JawaPos.com — Proyek Gagal Serdadu Balkan Persebaya Surabaya kini menjadi sorotan setelah performa Green Force anjlok di era Eduardo Perez. Pondasi yang diracik Paul Munster musim lalu terlihat runtuh lebih cepat dari dugaan banyak orang.
Saat Munster mendatangkan tiga pemain Balkan pada Super League 2024/2025, banyak yang percaya Persebaya Surabaya sedang membangun proyek ambisius.
Tiga nama itu adalah Slavko Damjanovic, Dejan Tumbas, dan Dime Dimov, yang masing-masing datang dengan reputasi besar di level Asia.
Munster menilai mereka bukan sekadar pemain asing yang mengisi kuota regulasi. Ia dengan tegas mengatakan, “Tidak ada preferensi khusus, mereka punya latar belakang bermain di Asia, jadi ini penting bagi saya.”
Slavko menjadi pilar kokoh dan cepat menyatu dengan karakter Persebaya Surabaya.
Ia bahkan mengakui kenyamanannya sejak awal dengan menyebut, “Saya sangat senang di sini, kita punya tim dengan kualitas yang bagus dan pelatih yang hebat.”
Dejan yang dikenal serba bisa langsung menjadi pusat kreativitas lini tengah. Ia bahkan dijuluki bomber baru oleh Bonek karena kualitas penyelesaiannya di momen krusial.
Sementara itu, Dime membawa intensitas yang jarang dimiliki pemain bertahan di Super League. Mobilitas dan energinya membuat sisi lapangan Persebaya Surabaya hidup sepanjang pertandingan.
Munster menjelaskan latar belakang berbeda ketiganya justru membantu proses adaptasi.
“Mereka semua bermain di negara yang berbeda, Dejan dari Liga Tajikistan, Slavko pernah bermain di India sebelumnya, Dime pernah bermain di liga teratas di Bulgaria,” ujarnya menegaskan alasan memilih mereka.
Adaptasi trio Balkan itu berlangsung cepat berkat pengalaman mereka di kompetisi Asia. Munster kembali menambahkan, “Dua dari tiga pemain itu sudah pernah bermain di Asia, jadi adaptasinya tidak begitu lama.”
Kontribusi mereka membuat Persebaya Surabaya tampil stabil dan penuh karakter musim lalu. Green Force menutup musim di posisi empat besar, prestasi penting setelah beberapa musim tidak konsisten.
Namun, kejutan datang ketika Paul Munster memutuskan hengkang setelah musim berakhir. Ia bahkan mengajak Slavko bergabung ke Bhayangkara FC di musim berikutnya.
Kepindahan itu meninggalkan lubang besar di struktur proyek Balkan. Meski demikian, manajemen tetap melanjutkannya ketika Eduardo Pérez mengambil alih kursi pelatih.
Di era Perez, empat pemain Balkan hadir menjadi tulang punggung baru. Mereka adalah Milos Raickovic, Dime Dimov, Risto Mitrevski, dan Dejan Tumbas.
Chemistry mereka terlihat natural sejak latihan pramusim. Milos bahkan mengatakan, “Saya merasa nyaman karena ada Dime dan Dejan, kami bisa saling bantu dalam komunikasi dan adaptasi.”
Eduardo Perez memberi apresiasi besar untuk kekompakan mereka. “Kami memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan tim dalam kondisi terbaik,” katanya optimistis pada Juni lalu.
Risto yang datang paling akhir juga langsung menyatu dengan ritme latihan. Ia mengaku antusias dan berkata, “Saya bersemangat memulai dengan klub baru saya, sejak latihan pertama saya merasakan besarnya tim Persebaya.”
Sebelum kompetisi dimulai, Persebaya Surabaya menjalani pemusatan latihan dengan pendekatan ilmiah.
Asisten pelatih Shin Sang-gyu menuturkan, “Sebagai pemain profesional, kita harus mengukur sejauh mana tingkat kebugaran seluruh pemain.”
Pemain juga wajib makan bersama untuk menjaga standar nutrisi. Data kebugaran dipakai sebagai dasar menyusun program individual agar performa tetap stabil sepanjang musim.
Tur Australia disiapkan sebagai tahap final adaptasi pemain baru. Laga melawan Football West All Star menjadi pengujian awal untuk seluruh komponen tim.
Pada fase pramusim itu, banyak yang menilai Persebaya Surabaya semakin matang. Pemain asing lengkap dan pemain Balkan terlihat menjanjikan di sesi latihan internal.
Namun, realitas Super League 2025/2026 ternyata jauh lebih keras dari rencana atas kertas. Persebaya Surabaya justru kesulitan menemukan ritme dan gagal menunjukkan progres signifikan.
Dalam 13 pertandingan, Green Force hanya menang empat kali. Mereka tercatat seri enam kali dan kalah tiga kali, dengan 15 gol dan 13 kebobolan.
Performa itu membuat posisi Perez makin tertekan. Ketika grafik permainan tak menunjukkan perubahan, manajemen akhirnya mengambil langkah tegas.
Pada 22 November 2025, Eduardo Perez resmi didepak dari kursi pelatih. Persebaya Surabaya kemudian menunjuk Uston Nawawi sebagai pelatih interim dalam dua laga terakhir putaran pertama.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar mengenai proyek Balkan. Apakah benar proyek tersebut gagal, atau justru hanya salah tangan setelah ditinggal arsitek utamanya?
Tanda-tanda inkonsistensi terlihat dari tidak sinkronnya pola permainan dengan karakter para pemain Balkan. Mereka sudah menunjukkan kerja keras, tetapi struktur taktik Pérez tidak mampu memaksimalkan potensi itu.
Beberapa laga menunjukkan pemain Balkan bekerja terlalu individual karena tidak ada pola terarah. Situasi itu membuat lini tengah dan pertahanan tidak stabil di momen-momen penting.
Padahal, kualitas individu empat pemain tersebut sebenarnya masih terlihat. Mereka menunjukkan profesionalisme tinggi, dan selalu jadi harapan di ini oleh Bonek.
Namun, sepak bola bukan sekadar soal kualitas individu. Kesalahan kecil dalam organisasi permainan membuat Persebaya Surabaya sering kehilangan momentum dan poin penting.
Kini, Persebaya Surabaya berada di posisi sembilan, jauh dari ekspektasi untuk bersaing di papan atas. Situasi ini membuat bursa transfer paruh musim terasa menegangkan bagi para pemain Balkan.
Manajemen tentu mengevaluasi semua aspek, termasuk komposisi pemain asing. Tidak tertutup kemungkinan ada yang dipertahankan dan ada yang dilepas.
Di sisi lain, peluang proyek Balkan bangkit masih terbuka bila ditangani pelatih dengan pendekatan yang tepat. Mereka butuh sosok yang mampu memaksimalkan kekuatan kolektif, seperti yang dilakukan Munster musim lalu.
Uston Nawawi kini memegang kunci sementara untuk menyelamatkan situasi. Tugasnya bukan hanya memperbaiki permainan, tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri pemain.
Sisa putaran pertama akan menjadi penentu masa depan proyek Balkan di Surabaya. Apakah akan dipertahankan atau justru dibongkar besar-besaran saat bursa paruh musim?
Publik kini menunggu langkah manajemen dalam beberapa minggu ke depan. Proyek Balkan mungkin belum sepenuhnya gagal, tetapi jelas sedang berada di titik kritis yang menentukan kelanjutannya.