JawaPos.com - Penyandang disabilitas menyimpan kreativitas tanpa batas. Sehingga, eksplorasi potensi menjadi penting untuk dilakukan guna membantu menopang kesejahteraan mereka.
Nurdini Prihastiti, yang akrab dipanggil Dini, melalui Dama Kara, memberdayakan penyandang disabilitas untuk berkarya di bidang fesyen. Mereka didampingi untuk menuangkan berbagai imajinasi ke dalam aneka desain, serta fesyen.
Hasilnya, karya tersebut bukan sekadar ruang ekspresi bagi para penyandang disabilitas, namun juga menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Bahkan karya-karya yang dihasilkan berhasil dipamerkan pada ajang peragaan busana internasional.
Baca Juga: Zee Asadel Ungkap Cara Sederhana Menjaga Mood di Tengah Aktivitas yang Superpadat
”Saya berkomitmen membuat Dama Kara sebagai sebuah wadah penyandang disabilitas ini untuk bisa berkarya dan merangkul mereka. Kami percaya bahwa sejatinya berkarya itu tidak mengenal keterbatasan,” tutur Nurdini Prihastiti, pendiri Dama Kara sekaligus CEO Dama Kara Foundation.
Dari hasil kontemplasi Dini dan sang suami, mereka sepakat untuk memulai aksi filantropi di tengah aktivitas bisnis Dama Kara. Basisnya tetap bertumpu pada lini usaha di bidang sandang dan konveksi.
Dini terus mencari model filantropi yang memberi kebermanfatan lebih luas. Sejak berdiri di awal 2020, Dama Kara merangkul para perajin dan penjahit perempuan di sekitar tempat usaha di Bandung dan beberapa kota di Jawa Barat.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Jadi Ajang Silaturahmi, Kalangan Pesantren Jagokan Argentina Juara
Mengingat banyak produk merupakan buatan tangan alias handmade, Dama Kara memberi pelatihan kepada ibu-ibu untuk kemudian diminta membantu pengerjaan busana.
Pelibatan kaum perempuan dirasa tak cukup. Dini pun memperluas kebermanfaatan Dama Kara dengan mengajak kaum rentan yang selama ini terlupakan: penyandang disabilitas.
Ruang Ekspresi Difabel
Dini mantap untuk melibatkan kaum disabilitas dalam pengerjaan karya Dama Kara. Pelibatan penyandang disabilitas pada karya-karya Dama Kara itulah yang melatari berdirinya Dama Kara Foundation pada 2024.
Dini kemudian juga menggandeng lembaga sosial Our Dream Indonesia dan Art Therapy Center (ATC) Widyatama. Dama Kara Foundation mengembangkan sejumlah program, seperti kelas gambar bagi disabilitas.
Menurut Dini, para difabel yang bergabung di Dama Kara Foundation ini tidak harus mahir melukis atau mendesain.
”Kami mendampingi mereka supaya mereka bisa, dari sekadar suka menggambar sampai akhirnya bisa dan menemukan kekhasan dari karya-karya mereka. Kami percaya bahwa sesuatu itu enggak datang secara instan. Kami hanya memastikan bahwa mereka memang enjoy,” ujar dia.
Dama Kara Foundation membuka ruang seluas-luasnya bagi difabel yang tertarik bergabung. Komitmen ini muncul setelah sejumlah keluarga penyandang disabilitas menyampaikan bahwa pendidikan formal bagi difabel hanya sampai setingkat SMA atau SMK.
“Setelah itu enggak ada ruang lagi untuk mereka berkontribusi. Akhirnya kami mencoba merangkul tidak ada batasan usia maksimum,” kata dia.
Dini menjelaskan setiap difabel memerlukan pendampingan khusus dengan gaya berbeda. Sebagai contoh, ada anak yang menggambar dengan cahaya redup, ada yang mengerjakan sambil mendengarkan musik. Dini dan tim akan menyesuaikan kebiasaan-kebiasaan itu.
Baca Juga: Keluarga Ryamizard Ryacudu Terima Santunan, Hak Pensiun Disalurkan ke Ahli Waris
Demikian pula dengan hasil karya para penyandang disabilitas. Sembari terus didampingi dan diasah, Dama Kara tidak mengharuskan kualitas tertentu, dan menyesuaikan dengan kemampuan mereka. Sesuai komitmen kebermanfaatan yang dicetuskan Dini, semua program Dama Kara untuk difabel ini dilakukan secara cuma-cuma.
”Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun. Dari proses seleksi sampai mereka berkarya, dari art fasilitator sampai alat-alat gambar, semuanya disediakan Dama Kara. Dari tiap koleksi di Dama Kara (yang terjual), kami sisihkan sebagian untuk men-support kelas teman-teman berkebutuhan khusus,” ungkap Dini.
Memulai dari yang Kecil
Karya para penyandang disabilitas kini tak lagi dipandang sebelah mata. Desain-desain unik mereka yang berpadu dengan teknik-teknik mode yang khas Dama Kara tercetak abadi di produk-produk busana seperti kebaya, baju luaran, dan rok.
Berbagai ragam busana itu pun telah memiliki tempat tersendiri di pecinta mode, seperti dikenakan oleh sejumlah selebritas dan pemengaruh. Tak hanya di Tanah Air, kreasi busana yang dirintis Dini juga telah memiliki pasar di mancanegara hingga Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Korea Selatan.
Sejumlah karya adibusana Dama Kara juga mulai menapak ke panggung fesyen dunia. Wastra-wastra Nusantara yang menjadi ruang ekspresi penyandang disabilitas itu mewakili Indonesia di ajang Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF) di Perancis dan Handarty Korea di Korea Selatan beberapa waktu lalu.
Seiring dengan itu, potensi ekonomi Dama Kara terus meningkat. Namun, Dini yakin jika hanya mencari keuntungan finansial, suatu bisnis tak akan bertahan lama. Sebuah usaha harus dibangun dan dikembangkan dengan memberi dampak nyata bagi sekitar.
“Sebuah bisnis akan terus ada selama dampaknya bisa dirasakan secara langsung oleh orang lain. Dama Kara saat ini terus berkembang dan bertumbuh karena teman-teman penyandang disabilitas juga membantu kita,” tandas Dini.
Baca Juga: Mien Uno Beber Kunci Bahagia Generasi Muda: Terima Diri dan Tetap Bersyukur
Dengan membuat disabilitas berdaya, Dama Kara bisa menjadi model bagi generasi muda dalam mengembangkan sebuah usaha yang berdampak. Menurut Dini, dampak ini tidak harus sesuatu yang besar dan bisa diawali dari kepekaan terhadap lingkungan.