← Beranda
Eksklusif! Fakhri Husaini: Makna Kemerdekaan Kapten Timnas Indonesia Era 1990-an
Moch. Rizky Pratama PutraSenin, 17 Agustus 2026 | 13.00 WIB
Fakhri Husaini menjalankan peran sebagai kapten Timnas Indonesia pada era 1990-an. (Instagram @coachfakhri)

 

JawaPos.com - Fakhri Husaini pernah menjadi kapten sekaligus jenderal lini tengah Timnas Indonesia pada era 1990-an dan membawa Garuda meraih medali perak SEA Games 1997 di Jakarta.

Bagi Fakhri Husaini memaknai bulan kemerdekaan ini, menjadi kapten bukan sekadar mengenakan ban di lengan, melainkan memimpin rekan setim dengan semangat nasionalisme untuk mengejar kemenangan.

Bagaimana Fakhri Husaini memaknai tekanan sebagai kapten Timnas Indonesia?

Fakhri Husaini menilai tekanan yang dirasakan kapten Timnas Indonesia pada eranya berbeda dengan masa sekarang. Terutama karena belum ada media sosial yang memungkinkan publik memberikan penilaian secara langsung.

 

“Zamannya berbeda. Harapan masyarakat tentu masih sama, yaitu timnas berprestasi, tapi tekanannya berbeda,” ujar Fakhri Husaini kepada JawaPos.com, Senin (9/8).

Menurut Fakhri, pemain dan pelatih Timnas Indonesia pada era 1990-an tidak menghadapi derasnya komentar digital seperti saat ini, ketika siapa pun bisa memberikan penilaian terhadap performa pemain.

Dia juga melihat sikap suporter pada masanya lebih santun, termasuk ketika Timnas Indonesia kalah adu penalti dari Thailand pada final SEA Games 1997 di Stadion GBK.

“Tugas sebagai kapten, tidak mempengaruhi penampilan saya, ini hanya tugas biasa, yang membedakan hanya terletak pada ban yang melekat di lengan saya saja,” kata Fakhri.

Kebiasaan memimpin bahkan sudah tumbuh sejak kecil, ketika ia gemar mengatur teman-temannya saat bermain sepak bola di lapangan kampung.

Fakhri menyebut ada tiga momen yang paling membekas selama menjalankan tugas sebagai kapten Timnas Indonesia.

Pertama, ketika dia memimpin tim pada Pra-Piala Asia di Malaysia hingga lolos ke Piala Asia 1996 untuk pertama kalinya, lalu golnya ke gawang Singapura pada SEA Games 1997 yang mengantar Indonesia ke final, serta kekalahan dramatis melalui adu penalti melawan Thailand.

Mengapa transisi dari pemain nasional ke pelatih berjalan mulus?

Fakhri Husaini mengaku menikmati proses transisi dari pemain nasional, pemain profesional, hingga menjadi pelatih karena mendapat dukungan besar dari PS Pupuk Kaltim.

Karir profesional yang dia habiskan di klub tersebut membuat fase setelah pensiun sebagai pemain terasa lebih mudah untuk dijalani.

“Manajemen PS Pupuk Kaltim klub profesional yang berada di bawah tata kelola PT Pupuk Kaltim, sangat membantu saya melewati masa transisi ini dengan baik,” tutur Fakhri.

Pada 1998, dia menerima peluang menjadi karyawan PT Pupuk Kaltim sekaligus menolak tawaran bermain dari PDRM FA, klub yang ketika itu berkompetisi di Liga 1 Malaysia.

Pilihan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Fakhri setelah meninggalkan lapangan sebagai pemain.

Pengalaman sebagai pemain profesional kemudian menjadi bekal ketika ia melanjutkan karier di dunia kepelatihan dan menangani kelompok usia muda Timnas Indonesia.

Kontribusi Fakhri Husaini untuk sepak bola Indonesia saat ini

Fakhri kini mengemban amanah sebagai Direktur Teknik ASIOP Football Academy dengan fokus utama pada pengembangan pemain muda.

Peran tersebut memberinya tantangan baru karena tanggung jawab sebagai pemain, pelatih, dan direktur teknik memiliki tuntutan berbeda.

“Saya sangat menikmati setiap tantangan ini, khususnya tantangan untuk melahirkan pemain muda yang berkualitas,” ujar Fakhri.

Pengalaman menangani Timnas Indonesia U-16 dan U-19 menjadi modal penting untuk membantu ASIOP Football Academy sekaligus berkontribusi terhadap masa depan sepak bola Indonesia.

Fakhri menilai Indonesia sebenarnya tidak pernah kehabisan talenta sepak bola, tetapi persoalan utama terletak pada sistem pengembangannya.

“Indonesia tidak pernah kekurangan pemain berbakat, yang kita tidak punya adalah tata kelola pengembangan pemain muda yang berkualitas ekosistem Youth Development yang terintegrasi dan berkelanjutan belum terwujud,” kata Fakhri.

Apa pesan Fakhri untuk kapten Timnas Indonesia era modern?

Tantangan kapten Timnas Indonesia saat ini dinilai lebih kompleks karena harus memimpin pemain lokal dan diaspora dalam satu ruang ganti.

Menurut Fakhri, kapten wajib memiliki kemampuan fisik, teknik, taktik, mental, komunikasi, dan kepemimpinan yang lebih baik dari rekan-rekannya.

Kemampuan komunikasi juga menjadi aspek penting karena kapten harus mampu menghadapi berbagai situasi, termasuk merespons kemarahan suporter Timnas Indonesia.

“Termasuk juga harus punya keterampilan berkomunikasi untuk merespon kemarahan suporter timnas,” ujar Fakhri.

Bagi Fakhri, warisan terbesar dalam sepak bola Indonesia bukan sekadar status sebagai mantan kapten, melainkan jejak prestasi yang pernah dicatat.

Dia ingin dikenang sebagai kapten Timnas Indonesia yang membawa tim lolos ke Piala Asia untuk pertama kali serta sukses memimpin anak-anak muda Indonesia meraih AFF Cup U-16 untuk pertama kali dan lolos ke babak 8 besar AFC Cup juga untuk pertama kali.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah