← Beranda
Gaji Nggak Dibayar, Pemain Terlantar! Krisis PSBS Biak Makin Parah hingga Latihan Terhenti dan Pemain Asing Terusir
Moch. Rizky Pratama PutraKamis, 16 April 2026 | 04.04 WIB
Kondisi krisis PSBS Biak membuat pemain kesulitan berlatih hingga terancam kehilangan tempat tinggal. (PSBS)

 

JawaPos.com — Situasi memprihatinkan tengah melanda PSBS Biak. Gaji pemain dan staf yang tak kunjung dibayar membuat kondisi internal tim kian genting hingga berdampak langsung pada aktivitas latihan.

Kondisi ini terungkap lewat surat resmi yang diterima JawaPos.com pada Rabu (15/4/2026). Isi surat tersebut menggambarkan betapa berat situasi yang dihadapi para pemain dan staf dalam beberapa bulan terakhir.

“Kepada PSBS Biak, iLeague, dan PSSI, dengan hormat, semoga surat ini menemukan Anda dalam keadaan sehat,” demikian pembuka surat tersebut.

Baca Juga: Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026

Kalimat itu menjadi awal dari keluhan panjang yang mengungkap krisis serius di tubuh klub.

Dalam surat itu disebutkan keterlambatan pembayaran gaji sudah berlangsung cukup lama. Beberapa pemain dan staf bahkan tidak menerima haknya selama dua setengah hingga tiga bulan.

“Selama beberapa bulan terakhir, telah terjadi keterlambatan pembayaran gaji, di mana beberapa individu tidak menerima pembayaran selama kurang lebih dua setengah bulan, dan yang lainnya hingga tiga bulan,” tulis perwakilan pemain dan staf.

Baca Juga: Fakta Menarik Jelang Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Kurniawan Dwi Yulianto Punya Kedekatan Unik!

Kondisi ini membuat situasi finansial mereka semakin tertekan.

Meski begitu, para pemain dan staf menegaskan tetap menghormati klub. Mereka tidak ingin menciptakan konflik, melainkan berharap ada solusi yang adil dan konstruktif.

“Kami ingin menegaskan bahwa kami tetap menghormati PSBS Biak sebagai klub, serta liga dan federasi. Niat kami bukan untuk menciptakan konflik, melainkan untuk mencari solusi yang konstruktif dan adil,” lanjut isi surat tersebut.

Namun, dampak keterlambatan gaji kini sudah meluas ke aspek kehidupan sehari-hari. Para pemain mulai kesulitan memenuhi kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi hal paling mendasar.

“Dalam beberapa kesempatan, kebutuhan dasar seperti air minum setelah sesi latihan tidak selalu tersedia,” tulis mereka. Situasi ini tentu sangat memprihatinkan bagi sebuah klub profesional.

Tak hanya itu, fasilitas akomodasi juga ikut terdampak. Pemain lokal dilaporkan tidak mendapatkan makanan yang layak selama berada di tempat tinggal yang disediakan klub.

Baca Juga: Rekor Persebaya Surabaya Rusak! Persib Bandung Biang Kerok Patahkan Rekor Green Force di Super League 2025/2026

“Selain itu, saat ini tidak tersedia makanan di akomodasi bagi pemain lokal,” lanjut isi surat. Hal ini memperlihatkan krisis tidak hanya soal gaji, tetapi juga menyentuh kesejahteraan dasar pemain.

Masalah semakin kompleks ketika kendaraan tim ditarik. Kondisi ini membuat mobilitas pemain dan staf menjadi terganggu, termasuk untuk menjalani aktivitas latihan maupun pertandingan.

“Kendaraan tim telah ditarik,” ungkap mereka. Situasi ini jelas memperparah kondisi operasional tim secara keseluruhan.

Baca Juga: Capai 100 Laga di Persebaya Surabaya, Simak Perolehan Gol, Assist, Kartu Kuning, dan Kartu Merah Catur Pamungkas

Yang lebih mengejutkan, pemain asing juga mengalami tekanan berat. Mereka bahkan menerima pemberitahuan untuk mengosongkan tempat tinggal akibat masalah pembayaran.

“Pemain asing menerima pemberitahuan pengosongan tempat tinggal akibat kurangnya pembayaran,” tulis surat tersebut. Kondisi ini membuat para pemain asing berada dalam situasi yang sangat tidak nyaman.

Tak berhenti di situ, kegiatan latihan tim pun ikut terdampak. Bahkan dalam beberapa kesempatan, sesi latihan tidak bisa dilakukan karena tidak adanya fasilitas yang tersedia.

“Bahkan, pada beberapa waktu, sesi latihan tidak dapat dilakukan karena tidak tersedianya lapangan latihan,” lanjut mereka. Hal ini menunjukkan krisis sudah menyentuh aspek paling fundamental dalam sepak bola.

Para pemain dan staf menilai kondisi ini sudah berada di titik kritis. Mereka merasa perlu adanya intervensi dari pihak terkait agar situasi tidak semakin memburuk.

“Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, kami percaya bahwa situasi ini telah mencapai tingkat yang kritis,” tegas mereka. Pernyataan ini menjadi alarm keras bagi dunia sepak bola nasional.

Upaya komunikasi dengan manajemen klub juga disebut tidak membuahkan hasil. Panggilan dan pesan yang dikirimkan tidak mendapatkan respons hingga saat ini.

Baca Juga: Tembus 100 Laga Bersama Persebaya, Arief Catur Pamungkas Ungkap Perjalanan Panjang dan Harapan Juara

“Kami juga telah beberapa kali mencoba menghubungi manajemen klub untuk memperoleh kejelasan mengenai situasi ini. Namun, hingga saat ini, panggilan dan pesan kami belum mendapatkan tanggapan,” tulis mereka lagi.

Minimnya komunikasi membuat para pemain dan staf semakin bingung. Mereka tidak mendapatkan arahan yang jelas terkait masa depan mereka di klub.

Karena itu, mereka meminta bantuan kepada pihak liga dan federasi. Harapannya, masalah ini bisa diselesaikan secara profesional dan penuh hormat.

“Oleh karena itu, kami memohon dukungan dan bimbingan Anda untuk membantu menyelesaikan masalah ini secara profesional dan penuh hormat,” lanjut isi surat tersebut.

Baca Juga: PR Mauricio Souza Usai Persija Jakarta Hantam Persebaya Surabaya 3-0: Fokus Tingkatkan Konsistensi!

Dalam upaya mencari solusi, para pemain dan staf juga menggandeng APPI. Langkah ini diambil agar proses penyelesaian berjalan sesuai jalur yang tepat.

“Kami juga telah menghubungi dan sedang bekerja sama dengan APPI untuk memproses masalah ini,” tutup surat tersebut. Keterlibatan APPI diharapkan bisa memberikan perlindungan dan kejelasan bagi para pemain.

Kondisi ini menjadi sorotan serius bagi kompetisi sepak bola nasional. Jika tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin akan berdampak pada citra liga secara keseluruhan.

Kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan klub. Kesejahteraan pemain dan staf seharusnya menjadi prioritas utama dalam menjaga keberlangsungan tim.

Kini publik menunggu langkah konkret dari pihak manajemen klub, operator liga, hingga federasi. Semua pihak diharapkan bisa segera turun tangan agar krisis di PSBS Biak tidak semakin memburuk.

EDITOR: Banu Adikara