JawaPos.com — Persebaya Surabaya adalah klub yang memiliki sejarah panjang dan penuh kejayaan dalam sepak bola Indonesia. Salah satu momen emas dalam perjalanan klub ini terjadi pada musim Liga Indonesia 1996/1997.
Pada musim tersebut, Green Force sukses meraih gelar juara dengan mengalahkan Bandung Raya 3-1 di final yang berlangsung sengit.
Di balik keberhasilan Persebaya Surabaya, ada peran banyak pemain hebat, salah satunya adalah Jatmiko. Ia dikenal dengan julukan 'Si Supersub' karena sering memberikan dampak besar saat dimainkan dari bangku cadangan.
Perannya sebagai pemain pengganti yang efektif membuatnya menjadi bagian penting dalam skuad juara Persebaya Surabaya musim tersebut.
Karier sepak bola Jatmiko dimulai sejak usia 10 tahun ketika bergabung dengan Indonesia Muda (IM), klub internal Persebaya Surabaya.
Sebelum bergabung dengan IM, ia menghabiskan waktu bermain sepak bola di sekitar rumahnya. Lingkungannya yang mendukung kecintaannya terhadap sepak bola membentuk dasar keterampilannya sejak kecil.
"Istilahnya main sepak bola kampung. Saya kemudian diarahkan oleh om saya ke IM. Kebetulan lokasi latihan tim itu tak jauh dari rumah," kenang Jatmiko di kanal Youtube Pinggir Lapangan.
Perjalanan Jatmiko menuju klub profesional bermula ketika pamannya mengarahkan dirinya untuk bergabung dengan IM. Kebetulan, lokasi latihan IM tidak jauh dari rumahnya, sehingga memudahkannya untuk berlatih secara rutin.
Di klub ini, ia berlatih bersama beberapa pemain yang kemudian menjadi legenda Persebaya Surabaya, seperti Bejo Sugiantoro dan Anang Ma'ruf.
Pada tahun 1993, pelatih IM melihat bakat besar dalam diri Jatmiko dan merekomendasikannya untuk mengikuti seleksi Persebaya Surabaya Junior. Dalam seleksi tersebut, ia bergabung dengan Bejo Sugiantoro dan Anang Ma'ruf, yang juga memiliki bakat luar biasa.
Bakat alami serta kerja kerasnya membuat Jatmiko berhasil lolos seleksi dan menjadi bagian dari Persebaya Surabaya Junior.
Dua tahun bermain di level junior memberikan banyak pengalaman berharga bagi Jatmiko. Pada tahun 1995, ia mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi Persebaya Surabaya senior.
Saat itu, tim Persebaya Surabaya B yang diperkuat Jatmiko mengikuti turnamen di Semarang. Dalam ajang ini, performanya mencuri perhatian pelatih dan manajemen tim utama Persebaya Surabaya.
Dari turnamen tersebut, nama Jatmiko masuk dalam daftar skuad utama Persebaya Surabaya yang akan berlaga di Liga Indonesia musim 1995/1996. Saat itu, Persebaya Surabaya ditangani oleh pelatih asal Bulgaria, Alexander Dimitrov Kostov, yang akrab disapa Sasho Kostov.
Namun, perjalanan awalnya di tim utama tidak berjalan mudah karena ia lebih banyak menghabiskan waktu di bangku cadangan.
Sebagai pemain muda, Jatmiko harus bersaing dengan pemain-pemain senior untuk mendapatkan tempat di tim inti. Statusnya sebagai pemain cadangan tidak membuatnya patah semangat.
Justru, ia menjadikan kondisi tersebut sebagai motivasi untuk terus berlatih lebih keras agar suatu saat bisa mendapatkan kesempatan tampil.
"Status pemain cadangan saya lakoni dengan tekad dan motivasi bahwa suatu saat bakal mendapat kesempatan tampil bersama Persebaya," kata Jatmiko.
Kesabaran dan kerja kerasnya akhirnya mulai membuahkan hasil pada musim Liga Indonesia 1996/1997. Pada musim tersebut, Jatmiko mulai mendapatkan menit bermain lebih banyak meskipun tetap sering dimainkan sebagai pemain pengganti.
Julukan 'Si Supersub' mulai melekat padanya karena ia sering tampil dari bangku cadangan dan memberikan dampak besar bagi tim.
Kemampuannya dalam membaca permainan serta daya juangnya yang tinggi membuatnya menjadi pemain yang diandalkan ketika tim membutuhkan perubahan strategi.
Jatmiko membuktikan peran pemain pengganti tidak kalah penting dari pemain utama. Dengan kontribusinya, Persebaya Surabaya tampil luar biasa sepanjang musim hingga akhirnya menjadi juara Liga Indonesia 1996/1997.
Keberhasilan membawa Persebaya Surabaya menjadi juara menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam karier Jatmiko. Gelar juara ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemain yang berharga bagi tim.
Berkat performa impresifnya bersama Persebaya Surabaya, Jatmiko juga mendapatkan kesempatan untuk membela tim nasional Indonesia di Piala Tiger 1998.
Dipanggil ke tim nasional adalah impian bagi setiap pesepak bola, termasuk Jatmiko. Pengalaman bermain di Persebaya Surabaya menjadi modal berharga baginya untuk bersaing di level yang lebih tinggi. Meski bukan pemain utama di tim nasional, ia tetap memberikan kontribusi dengan peran yang dimilikinya.
Kesuksesan yang diraih Jatmiko tidak lepas dari kerja keras dan dedikasinya terhadap sepak bola. Ia menunjukkan meskipun memulai karier dari bangku cadangan, dengan usaha dan semangat pantang menyerah, pemain bisa mendapatkan kesempatan untuk bersinar.
Perjalanannya menjadi inspirasi bagi banyak pemain muda yang bermimpi menjadi pesepak bola profesional.
Kini, meskipun sudah tidak aktif bermain, Jatmiko tetap dikenang oleh para pendukung Persebaya Surabaya. Kenangan tentang 'Si Supersub' yang selalu siap memberikan dampak bagi tim akan selalu melekat dalam sejarah Green Force.
Momen ketika ia menjadi bagian dari skuad juara Liga Indonesia 1996/1997 akan selalu menjadi salah satu kisah emas dalam perjalanan Persebaya Surabaya.