← Beranda
Dugaan Rasisme di EPA Bikin Gerah! Erick Thohir Desak Klub dan Operator Liga Bertindak Tegas
Moch. Rizky Pratama PutraKamis, 23 April 2026 | 02.36 WIB
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan komitmen tegas melawan rasisme di sepak bola Indonesia. (PSSI)
 

JawaPos.com — Isu dugaan rasisme di kompetisi Elite Pro Academy (EPA) memantik perhatian serius dari Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Ia menegaskan, sepak bola nasional tidak boleh memberi ruang sedikit pun bagi tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan tersebut.

Dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (22/4/2026), Erick menegaskan sikap tegas PSSI terhadap segala bentuk rasisme.

Ia menyebut, baik dalam kompetisi usia muda maupun profesional, tindakan rasis harus ditangani secara serius, tegas, dan penuh tanggung jawab.

Baca Juga: Kecam Insiden ‘Tendangan Kungfu’ Fadly Alberto di EPA U-20, Pelatih Persija Jakarta: Ini Masalah Serius!

Menurut Erick, sepak bola bukan sekadar soal menang dan kalah di atas lapangan. Lebih dari itu, olahraga ini harus menjadi ruang pembentukan karakter pemain sejak usia dini.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepak bola. Baik di kancah internasional dan juga nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik," ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya nilai-nilai dasar dalam pembinaan pemain muda. Erick ingin memastikan generasi pesepak bola Indonesia tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga matang secara mental dan sikap.

Karena itu, ia meminta operator kompetisi, yakni I-League, untuk mengambil peran lebih aktif. Tidak hanya mengelola pertandingan, tetapi juga menjaga atmosfer kompetisi tetap sehat dan edukatif.

Baca Juga: Sumardji Beri Pembelaan! Fadly Alberto Resmi Dicoret Timnas U-20, Buntut Tendangan Kungfu di Laga EPA Bhayangkara FC

Selain itu, klub-klub peserta di Liga 1, Liga 2, hingga EPA diminta terus menanamkan sikap saling menghargai dan empati. Erick menilai, lingkungan kompetisi harus menjadi tempat aman bagi semua pemain untuk berkembang.

PSSI juga mendorong penguatan edukasi terkait anti-rasisme dan nilai-nilai sportivitas. Sosialisasi harus dilakukan secara konsisten di seluruh level, agar pesan tersebut benar-benar tertanam dalam diri pemain.

Tak hanya itu, pengawasan pertandingan juga menjadi sorotan penting. Erick menilai, kontrol yang ketat diperlukan agar kompetisi usia muda benar-benar menjadi ruang belajar yang positif dan mendidik.

“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik," lanjutnya.

Baca Juga: Kisruh Tendangan Kungfu di EPA U-20, Komentar Sekjen PSSI Bisa Bikin Nangis Pelakunya

Kasus dugaan rasisme ini juga melibatkan pemain dari Bhayangkara FC dan Dewa United.

Kedua klub dinilai telah mengambil langkah positif dengan mempertemukan pemain yang terlibat untuk menyelesaikan masalah secara damai.

Erick pun mengapresiasi langkah tersebut sebagai bentuk kedewasaan dalam menyikapi konflik. Ia menilai, upaya damai ini mencerminkan nilai persatuan yang harus dijaga dalam sepak bola Indonesia.

"Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Pancasila, bahwa meskipun kita berbeda-beda daerah, tapi kita semua ini berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain," pungkasnya.

Baca Juga: Pelatih Timnas Indonesia U-20 Nova Arianto Sebut Ada Sanksi Pemain Timnas Terlibat Keributan di EPA U-20

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh insan sepak bola nasional. Di balik kompetisi dan ambisi meraih prestasi, ada nilai-nilai kemanusiaan yang tidak boleh dilupakan.

Sepak bola Indonesia kini dihadapkan pada tantangan untuk berbenah, tidak hanya dari sisi kualitas permainan. Tetapi juga dalam membangun budaya yang menjunjung tinggi rasa hormat, empati, dan persatuan.

Momentum ini bisa menjadi titik balik pembinaan usia muda. Jika dikelola dengan serius, EPA bukan hanya melahirkan pemain hebat, tetapi juga pribadi yang berkarakter kuat.

Dengan komitmen bersama dari PSSI, operator liga, dan klub, harapan untuk menciptakan sepak bola yang bersih dari rasisme bukan hal mustahil.

Justru dari sinilah masa depan sepak bola Indonesia bisa dibangun dengan fondasi yang lebih kokoh.

EDITOR: Edi Yulianto