← Beranda
Kerangka Timnas Indonesia di Piala Dunia 2030! Pelajaran Penting dari Uzbekistan, Yordania, dan Cape Verde
Moch. Rizky Pratama PutraSabtu, 18 Oktober 2025 | 14.00 WIB
Marselino Ferdinan akan jadi tumpuan Timnas Indonesia di edisi Piala Dunia 2030. (Instagram @marselinoferdinan10)
 

JawaPos.com — Timnas Indonesia harus menatap masa depan dengan kepala tegak meski gagal menembus putaran final Piala Dunia 2026. Kekalahan dari Arab Saudi dan Irak di ronde keempat kualifikasi zona Asia menjadi akhir perjalanan Jay Idzes dkk, tapi bukan akhir dari mimpi besar sepak bola nasional.

Piala Dunia 2030 menjadi harapan baru bagi skuad Garuda untuk menebus kegagalan tersebut.

Dengan generasi muda yang terus berkembang, Indonesia punya kesempatan realistis untuk membangun tim yang lebih matang dan kompetitif empat tahun ke depan.

Generasi emas yang kini menghuni skuad Merah-Putih masih berada di usia produktif.

Generasi Emas Timnas Indonesia saat berburu tiket ke Piala Dunia 2030. (Dimas Pradipta/JawaPos)
Generasi Emas Timnas Indonesia saat berburu tiket ke Piala Dunia 2030. (Dimas Pradipta/JawaPos)

Nama-nama seperti Maarten Paes, Jay Idzes, Calvin Verdonk, Kevin Diks, Rizky Ridho, Dean James, Yakob Sayuri, Ole Romeny, Miliano Jonathans, hingga Mauro Zijlstra diyakini bisa menjadi pondasi kuat menuju Piala Dunia 2030.

Sebagian dari mereka masih akan berada di usia emas pada turnamen tersebut. Artinya, Garuda tak perlu membangun dari nol, melainkan memperkuat fondasi yang sudah ada dengan sistem pembinaan dan kontinuitas pelatih yang jelas.

Namun, pekerjaan rumah besar menanti PSSI dan seluruh elemen sepak bola nasional.

Karena sejarah membuktikan, lolos ke Piala Dunia bukan hanya perkara bakat atau naturalisasi pemain, tapi tentang kesinambungan sistem dan budaya sepak bola yang sehat.

Pelatih lokal dan pengamat sepak bola sepakat, generasi emas tanpa sistem hanyalah kilatan sesaat.

“Indonesia baru bisa menembus Piala Dunia 2030 jika memiliki kesinambungan sistem, bukan sekadar generasi emas,” ujar Agam Haris, asisten pelatih Deltras FC kepada JawaPos.com, Kamis (16/10/2025).

Pernyataan Agam menjadi peringatan penting bagi sepak bola Indonesia. Sebab, banyak negara yang berhasil lolos ke Piala Dunia hanya sekali dan kemudian tenggelam tanpa jejak karena tidak punya fondasi yang berkelanjutan.

Contoh konkret bisa dilihat dari Uzbekistan, Yordania, dan Cape Verde. Tiga negara tersebut menjadi teladan bagi tim-tim berkembang yang ingin menembus panggung terbesar sepak bola dunia melalui proses yang terencana.

Uzbekistan sukses karena pembinaan jangka panjang yang konsisten.

Mereka tidak bergantung pada pemain naturalisasi, tetapi fokus membangun stabilitas pelatih, pertahanan solid, serta pengembangan pemain muda yang berkarier di luar negeri.

Yordania menembus level baru dengan struktur tim yang seimbang dan striker tajam. Keberhasilan mereka lahir dari organisasi pertahanan yang rapi, strategi realistis, dan motivasi nasional yang luar biasa tinggi.

Sementara Cape Verde menunjukkan bagaimana pemain diaspora bisa menjadi aset besar bila dikelola dengan disiplin dan kontinuitas.

Tim kecil dari Afrika ini mengandalkan pemain yang berkarier di Eropa, tetapi tetap menjaga kedisiplinan taktik dan kohesi tim.

