← Beranda
3 Poin Tata Kelola Klub Modern Persebaya Surabaya: Bisnis dan Teknis Dipisah, Trust Jadi Kunci!
Moch. Rizky Pratama PutraSelasa, 25 Agustus 2026 | 19.13 WIB
Tata kelola Persebaya Surabaya di bawah Azrul Ananda dinilai semakin profesional dengan pemisahan sektor bisnis dan teknis. (Persebaya)

 

JawaPos.com - Persebaya Surabaya dinilai menjadi salah satu klub Indonesia yang mulai menerapkan tata kelola modern dengan memisahkan sektor bisnis dan teknis, terutama sejak diambil alih Azrul Ananda.

Menjelang Super League 2026/2027, pendekatan tersebut kembali mendapat sorotan setelah Persebaya Surabaya menjuarai Piala Presiden 2026 dan membangun kepercayaan dengan kepolisian, penonton, serta sponsor.

Persebaya Surabaya Dikelola Seperti Korporasi

Perubahan besar terjadi dalam manajemen Persebaya Surabaya sejak Azrul Ananda mengambil alih pengelolaan klub, dengan sistem kerja yang dinilai lebih profesional dan menyerupai korporasi.

Baca Juga: Prediksi Skor Valencia vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Duel Sengit Berakhir Imbang

Pengamat sepak bola nasional Rendra Soedjono menyebut, Persebaya Surabaya menjadi satu di antara sedikit klub sepak bola Indonesia yang benar-benar menjalankan tim seperti sebuah perusahaan.

"Sejak tim Persebaya Surabaya ini diambil alih oleh Bapak Azrul, terjadi perubahan secara signifikan dalam manajemen yang dilakukan," ujar Rendra Soedjono dikutip dari kanal YouTubenya Katarensu, Selasa (25/8).

Menurut dia, perubahan tersebut terlihat dari cara klub membangun struktur organisasi sekaligus menjalankan operasional secara lebih profesional.

Baca Juga: Lazio Menang 1-0 atas Bologna, Gol Tunggal Davide Frattesi Selamatkan Debut Gennaro Gattuso

Model korporasi juga berkaitan dengan regulasi Club Licensing yang diterapkan FIFA, AFC, hingga PSSI untuk klub peserta kompetisi.

Rensu sapaan akrab Rendra Soedjono menjelaskan klub harus berbadan hukum PT agar pengelolaan dana lebih jelas, kewajiban pajak dapat dipenuhi, serta proses audit berjalan lebih mudah.

"Memang ada persyaratan khusus yang diberikan oleh FIFA, AFC, hingga PSSI terkait Club Licensing, bahwa sebuah klub harus berbadan hukum PT untuk mengarungi kompetisi," kata Rensu.

"Tujuannya agar taat pajak serta proses auditnya lebih mudah," imbuh dia.

Sektor Bisnis dan Teknis Dipisahkan

Poin penting berikutnya terletak pada pemisahan sektor manajemen atau bisnis dengan sektor sepak bola atau teknikal, meski keduanya tetap bergerak dalam satu ekosistem klub.

Pembagian ini membuat masing-masing unit memiliki tugas yang jelas sehingga urusan komersial tidak bercampur dengan kebutuhan teknis tim di lapangan.

Baca Juga: Persija Pulang dari Thailand dengan Modal Positif, Shin Tae-yong Puji Perkembangan Tim

"Apa yang dilakukan oleh Persebaya adalah mengelola tim dengan dua kesatuan: pertama, tim yang bergerak di sektor manajemen atau bisnis; kedua, tim yang bergerak di sektor sepak bola atau teknikal," ujar Rensu.

"Keduanya merupakan unit yang berjalan bersamaan namun memiliki job description yang berbeda," sambung dia.

Menurut Rensu, pembagian tersebut membuat Persebaya Surabaya memiliki fondasi organisasi yang lebih kuat untuk menjalankan berbagai kebutuhan klub secara bersamaan.

Baca Juga: Cetak Brace untuk Barcelona Kalahkan Elche, Raphinha Adaptasi Main Sebagai Penyerang

Dia menilai tim yang solid di divisi sepak bola dan divisi bisnis menjadi bentuk kolaborasi yang dapat mendukung keberlangsungan klub dalam jangka panjang.

