← Beranda
Eksplorasi Visual ke Imajinasi! Cara Bonek Tunanetra Menyaksikan 4 Gol Persebaya Surabaya ke Gawang PSBS Biak
Moch. Rizky Pratama PutraSelasa, 5 Mei 2026 | 15.11 WIB
Tiga Bonek tunanetra menikmati laga Persebaya Surabaya vs PSBS Biak melalui suara dan atmosfer stadion. (Persebaya)

 

JawaPos.com — Tiga Bonek tunanetra asal Surabaya, Dewa, Brian, dan Ade, merasakan langsung atmosfer laga Persebaya Surabaya vs PSBS Biak di Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (2/5/2026), dan menyaksikan kemenangan 4-0 lewat suara, getaran, serta kebersamaan yang menggetarkan hati. Pengalaman ini menegaskan sepak bola tak hanya soal visual, tetapi juga rasa dan imajinasi yang melampaui keterbatasan.

Bagaimana Bonek Tunanetra Menikmati Pertandingan di Stadion?

Dewa, Brian, dan Ade menikmati pertandingan dengan mengandalkan suara komentator sebagai panduan utama jalannya laga.

Baca Juga: Statistik yang Bikin Francisco Rivera Pantas Sebagai Kapten Persebaya Surabaya Gantikan Bruno Moreira

Mereka menyusun gambaran permainan di kepala berdasarkan narasi, tempo suara, dan reaksi penonton di sekitar.

“Kami menikmati pertandingan dari suara komentator. Dari situ kami bisa memahami jalannya permainan dan membayangkan apa yang terjadi di lapangan,” ujar Dewa dengan penuh antusias.

Ia menyebut, pengalaman ini menjadi cara unik untuk “melihat” sepak bola tanpa harus menggunakan penglihatan.

Baca Juga: Bernardo Tavares Ucap Terima Kasih! Usai Persebaya Surabaya Menang 3 Laga Beruntun dan Ulang Tahunnya Dirayakan

Kombinasi suara sorak, teriakan suporter, hingga dentuman drum tribun menjadi elemen penting dalam membangun suasana pertandingan di benak mereka.

Setiap perubahan volume dan ritme menjadi penanda momen krusial seperti serangan, peluang, hingga gol.

Mengapa Imajinasi Jadi Kunci Menonton Sepak Bola?

Imajinasi menjadi alat utama bagi Bonek tunanetra untuk mengikuti detail pertandingan secara utuh. Dengan menghafal nama pemain dan posisi mereka, ketiganya mampu membangun alur permainan secara mental.

“Kalau sudah hafal nama-nama pemain, kami bisa tahu siapa yang menguasai bola. Dari situ kami membangun gambaran sendiri di pikiran, seperti menonton dengan cara kami,” tutur Dewa yang juga berprofesi sebagai guru di Gerakan Tunanetra Mengaji.

Metode ini membuat mereka tidak sekadar mendengar, tetapi benar-benar “mengalami” pertandingan. Dalam 90 menit laga, setiap operan, duel, dan gol terasa hidup melalui narasi yang mereka susun sendiri di dalam pikiran.

Apa yang Membuat Momen Ini Begitu Spesial?

Baca Juga: Menang 4-0, Persebaya Surabaya Justru Rangkul Lawan! Momen Haru Persaudaraan di Sepak Bola

Pertandingan berakhir dengan kemenangan telak 4-0 untuk Persebaya Surabaya, hasil yang memperkuat euforia di tribun.

Empat gol tanpa balas menjadi hadiah sempurna bagi pengalaman pertama mereka menyaksikan langsung di stadion.

Bagi Dewa, momen ini bukan hanya soal skor, tetapi tentang energi kolektif yang selama ini hanya ia bayangkan.

“Senang sekali bisa jadi bagian dari suporter di stadion. Saya suka suasananya, apalagi saat semua menyanyikan Song for Pride bersama. Rasanya merinding,” katanya.

Baca Juga: Kapten Persebaya Surabaya Berjasa Besar Saat Libas PSBS Biak 4-0, Ini Pesan Bonek ke Bruno Moreira!

Getaran tribun saat suporter melompat dan bernyanyi bersama memberi sensasi fisik yang tidak tergantikan. Itu menjadi pengalaman multisensori yang memperkaya cara mereka menikmati sepak bola.

Apa Makna Kehadiran Mereka bagi Sepak Bola?

Kehadiran tiga Bonek tunanetra ini menjadi simbol stadion adalah ruang inklusif bagi semua kalangan. Sepak bola tidak memiliki batas, termasuk bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan.

Fakta ini memperkuat pesan pengalaman menonton tidak selalu bergantung pada visual.

Justru, dengan pendekatan berbeda, mereka menemukan makna yang lebih dalam tentang kebersamaan dan loyalitas terhadap klub.

Dalam konteks ini, Persebaya Surabaya tidak hanya menjadi tim sepak bola, tetapi juga medium yang menyatukan berbagai latar belakang. Stadion berubah menjadi ruang empati, solidaritas, dan kebahagiaan kolektif.

Bagaimana Atmosfer Stadion Dirasakan Tanpa Melihat?

Atmosfer stadion diterjemahkan melalui suara, getaran, dan interaksi sosial di sekitar mereka. Nyanyian suporter, aba-aba chant, hingga gema dari pengeras suara menjadi peta emosi yang mereka rasakan sepanjang pertandingan.

Momen seperti gol pertama hingga keempat terasa melalui lonjakan volume sorak yang tiba-tiba meledak. Dari situ, mereka tahu terjadi sesuatu yang besar di lapangan, bahkan tanpa melihat langsung.

Kebersamaan dengan suporter lain juga memperkuat pengalaman tersebut. Sentuhan, tepukan bahu, dan nyanyian bersama menjembatani keterbatasan menjadi koneksi emosional yang kuat.

Mengapa Kisah Ini Penting untuk Publik?

Kisah ini mengingatkan aksesibilitas dalam olahraga masih perlu terus diperluas. Pengalaman Dewa dan kawan-kawan menunjukkan dengan sedikit dukungan, semua orang bisa menikmati sepak bola secara utuh.

Data UEFA dalam kampanye mereka #EqualGame menunjukkan inklusivitas dalam stadion masih menjadi isu di banyak tempat, terutama bagi penyandang disabilitas.

Kehadiran mereka di laga ini menjadi contoh nyata bagaimana ruang publik bisa lebih ramah dan terbuka.

Lebih dari itu, cerita ini menyentuh sisi human interest yang jarang terekspos. Di balik skor 4-0, ada kisah tentang perjuangan, adaptasi, dan cinta yang tulus terhadap klub.

Baca Juga: Bruno Moreira Supersub! 2 Assist jadi Bukti Peran Vital Sang Kapten Persebaya Surabaya

Apa Pesan yang Bisa Diambil dari Pengalaman Ini?

Pesan utamanya sederhana namun kuat: sepak bola adalah milik semua orang. Tidak peduli keterbatasan yang dimiliki, setiap orang berhak merasakan euforia yang sama.

Dewa, Brian, dan Ade membuktikan dengan kreativitas dan semangat, batas bisa ditembus. Mereka tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari denyut nadi tribun.

Di tengah gemuruh stadion, suara menjadi panduan, rasa menjadi penguat, dan kebersamaan menjadi jembatan. Karena pada akhirnya, Persebaya Surabaya untuk semua.

EDITOR: Edi Yulianto