Dari ketiga negara itu, Indonesia bisa belajar kunci sukses bukan di naturalisasi instan, melainkan integrasi sistem yang berkelanjutan.

Pembinaan usia muda, kompetisi yang sehat, dan pelatih dengan visi panjang menjadi faktor penentu.

Kerangka timnas menuju Piala Dunia 2030 seharusnya menjadi kombinasi strategis antara pemain muda lokal dan pemain naturalisasi di usia emas.

Mereka yang kini berusia di bawah 25 tahun bisa menjadi tulang punggung tim saat memasuki usia matang di 2030.

Pemain Timnas Indonesia di bawah usia 30 tahun saat Piala Dunia 2030. (Dimas Pradipta/JawaPos)
Pemain Timnas Indonesia di bawah usia 30 tahun saat Piala Dunia 2030. (Dimas Pradipta/JawaPos)

Nama-nama seperti Marselino Ferdinan (21 tahun), Ivar Jenner (21), Rizky Ridho (23), dan Ramadhan Sananta (22) menjadi pilar penting dalam kerangka tersebut.

Di sisi lain, pemain seperti Ole Romeny, Jay Idzes, dan Maarten Paes bisa berperan sebagai figur senior yang memimpin dari dalam lapangan.

“Pondasi pemain muda lokal dan pemain naturalisasi usia emas akan jadi kombinasi ideal,” ujar Cak Beted, suporter sepak bola dari Bonek Writer Forum.

“Kita tidak boleh hanya mengandalkan naturalisasi semata, tapi harus menciptakan persaingan sehat di semua lini.”

Kata-kata Cak Beted mewakili suara banyak suporter.

Mereka ingin Timnas Indonesia dibangun dari keseimbangan antara potensi lokal dan kualitas naturalisasi, bukan ketimpangan seperti yang sempat terjadi menjelang Kualifikasi Piala Dunia 2026.

PSSI diharapkan bisa lebih selektif dan visioner dalam program naturalisasi berikutnya.

Pemain yang direkrut harus benar-benar punya kualitas di klubnya, bukan sekadar keturunan Indonesia. Mereka juga harus berperan sebagai mentor bagi talenta muda lokal.

Sementara itu, pelatih yang akan memimpin skuad menuju 2030 harus mampu memadukan dua kekuatan ini. Ia bukan hanya taktikus, tapi juga sosok yang memahami pentingnya kontinuitas pembinaan dan nilai nasional dalam tim.

Selain pelatih, liga lokal menjadi bagian vital dalam pembangunan kerangka timnas. Klub-klub Indonesia perlu berani memberi menit bermain bagi pemain muda, agar mereka terbiasa dengan tekanan dan ritme tinggi.

Langkah selanjutnya adalah mendorong pemain muda potensial bermain di liga-liga kompetitif Asia atau Eropa.

Dengan begitu, mereka akan memiliki pengalaman internasional yang memperkaya permainan dan mentalitas saat kembali ke tim nasional.

Pemain Timnas Indonesia yang berada di atas 30 tahun saat Piala Dunia 2030. (Dimas Pradipta/JawaPos)
Pemain Timnas Indonesia yang berada di atas 30 tahun saat Piala Dunia 2030. (Dimas Pradipta/JawaPos)

Roadmap Menuju Piala Dunia

Di level organisasi, PSSI harus memastikan perencanaan jangka panjang benar-benar dijalankan.

Bukan hanya program jangka pendek yang bersifat instan, tetapi roadmap pembangunan sepak bola nasional seperti yang dilakukan Jepang pada 1990-an.

Jepang adalah contoh nyata bagaimana konsistensi bisa melahirkan tradisi. Program “100 Tahun Sepak Bola Jepang” yang dicanangkan sejak 1991 membuat Negeri Sakura punya arah jelas, dan kini menjadi langganan Piala Dunia.

