JawaPos.com—Eks bintang Persipura Jayapura dengan nilai pasar sekitar Rp 800 jutaan kini mendadak menganggur. Marinus Wanewar resmi dicoret dari skuad Mutiara Hitam.
Pengumuman pencoretan Marinus Wanewar disampaikan melalui akun Instagram resmi Persipura pada Jumat (5/12). Dia dilepas bersama enam pemain lain meski baru tampil empat kali dan mencetak satu gol musim ini.
Situasi ini memicu desakan Bonek yang menilai Persebaya Surabaya butuh sosok bomber lokal berkarakter kuat untuk mengangkat performa lini depan.
Keputusan itu langsung ramai diperbincangkan karena Persebaya Surabaya sedang mengalami krisis produktivitas gol dalam empat laga terakhir. Kolom komentar akun resmi klub langsung dibanjiri permintaan suporter yang menginginkan tambahan tenaga baru di barisan penyerang.
Bonek menyebut nama Marinus sebagai kandidat paling realistis untuk didatangkan.
“@officialpersebaya marinus ambil kah,” tulis salah satu akun.
Komentar lain datang dari salah satu Bonek yang menyebut kondisi Persebaya sedang butuh amunisi segar.
“@officialpersebaya Ndang di angkut iku Marinus Jol koyok e awakmu butuh striker tambahan,” sambung lainnya.
Ada pula suporter yang menautkan harapan lebih besar terhadap karakter pemain Papua yang dikenal eksplosif.
“Merapat ke Surabaya... @officialpersebaya butuh pemain dari Papua,” ungkap akun lainnya.
Meski usia Marinus kini 28 tahun, Bonek menilai kualitasnya sebagai eks pemain Timnas Indonesia masih diperlukan. Kehadirannya dianggap berpotensi memberi warna baru pada lini depan Green Force yang tengah kehilangan taji.
Marinus Maryanto Wanewar lahir di Sarmi, Papua pada 24 Februari 1997 dan tumbuh sebagai pemain yang lekat dengan identitas Persipura Jayapura. Dia mulai dikenal setelah bermain untuk Reliv Christa pada 2015 sebelum naik kelas ke Persipura setahun setelahnya.
Promosinya ke tim senior langsung disambut dengan debut cepat di kasta tertinggi. Tiga bulan berselang dia tampil di Super League 2015/2016 selama 25 menit yang menjadi pembuktian awal potensinya.
Perjalanan Marinus tak hanya berhenti di Persipura. Dia sempat mencari pengalaman bersama Bhayangkara FC, Persela Lamongan, dan Persis Solo.
Meski begitu namanya tetap paling identik dengan Mutiara Hitam yang menjadi rumah utamanya hampir satu dekade. Selama berseragam Persipura dia menorehkan 66 penampilan dengan tujuh gol, tujuh asis, dan total 2.872 menit bermain. Catatan itu menggambarkan kesetiaan dan kontribusinya meski musim terakhir berjalan tidak ideal.
Saat bergabung dengan Bhayangkara FC, dia tampil 18 kali dengan tiga gol dan mencatat total 834 menit permainan. Sementara bersama Persis Solo, dia hanya mencatat satu penampilan selama lima menit tanpa banyak kesempatan beradaptasi.
Dari sisi kompetisi, pengalaman Marinus cukup lengkap di level domestik. Dia tampil 43 kali di Super League, 28 kali di Championship, serta 14 kali di Liga 2 Relegation Playoff.
Kontribusinya di Timnas Indonesia kelompok usia juga mencuri perhatian. Dia mencetak tiga gol dalam empat pertandingan bersama Timnas U-22 dan menambah lima gol dalam delapan laga bersama Timnas U-23.
Meski tak mencetak gol dalam dua penampilan bersama Timnas senior, reputasinya tetap memberi nilai tersendiri bagi klub yang mencari sosok penyerang pekerja keras. Karakternya dikenal kuat dalam duel fisik dan agresif dalam menekan lawan.
Musim ini dia kalah bersaing dari Enzo Celestine yang mendapat menit bermain lebih banyak di Persipura. Situasi itu membuat kontribusinya minim dan berujung pada keputusan klub melepasnya dari daftar pemain.
Sehari setelah pengumuman resmi, status Marinus berubah menjadi tanpa klub. Kondisi ini membuatnya berada pada momen ideal untuk mencari tim baru yang bisa memberi ruang bermain lebih luas.
Tinggi badan 181 cm dan dominasi kaki kanan membuatnya cocok sebagai target man. Gaya bermainnya yang keras dan langsung dianggap sesuai dengan kebutuhan Persebaya Surabaya yang sedang miskin variasi serangan.
Empat pertandingan tanpa perubahan signifikan membuat desakan suporter semakin keras. Bonek menilai sosok seperti Marinus bisa menjadi pemecah kebuntuan sekaligus memberi warna berbeda dalam skema serangan.
Persebaya Surabaya memang belum menunjukkan langkah konkret untuk memboyong Marinus, namun wacana tersebut terus menggema di kalangan pendukung.
Ketersediaan sang bomber tanpa klub membuat peluang ini terasa lebih realistis dibanding opsi lain. Momentum ini bisa menjadi peluang Persebaya Surabaya untuk mempercepat perbaikan performa jika ingin keluar dari tekanan.
Marinus menawarkan pengalaman, fisik kuat, dan motivasi besar untuk kembali bersaing sehingga dianggap cocok menjadi opsi darurat yang bisa langsung bekerja.