← Beranda
Perjalanan Spiritual Jordi Amat di Timnas Indonesia! Bangga Berjuang dengan Bintang Muda Persija Jakarta
Moch. Rizky Pratama PutraKamis, 2 April 2026 | 16.31 WIB
Pemain Timnas Indonesia Jordi Amat pada pertandingan melawan Saint Kitts & Nevis dalam di FIFA Series 2026, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat (27/3/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com — Langkah Jordi Amat bersama Timnas Indonesia di FIFA Series 2026 bukan sekadar soal menit bermain. Ada perjalanan baru yang ia rasakan, terutama saat dipercaya menjalankan peran berbeda di lapangan.

Empat pemain Persija Jakarta yang memperkuat Timnas Indonesia telah kembali ke markas latihan pada Rabu (1/4/2026). Mereka adalah Rizky Ridho, Jordi Amat, Dony Tri Pamungkas, dan Mauro Zijlstra.

Baca Juga: Persib Bandung Fokus Total Curi Poin, Bobotoh Dilarang ke Kandang Semen Padang!

Di ajang FIFA Series 2026, kontribusi keempatnya cukup beragam. Rizky Ridho tampil konsisten sebagai starter di lini belakang saat melawan St. Kitts and Nevis dan Bulgaria.

Sementara itu, Dony Tri Pamungkas mendapat kesempatan bermain di dua laga dengan peran berbeda. Ia tampil penuh di laga pertama dan masuk sebagai pemain pengganti saat menghadapi Bulgaria.

Mauro Zijlstra sempat mencuri perhatian lewat golnya ke gawang St. Kitts and Nevis. Namun, cedera membuatnya absen di pertandingan berikutnya.

Kisah menarik justru datang dari Jordi Amat yang hanya tampil sekali. Meski begitu, penampilannya menyimpan cerita penting dalam perjalanan kariernya.

Pada laga tersebut, pelatih John Herdman memberinya peran sebagai gelandang. Posisi ini berbeda dari peran aslinya sebagai bek tengah, namun bukan hal asing dalam beberapa pekan terakhir.

Perubahan posisi ini juga selaras dengan perannya di klub di bawah arahan Mauricio Souza. Ia mulai terbiasa naik ke lini tengah untuk membantu membangun serangan.

Jordi pun tidak melihat perubahan ini sebagai beban. Justru sebaliknya, ia menikmati setiap proses yang dijalani di lapangan.

Baca Juga: Magis Kaoru Mitoma di Wembley! Jepang Negara Asia Pertama Kalahkan Inggris di Rumah Sendiri

“Kami mencoba bermain sepak bola dengan versi terbaik dan membangun banyak koneksi antarlini. Bermain sebagai gelandang adalah tantangan. Setiap hari saya belajar hal baru, itu sangat menarik,” kata Jordi.

Pernyataan itu menunjukkan sisi lain dari pemain berusia 34 tahun tersebut. Ia tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga terus membuka diri terhadap peran baru.

Secara statistik bersama Persija Jakarta di Super League 2025/2026, kontribusinya cukup solid. Ia telah tampil dalam 22 pertandingan sebagai starter dengan rata-rata 87 menit per laga.

Total 1.919 menit bermain menjadi bukti konsistensinya di lapangan. Dari sisi ofensif, ia juga menyumbang tiga gol meski berposisi sebagai pemain bertahan.

Kemampuan distribusi bolanya juga menonjol dengan akurasi operan mencapai 89 persen. Rata-rata 40,6 umpan per pertandingan menunjukkan perannya sebagai pengatur ritme permainan.

Tak hanya itu, ia juga mencatat 2,6 umpan panjang per laga dengan akurasi 58 persen. Hal ini memperkuat perannya sebagai ball-playing defender yang mampu memulai serangan dari belakang.

Dalam aspek pertahanan, ia mencatat enam clean sheet dan 7,4 recovery per pertandingan. Angka ini menunjukkan kontribusinya dalam menjaga keseimbangan tim.

Namun, ada catatan yang perlu diperbaiki. Ia tercatat melakukan empat kesalahan yang berujung peluang bagi lawan.

Dari sisi duel, persentase kemenangan yang hanya 36 persen juga menjadi perhatian. Ini menjadi indikasi perannya yang lebih dinamis terkadang mengurangi fokusnya dalam duel langsung.

Analisis heatmap menunjukkan dominasi Jordi Amat di area tengah lapangan. Ia tidak hanya bertahan di lini belakang, tetapi juga aktif naik ke lini tengah.

HEATMAP Jordi Amat

Heatmap Jordy Amat. (Dok. Istimewa)
Heatmap Jordy Amat. (Dok. Istimewa)

Warna merah pekat di area sentral memperlihatkan perannya sebagai penghubung antarlini. Ia kerap menjadi titik awal dalam proses build-up permainan.

Cakupan area yang luas juga menegaskan mobilitasnya. Ia mampu menjangkau sisi kanan dan kiri, bahkan hingga masuk ke area sepertiga akhir lawan.

Hal ini membuatnya terlihat seperti gelandang bertahan modern. Peran ini semakin penting dalam sistem permainan yang mengandalkan penguasaan bola.

Namun, mobilitas tinggi ini juga membawa risiko. Ketika terlalu jauh dari posisi awal, celah di lini belakang bisa terbuka jika tidak diantisipasi rekan setim.

Di sinilah pentingnya koordinasi tim secara keseluruhan. Peran Jordi akan maksimal jika didukung keseimbangan antar lini.

Perjalanan ini menjadi fase penting dalam kariernya. Ia tidak hanya bertahan sebagai bek tengah klasik, tetapi berevolusi menjadi pemain yang lebih fleksibel.

Bersama para pemain muda Persija Jakarta, ia juga menunjukkan peran sebagai mentor. Pengalaman dan adaptasinya menjadi contoh nyata bagi generasi berikutnya.

Perjalanan spiritual di lapangan ini menunjukkan satu hal. Sepak bola bukan hanya soal posisi, tetapi tentang bagaimana pemain terus berkembang dan memberi dampak bagi tim.

EDITOR: Hendra