Pengamat sepak bola Indonesia, Irawan Dwi Ismunanto, menegaskan pentingnya roadmap semacam itu. “Jika kita masih mengandalkan pola lama, kita tidak akan memiliki skuad mumpuni lima tahun mendatang,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia selama ini hanya memanfaatkan momentum tanpa membangun pondasi yang kokoh. Percepatan naturalisasi memang membawa hasil instan, tapi tak cukup untuk menciptakan tradisi lolos ke Piala Dunia.

Irawan menilai, negara seperti Togo, Trinidad & Tobago, dan Korea Utara menjadi contoh nyata dari “one hit wonder” di Piala Dunia. Mereka sempat mengejutkan dunia, tapi cepat menghilang karena tidak punya sistem yang kuat.

Dari sini, pelajaran penting muncul: mimpi besar butuh pondasi yang kokoh. Indonesia tidak boleh terjebak pada euforia sesaat, melainkan membangun dari akar, mulai dari pembinaan, pelatih, wasit, hingga infrastruktur.

Erick Thohir sendiri sudah menegaskan komitmennya setelah kegagalan pada 2026. Ia meminta maaf kepada publik, tapi juga mengapresiasi perjuangan pemain dan pelatih yang membawa Indonesia melangkah sejauh sejarah.

“Terima kasih kepada suporter, pemain, dan ofisial atas perjuangan untuk bisa sampai Round 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026. Pertama kali dalam sejarah, Indonesia bisa sampai di titik sejauh ini,” ujar Erick Thohir, Senin (13/10/2025).

“Kami memohon maaf mimpi masuk ke Piala Dunia belum bisa kami wujudkan.”

Pernyataan itu menjadi bukti perjalanan belum berakhir, justru baru dimulai.

Dengan usia mayoritas pemain yang masih muda, Indonesia punya waktu ideal untuk berbenah.

Empat tahun cukup untuk memperkuat sistem, membangun mental juang, dan menyiapkan generasi baru yang lebih siap secara taktik maupun mental.

Piala Dunia 2030 sendiri akan menjadi turnamen bersejarah, digelar di enam negara dan tiga benua seperti Spanyol, Portugal, Maroko, Argentina, Paraguay, dan Uruguay. Turnamen ini menandai 100 tahun perjalanan sepak bola dunia.

Bagi Indonesia, lolos ke ajang itu akan menjadi simbol kebangkitan baru sepak bola nasional.

Apalagi, enam negara tuan rumah otomatis lolos, membuat peluang bagi negara Asia lain termasuk Indonesia tetap terbuka lebar di jalur kualifikasi.

Format 48 peserta yang dimulai sejak Piala Dunia 2026 juga memberi harapan lebih besar. Persaingan memang ketat, tapi peluang lebih realistis untuk tim-tim Asia Tenggara yang terus berkembang.

Kunci utama kini ada pada konsistensi. Jika roadmap pembinaan benar-benar diterapkan, liga domestik diperkuat, dan pelatih diberi waktu membangun tim, Garuda bisa menjadi kekuatan baru di Asia.

Kerangka timnas Indonesia 2030 bukan lagi sekadar daftar nama pemain, melainkan visi sepak bola nasional. Ia mencerminkan arah, strategi, dan harapan bangsa untuk akhirnya punya tradisi tampil di panggung dunia.

Seperti Uzbekistan, Yordania, dan Cape Verde, Indonesia punya potensi besar untuk menulis sejarahnya sendiri. Asalkan semua pihak kompak, disiplin, dan sabar menjalani proses, maka Piala Dunia bukan lagi sekadar mimpi.

Piala Dunia 2030 bisa menjadi momen kebangkitan, bukan hanya untuk sepak bola, tapi juga untuk rasa percaya diri bangsa. Sebab, mimpi terbesar selalu dimulai dari kerja keras yang konsisten, bukan dari keajaiban sesaat.

Dan mungkin, empat tahun dari sekarang, lagu “Indonesia Raya” akan berkumandang di panggung sepak bola terbesar dunia.

Itulah harapan yang layak diperjuangkan, demi Garuda yang benar-benar terbang tinggi di Piala Dunia 2030.

EDITOR: Edi Yulianto