← Beranda
Kebobolan Bola Mati, Pekerjaan Rumah Bernardo Tavares di Persebaya Surabaya Selama Jeda Kompetisi
Moch. Rizky Pratama Putra• Selasa, 22 September 2026 | 13.44 WIB
Bernardo Tavares menyoroti koordinasi lini belakang Persebaya Surabaya saat menghadapi bola mati usai ditahan imbang Garudayaksa FC 1-1. (Persebaya)

 

JawaPos.com — Persebaya Surabaya harus puas bermain imbang 1-1 saat menjamu Garudayaksa FC pada pekan ketiga Super League 2026/2027 di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Sabtu (19/9/2026).

Hasil tersebut menyisakan pekerjaan rumah bagi Bernardo Tavares, terutama memperbaiki koordinasi lini belakang Persebaya Surabaya saat menghadapi situasi bola mati.

Baca Juga: Berlomba dengan Waktu! Persebaya Surabaya Pantau Kondisi 4 Pemain Cedera di Jeda Kompetisi

Gol Bola Mati Jadi Sorotan Bernardo Tavares

Kebobolan dari situasi set piece menjadi salah satu hal yang paling disorot Bernardo Tavares setelah Persebaya Surabaya gagal mengamankan kemenangan di kandang sendiri.

Pelatih asal Portugal itu menilai pertahanan Green Force sebenarnya memiliki kesempatan untuk menghentikan rangkaian serangan Garudayaksa FC sebelum berujung gol.

“Kami kebobolan melalui set pieces. Saat situasi sepak pojok pendek, lini pertahanan kami tidak bergerak maju secara serempak,” ujar pelatih asal Portugal itu.

“Kami seharusnya lebih agresif dalam menekan pemain yang menguasai bola.”

Menurut Bernardo Tavares, masalah tersebut bukan semata-mata muncul dari kualitas umpan atau eksekusi lawan, melainkan koordinasi pemain Persebaya Surabaya ketika menghadapi skema sepak pojok pendek.

Ketidaksamaan gerakan lini pertahanan membuat Garudayaksa FC mendapatkan ruang untuk mengembangkan serangan hingga menghasilkan umpan berbahaya ke area tiang jauh.

“Sayangnya, kami membiarkan mereka melepaskan umpan ke tiang jauh yang berujung gol. Itulah peluang yang mereka miliki di babak kedua,” imbuhnya.

Baca Juga: Persebaya Kehilangan Dua Poin! Bernardo Tavares Bidik Kemenangan Kontra Isenmulang

Persebaya Surabaya Sebenarnya Bisa Cegah Gol

Bernardo Tavares menilai peluang Garudayaksa FC pada babak kedua sebenarnya tidak banyak, sehingga gol dari bola mati terasa semakin mengecewakan bagi Persebaya Surabaya.

Satu momen kehilangan koordinasi membuat keunggulan yang sudah berada dalam genggaman Green Force akhirnya berubah menjadi hasil imbang 1-1.

Penilaian tersebut memperlihatkan bagaimana detail kecil menjadi pembeda dalam pertandingan pekan ketiga Super League 2026/2027.

Persebaya Surabaya mampu mengontrol sejumlah aspek pertandingan, tetapi kegagalan mengantisipasi satu situasi bola mati membuat tiga poin di Stadion Gelora Bung Tombo lepas.

Bagi Bernardo Tavares, persoalan seperti ini perlu segera diperbaiki karena pertandingan kompetisi akan kembali berlanjut setelah jeda.

Koordinasi antarpemain, keberanian menekan pengumpan, serta pergerakan lini pertahanan secara serempak menjadi bagian yang harus mendapat perhatian dalam persiapan berikutnya.

Hasil imbang melawan Garudayaksa FC juga membuat Persebaya Surabaya mengoleksi lima poin dari tiga pertandingan.

Green Force kini berada di posisi ketujuh klasemen sementara Super League 2026/2027 dengan catatan satu kemenangan dan dua hasil imbang.

Baca Juga: Persebaya Kehilangan Kemenangan, Bernardo Tavares Soroti Koordinasi Lini Belakang

Jeda Kompetisi Jadi Momentum Perbaikan

Jeda kompetisi memberikan waktu bagi Bernardo Tavares untuk mengevaluasi kesalahan yang muncul dalam tiga pertandingan awal Super League 2026/2027.

Situasi bola mati menjadi salah satu aspek yang dapat kembali diasah agar kesalahan koordinasi seperti ketika menghadapi Garudayaksa FC tidak terulang.

Evaluasi tersebut penting karena Persebaya Surabaya tidak hanya membutuhkan konsistensi dalam permainan terbuka, tetapi juga konsentrasi ketika menghadapi situasi bola mati.

Sepak pojok pendek yang berujung gol di GBT menjadi contoh konkret bagaimana satu detail dalam pertandingan bisa memengaruhi hasil akhir.

Persebaya Surabaya sendiri mengawali kompetisi dengan hasil imbang 1-1 melawan Bhayangkara FC sebelum meraih kemenangan 1-0 atas PSIM Yogyakarta.

Setelah mengumpulkan lima poin dari tiga pertandingan, Green Force memiliki kesempatan menggunakan jeda kompetisi untuk membenahi sejumlah detail sebelum kembali bertanding.

Perbaikan tidak hanya menjadi tugas Bernardo Tavares sebagai pelatih, tetapi juga seluruh pemain yang berada di lapangan.

Komunikasi dan koordinasi menjadi kunci agar setiap pemain memahami tugasnya ketika Persebaya Surabaya menghadapi berbagai variasi bola mati dari lawan.

Baca Juga: Persebaya Krisis Pemain, Saddil dan Alex Martins Belum dalam Kondisi Terbaik

Toni Firmansyah Minta Dukungan Bonek dan Bonita

Kekecewaan atas hasil imbang juga dirasakan para pemain Persebaya Surabaya setelah kemenangan gagal dipertahankan hingga pertandingan berakhir.

Toni Firmansyah menyampaikan permintaan maaf kepada Bonek dan Bonita sekaligus menegaskan komitmen tim untuk bekerja lebih keras setelah jeda kompetisi.

"Saya meminta maaf kepada Bonek dan Bonita. Tentunya hasil yang tidak kita inginkan ini, tetapi kita akan kerja keras dan memperbaiki di pertandingan selanjutnya. Terima kasih," pungkas pemain Persebaya Toni Firmansyah.

Pernyataan Toni menunjukkan hasil 1-1 melawan Garudayaksa FC tidak ingin dijadikan alasan untuk berhenti melakukan evaluasi.

Sebaliknya, hasil tersebut menjadi pengingat bagi Persebaya Surabaya untuk memperbaiki kesalahan dan menjaga fokus ketika kembali menjalani pertandingan Super League 2026/2027.

Dengan lima poin dari tiga laga, Persebaya Surabaya masih memiliki ruang untuk memperbaiki posisi di klasemen melalui pertandingan berikutnya.

Namun, sebelum memikirkan tambahan angka, pekerjaan rumah terkait koordinasi lini belakang dan antisipasi bola mati perlu lebih dulu diselesaikan oleh Bernardo Tavares bersama para pemain Green Force.

Jeda kompetisi pun menjadi kesempatan penting bagi Persebaya Surabaya untuk membenahi detail tersebut.

Jika koordinasi pertahanan semakin solid, kesalahan dari situasi sepak pojok seperti saat menghadapi Garudayaksa FC di Stadion Gelora Bung Tombo dapat menjadi bahan evaluasi agar tidak kembali merugikan tim.

EDITOR: Banu Adikara