"Mereka sudah menjalankan klub sepak bola dengan cara mengelola sebuah korporasi," imbuh Rensu.

"Sekarang mereka sudah memiliki tim yang solid di divisi sepak bola maupun divisi bisnis, dan ini merupakan kolaborasi yang sangat baik," ungkap dia.

Baca Juga: Muhammad Kanu Helmiawan Tinggalkan PSS Sleman Menuju Persiku Kudus

Hubungan dengan Kepolisian Jadi Modal Penting

Tata kelola bisnis yang matang juga disebut memberikan dampak langsung terhadap hubungan Persebaya Surabaya dengan pihak kepolisian, terutama dalam penyelenggaraan pertandingan.

Hubungan kerja yang baik dapat membantu proses perizinan keramaian sekaligus mendukung kebutuhan pertandingan kandang maupun laga tandang.

Rensu menilai aspek tersebut tidak bisa dipisahkan dari profesionalisme pengelolaan klub karena pertandingan sepak bola membutuhkan koordinasi dengan banyak pihak.

"Hal ini juga didasari kepercayaan yang baik dari pihak kepolisian kepada penyelenggara maupun kepada Persebaya sendiri, sehingga hubungan kerja sama dapat berjalan dengan sangat baik," ujar dia.

Baca Juga: Arema FC Putuskan Lepas Joel Vinicius Jelang Bergulirnya Super League Musim 2026/2027

Menurut Rensu, biaya penyelenggaraan pertandingan hingga kebutuhan saat laga tandang bisa menjadi persoalan jika klub tidak memiliki hubungan kerja yang baik dengan kepolisian.

Persebaya Surabaya dinilai mampu menjaga hubungan tersebut sehingga aspek operasional pertandingan dapat berjalan lebih lancar.

"Untuk biaya penyelenggaraan pertandingan dan laga away, jika sebuah tim tidak berhubungan baik dengan kepolisian, itu akan sulit," kata Rensu.

Baca Juga: Talenta Soekarno Cup Mulai Dilirik Klub Profesional, 10 Pemain Masuk Radar Liga 2 dan Liga 3

"Persebaya mampu menjaga hubungan tersebut dengan baik," lanjut dia.

Trust Penonton dan Sponsor Dibangun dari Konsistensi

Kepercayaan atau trust menjadi dampak lain dari tata kelola klub yang konsisten, bukan hanya dari sisi hubungan dengan aparat tetapi juga dari penonton dan sponsor.

Rensu menyoroti tidak adanya kabar setiap tahun mengenai pemain Persebaya Surabaya yang terlambat menerima gaji atau tidak mendapatkan haknya.

Baca Juga: Shin Tae-yong Sebut Persija Sudah 70–80 Persen, Enam Pemain Timnas Bikin Tim Makin Solid

"Setiap tahun tidak ada kabar buruk mengenai pemain yang telat digaji atau tidak dibayar; semuanya berjalan dengan baik," ujar Rensu.

Kondisi tersebut menurut dia ikut membangun kepercayaan penonton dan sponsor sehingga ekosistem klub dapat berkembang secara sehat.

Pola pengelolaan seperti ini menjadi semakin relevan bagi Persebaya Surabaya menjelang Super League 2026/2027 setelah Green Force meraih gelar Piala Presiden 2026.

Prestasi di lapangan akhirnya berjalan beriringan dengan pembenahan tata kelola di belakang layar, mulai dari struktur bisnis, sektor teknis, hubungan dengan kepolisian, hingga kepercayaan para pemangku kepentingan.

Baca Juga: AC Milan Kalahkan Torino, Adrien Rabiot Cocok dengan Permainan Ruben Amorim

Bagi Persebaya Surabaya, tiga fondasi tersebut menunjukkan klub modern tidak hanya ditentukan oleh kualitas pemain dan hasil pertandingan.

Pengelolaan berbasis korporasi, pembagian tugas yang jelas, serta kepercayaan dari berbagai pihak menjadi bagian penting untuk membangun klub yang mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah