JawaPos.com - Cristian Chivu akan menghadapi sosok yang memiliki tempat khusus dalam perjalanan kariernya ketika Inter Milan bertandang ke Santiago Bernabeu untuk menghadapi Real Madrid di Liga Champions UEFA.
Pelatih asal Rumania tersebut pernah menghabiskan dua musim bermain di bawah asuhan Jose Mourinho di Inter Milan, tepatnya dari 2008 hingga 2010.
Periode tersebut menjadi salah satu fase paling berkesan dalam sejarah klub. Pada 2010, Chivu dan Mourinho membawa Inter menjuarai Liga Champions setelah mengalahkan Bayern Munich di final yang berlangsung di Santiago Bernabeu.
Kini, 16 tahun kemudian, keduanya kembali bertemu di stadion yang sama, tetapi dengan peran yang berbeda. Mourinho berada di kubu Real Madrid, sementara Chivu datang sebagai pelatih Inter.
Chivu: Mourinho Sosok yang Istimewa
Melansir Mundo Deportivo, dalam konferensi pers jelang pertandingan, Chivu berbicara dengan penuh rasa hormat mengenai mantan pelatihnya.
“Dia adalah orang istimewa yang beruntung saya temui dalam hidup saya. Dia memberi saya bantuan penting selama masa sulit dalam hidup saya, dan saya tidak akan pernah melupakan itu,” kata Chivu.
Bagi Chivu, kemampuan Mourinho bukan hanya terletak pada aspek taktik. Ia juga mengagumi bagaimana pelatih asal Portugal tersebut mampu memahami karakter sebuah tim dan kemudian menanamkan mentalitasnya kepada para pemain.
“Dia sangat pandai membenamkan diri dalam realitas tim yang diwakilinya dan menyampaikan mentalitasnya. Dia adalah seorang pemenang yang tahu bagaimana mengomunikasikan sesuatu pada saat yang tepat. Sangat sedikit orang yang tahu bagaimana melakukan itu seperti dia,” katanya.
“Dia telah meraih kemenangan di mana pun dia berada, dan saya yakin Real Madrid akan menjalani musim yang hebat.”
Chivu memang memiliki pengalaman langsung mengenai mentalitas tersebut. Bersama Mourinho, ia menjadi bagian dari tim Inter yang meraih treble pada 2009/10, termasuk trofi Liga Champions yang mereka angkat di Bernabeu.
Bukan Panutan dalam Karier Kepelatihan
Meski memiliki hubungan yang dekat dengan Mourinho, Chivu menegaskan bahwa ia tidak mencoba meniru mantan pelatihnya dalam membangun karier kepelatihan. Ketika ditanya apakah dirinya mengambil inspirasi dari Mourinho, Chivu memberikan jawaban tegas.
“Saya tidak pernah meniru siapa pun. Saya memiliki ide sepak bola sendiri, yang telah dibangun selama bertahun-tahun sebagai pemain dan sebagai pelatih.”
Bagi Chivu, pengalaman bekerja bersama Mourinho tentu memberikan pelajaran berharga. Namun, ia ingin membangun identitasnya sendiri sebagai seorang pelatih.
Chivu Menilai Real Madrid
Pertemuan dengan Real Madrid juga menjadi tantangan besar bagi Chivu. Ia menilai masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan mengenai performa tim asuhan Mourinho musim ini.
“Ini masih terlalu awal. Awal musim cukup seimbang, meskipun mereka kalah di pertandingan terakhir secara tidak adil karena mereka bermain sangat baik,” katanya.
“Mereka adalah tim dengan sejarah hebat dan pelatih yang tahu bagaimana melakukan sesuatu.”
Real Madrid memang datang ke pertandingan ini setelah menelan kekalahan di kompetisi domestik. Namun, bagi Chivu, hasil tersebut tidak cukup untuk menghapus kualitas yang dimiliki Los Blancos.
Kembali ke Bernabeu Setelah 16 Tahun
Pertandingan ini memiliki nilai sentimental tersendiri bagi Chivu. Pada 2010, ia berdiri di lapangan Santiago Bernabeu sebagai pemain Inter ketika Nerazzurri mengalahkan Bayern Munich di final Liga Champions.
Kini ia kembali ke stadion tersebut, tetapi sebagai pelatih. Chivu mengakui bahwa Bernabeu telah mengalami banyak perubahan sejak terakhir kali ia mengangkat trofi di sana.
“Stadion ini telah direnovasi dan sekarang jauh lebih indah. Stadion ini memiliki tradisi yang hebat dan saat ini lebih indah dan lebih modern. Kami senang memainkan pertandingan Liga Champions di stadion ini,” katanya.
Namun, nostalgia harus disingkirkan ketika pertandingan dimulai.
“Bermain di Bernabeu bukanlah hal mudah bagi siapa pun. Inter belum pernah menang di sini selama 60 tahun. Kami akan melakukan segala yang mungkin dan kami ingin menunjukkan bahwa kami kompetitif dan memiliki keinginan untuk mendominasi.”
Tidak Ada Formula Sempurna Melawan Real Madrid
Chivu juga memahami bahwa menghadapi Real Madrid membutuhkan lebih dari sekadar rencana taktik. Los Blancos memiliki begitu banyak pemain berkualitas yang mampu mengubah pertandingan hanya dengan satu momen.
“Tidak ada cara sempurna untuk bermain melawan Real Madrid karena mereka memiliki pemain yang dapat membuat perbedaan terlepas dari rencana yang Anda miliki.”
Karena itu, Inter harus mampu menjaga konsentrasi sepanjang pertandingan. Nerazzurri datang ke Madrid setelah melalui pertandingan sulit melawan Napoli. Mereka juga harus bermain tanpa Federico Dimarco yang mengalami cedera ringan.
Di sisi lain, Real Madrid ingin menjadikan Liga Champions sebagai momentum kebangkitan setelah kekalahan di La Liga.
Pertemuan dengan Masa Lalu
Pertandingan ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar duel Real Madrid dan Inter Milan. Bagi Chivu, ini adalah pertemuan dengan bagian penting dari masa lalunya.
Ia pernah menjadi pemain yang membantu Mourinho membawa Inter mencapai puncak Eropa. Kini, ia harus mencoba menggagalkan mantan mentornya dari pinggir lapangan.