JawaPos.com - Di balik kebangkitan Persebaya Surabaya dalam satu dekade terakhir, ada satu nama yang tak bisa diabaikan: Azrul Ananda.
Pria kelahiran Samarinda, 4 Juli 1977 ini awalnya dikenal sebagai jurnalis dan penggagas berbagai inovasi media, namun kini namanya melekat kuat sebagai sosok transformasional dalam dunia sepak bola Indonesia.
Anak Wartawan, Jadi Wartawan
Putra dari Dahlan Iskan (mantan Menteri BUMN sekaligus mantan Ketua Umum Persebaya) ini tumbuh dalam lingkungan pers dan olahraga. Masa kecilnya di Surabaya diwarnai dengan aktivitas olahraga, terutama bulu tangkis di bawah naungan PB Djarum. Namun, kariernya sebagai atlet terhenti saat ia duduk di SMP 12 Surabaya.
Jalan hidup Azrul berubah ketika mengikuti program pertukaran pelajar di Kansas, AS. Ia tinggal bersama Joh Mohn, pemilik surat kabar Ellinwood Leader, yang membuatnya mengenal lebih dalam seluk-beluk dunia jurnalistik.
Setelah lulus cum laude dari California State University Sacramento pada 1999, Azrul pulang ke Indonesia dan memutuskan menjadi wartawan. Menariknya, sang ayah awalnya melarang Azrul masuk ke Jawa Pos. Bahkan, Azrul sempat mengancam akan bergabung ke harian Kompas.
Akhirnya ia diterima, dan langsung mengguncang dunia media dengan meluncurkan rubrik anak muda bernama Deteksi. Rubrik ini berkembang menjadi event-event populer, seperti lomba mading hingga liga basket pelajar bergengsi, DBL (Deteksi Basketball League), yang kini menjadi salah satu liga basket pelajar terbesar di Asia.
Dari Redaksi ke Ruang Ganti: Menjadi Presiden Persebaya
Langkah mengejutkan Azrul datang pada 7 November 2017, ketika melalui PT Jawa Pos Sportainment (JPS), ia mengakuisisi 70% saham PT Persebaya Indonesia. Langkah ini membuatnya resmi menjabat sebagai Presiden Persebaya, menggantikan Cholid Goromah.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa Azrul dua kali menolak ajakan mengelola Persebaya. Dalam sebuah podcast, ia mengungkapkan bahwa awalnya tidak tertarik karena kesibukannya di dunia basket. Namun, kekhawatiran bahwa Persebaya jatuh ke tangan orang yang salah membuatnya akhirnya mengambil alih.
“Saya takut kalau Persebaya dikelola oleh orang yang hanya mencari keuntungan, bukan ingin membangun klub secara profesional,” ujarnya.
Membangun Persebaya dari Dasar
Sejak diambil alih oleh Azrul, Persebaya mengalami perubahan besar:
2017: Juara Liga 2 dan promosi ke Liga 1.
2018: Finis di posisi ke-5 Liga 1.
2019: Runner-up Liga 1.
2021/2022: Meraih 63 poin, rekor tertinggi dalam sejarah Persebaya di era modern, dan kembali finis di posisi ke-5.
2022/2023: Peringkat ke-6.
Di era Azrul, klub juga banyak melahirkan talenta muda lokal, termasuk Osvaldo Haay dan Marselino Ferdinan, keduanya pernah dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Liga 1.
Tak hanya di lapangan, Azrul juga menerapkan manajemen modern di tubuh klub, dari pembentukan akademi muda, pengelolaan keuangan yang profesional, hingga peningkatan citra klub.
“Persebaya ini bukan hanya klub sepak bola, tapi simbol kota Surabaya. Harus dikelola dengan hati dan profesionalisme,” tegas Azrul.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk tidak menjual Persebaya ke pihak luar, serta tetap mempertahankan markas klub di Surabaya, meski sempat ada wacana pemindahan homebase.
Persebaya Kini dan Harapan ke Depan
Kini, di usia ke-97 tahun (18 Juni 2024), Persebaya menjadi klub dengan identitas kuat dan basis suporter fanatik (Bonek dan Bonita) yang makin solid berkat pendekatan Azrul yang terbuka dan penuh komunikasi.
Meski sempat menghadapi dinamika internal dan performa naik turun, Azrul tetap teguh pada visinya: menjadikan Persebaya klub yang mapan, profesional, dan suatu saat bisa go public, menjadi klub pertama di Indonesia yang mencatatkan sahamnya di bursa efek.