejuaraan Renang Perairan Terbuka di Bali Dukung Sport Tourism

Okto sapaan akrab Raja Sapta Oktohari menuturkan, dengan sistem monitoring, proses pelatihan sesuai kode etik dari masing-masing cabor bisa dilaksanakan tanpa kekhawatiran. Baik dari atlet maupun pelatih.

”Jangan sampai dengan isu yang berkembang ke depan kualitas pelatihan atau pembinaan prestasi di cabor justru malah kendor,” ujar Raja Sapta Oktohari

Dia berharap prestasi Indonesia di setiap cabor semakin meningkat dengan metode atau proses pelatihan yang sesuai dengan kode etik atau aturan main yang telah disepakati. Baik di cabor maupun dari international federation masing-masing.

Baca Juga: Janice Tjen Berpotensi Berhadapan dengan Petenis Nomor Tiga Dunia Elena Rybakina di Miami Open

”Apa yang sedang kita hadapi saat ini Itu bisa diambil langkah-langkah yang strategis dan taktis. Sehingga tidak ada keraguan dalam proses pembinaan prestasi, dan prestasi Semua tidak dirugikan,” ungkap Raja Sapta Oktohari.

Safeguarding Officer Tabitha Sumendap menambahkan, sudah membuat program satu tahun ke depan yang didistribusikan ke seluruh federasi cabor. ”Yang akan kami lakukan adalah kami mengedukasi, membawa awareness ini,” ucap Tabitha Sumendap.

Selain itu, Tabitha menyebutkan, saat ini membuat SOP pelaporan untuk perlindungan atlet dan juga kode etik untuk atlet, pelatih, dan asisten pelatih. ”Kami bawa nanti ke setiap cabor. Nanti dari situ kami akan diskusi sesuai dengan kebutuhan cabor masing-masing,” ucap Tabitha Sumendap.

Tabitha menuturkan, nanti ada prosedur dari pelaporan yang diteruskan melalui task force yang berisi para ahli seperti lawyer, dokter, hingga psikolog. ”Dan kami ada komisi atlet, ada sport and rule dan lain sebagainya gender equity juga ada di situ,” sebut Tabitha Sumendap.

Oleh sebab itu, jika nantinya laporan itu dikategorikan violation of safeguarding, akan dilanjutkan ke investigator. ”Karena kami bukan investigator. Nanti di situ sesuai dengan Isunya. Dari situ baru bisa mengambil keputusan. Jadi kami me-refer dan mengawal,” terang Tabitha Sumendap.

Selain itu, pihaknya juga akan memperkuat sistem dengan lintas Kementerian sekaligus dengan undang-undang yang sudah ada di pemerintah.

Baca Juga: Jangan Diam Lagi! Pesan Haru Viona Bikin Atlet Berani Speak Up Soal Pelecehan di Dunia Olahraga

Sekjen NOC Wijaya Noeradi menyebutkan bahwa safeguarding ini lebih spesifik lantaran harassment itu bukan hanya di pertandingan. ”Justru lebih dari sebelum-sebelumnya seperti pembinaan dan latihan,” tutur dia.

Sejak dibentuk dua tahun lalu, Wijaya menyebutkan respons cabor cukup bagus dengan meminta memberikan workshop mengenai safeguarding. Karena safeguarding ini adalah satu jalan untuk mengingatkan semua.

”Dan juga memberikan harapan kita untuk pencegahan,” ujar Wijaya Noeradi.

Baca Juga: Mimpi CGF untuk Tembus ke Olimpiade, CGF Berikan Award untuk Apresiasi Dukungan

Dia menyebutkan, tidak mudah bagi korban untuk berbicara. Sebab, semakin dalan kasusnya, terkadang dinilainya semakin takut. Kadang-kadang mereka malu sudah kejadian, misalnya bertahun-tahun.

”Walaupun sudah keluar dari Pelatnas tersebut. Tapi dia tidak berani karena takut,” tandas Wijaya Noeradi.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah