← Beranda
Persebaya Surabaya Terpuruk: Trio Striker Asing Rp 12,61 Miliar Tak Berdaya
Moch. Rizky Pratama PutraMinggu, 30 November 2025 | 00.52 WIB
Persebaya Surabaya siap berjuang hingga akhir putaran pertama Super League 2025/2026. (Persebaya Surabaya)

JawaPos.com—Performa trio striker asing Persebaya Surabaya yang didatangkan musim ini belum memenuhi ekspektasi. Investasi besar dengan total nilai pasar Rp 12,61 miliar dari Mihailo Perovic, Dejan Tumbas, dan Diego Mauricio, belum memberikan dampak signifikan di lini depan.

Situasi kian terasa pahit karena Persebaya Surabaya baru membawa pulang satu poin saat menahan imbang Bhayangkara Presisi Lampung FC pekan ke-14 Super League 2025/2026. Tim yang kini ditangani pelatih interim Uston Nawawi itu masih kesulitan menemukan sentuhan mematikan di depan gawang.

Performa tak konsisten dan krisis setelah ditinggal pelatih kepala membuat Persebaya Surabaya tampak kehilangan arah di lapangan. Lini serang menjadi sorotan utama karena tak lagi mencetak gol sejak pekan ke-11 saat menjamu Persis Solo di Gelora Bung Tomo.

Gol terakhir dari striker Persebaya Surabaya bahkan terjadi tiga pekan lalu ketika Mihailo Perovic ikut mencatatkan namanya di papan skor bersama Francisco Rivera. Setelah itu, trio pemain depan Green Force seperti kehilangan tajinya dan kesulitan memecah kebuntuan.

Perovic sebenarnya memiliki potensi besar sebagai ujung tombak dan datang dengan nilai pasar mencapai Rp 4,35 miliar. Catatan dua gol dari 12 laga jelas belum sesuai harapan karena xG-nya mencapai 3,43 dan total percobaan mencapai 13 kali namun efektivitasnya masih rendah.

Striker asal Montenegro itu sudah tampil 929 menit tetapi minim kontribusi terhadap produktivitas tim. Dua keypass dan akurasi umpan 80 persen belum cukup untuk membuatnya tampil sebagai pemimpin lini serang seperti yang dibutuhkan Persebaya Surabaya.

Situasi berbeda namun tetap pelik dialami Dejan Tumbas yang nilai pasarnya kini berada di angka Rp 3,48 miliar. Pemain Serbia itu justru beberapa kali berubah posisi dari striker menjadi gelandang bertahan era Paul Munster dan fullback era Eduardo Perez. Sehingga ritme permainan ikut terganggu.

Dejan sudah tampil 827 menit dalam sepuluh pertandingan tetapi tak mencetak satu gol pun meski memiliki xG 2,59. Total sembilan percobaan tak memunculkan ancaman berarti dan keputusan kartu merah yang pernah diterimanya ikut memperburuk situasi.

Bonek pun mempertanyakan keputusan rotasi posisi yang membuat Dejan kehilangan peran aslinya sebagai penyerang tengah. Banyak yang meyakini dia bisa lebih tajam jika dikembalikan ke posisi naturalnya sebagai striker dan diberi kesempatan penuh di kotak penalti.

“Era PM jd DMF, Era Edu di Left Fullback, Edu Keluar jane iso berubah nak setelan pasar yakni balik jd CF atau Striker,” tulis salah satu Bonek.

Satu komentar menyebut Dejan sebenarnya punya potensi tetapi tak pernah diberi kesempatan utuh sebagai penyerang.

“Masih penasaran dengan tumbas jika diberi kesempatan lebih di striker,” tulis salah satu Bonek.

Suporter lain bahkan menyindir rotasi yang dianggap tak jelas hingga. “Jan rajelas kabeh,” ungkap seorang Bonek.

Sementara itu, Diego Mauricio yang memiliki nilai pasar tertinggi yakni Rp 4,78 miliar justru belum banyak memberi kontribusi karena minim menit bermain. Dia baru tampil dua kali dengan total 33 menit dan hanya melepaskan satu percobaan tanpa gol.

Mantan penyerang asal Brasil itu memiliki xG 0,05 dan belum memberikan assist maupun peluang berarti. Kondisi ini membuat publik mempertanyakan alasan perekrutan Diego yang sejauh ini lebih sering menonton dari bangku cadangan.

Minimnya kontribusi tiga pemain yang seharusnya menjadi mesin gol menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan suporter. Bonek bahkan mengungkapkan rasa frustrasi di media sosial karena sudah terlalu sering kecewa dengan performa striker asing yang tak kunjung gacor.

Beberapa komentar suporter mencerminkan rasa lelah dan kecewa, seperti sindiran mengenai setelan pasar atau keluhan pemain asing tak lebih baik dari pemain lokal.

Nada pesimistis mulai muncul karena lini depan Persebaya Surabaya seperti kehilangan identitas permainan menyerang yang dulu menjadi ciri khas.

“Rombak podo ae gk di rombak iya ngono ae. Wes pokok ciri khas ngeyel iku wes jikok arek suroboyo ae timbangane pemain asing podo ae,” tulis salah satu Bonek.

“Sedih sekali????,” tulis salah satu Bonek.

Di tengah tekanan performa, Persebaya Surabaya harus bergerak cepat untuk memperbaiki efektivitas lini depan agar tak semakin tertinggal di papan klasemen.

Dengan 17 poin di posisi kedelapan, peluang bersaing di papan atas masih terbuka jika trio striker ini mampu bangkit.

Pertanyaan besarnya kini adalah apakah Perovic, Dejan, dan Diego bisa menemukan ketajaman di pekan-pekan berikutnya. Atau justru mereka akan menambah daftar panjang striker asing yang gagal bersinar di Persebaya Surabaya dan membuat investasi Rp 12,61 miliar terasa sia-sia.

Harapan tetap ada karena kompetisi masih panjang dan setiap pemain memiliki kesempatan membalikkan keadaan. Namun waktu terus berjalan dan Persebaya Surabaya butuh gol sesegera mungkin agar tidak terus terpuruk dalam krisis yang berlarut-larut.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah