← Beranda
Kisah Nostalgia Legenda Timnas Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto: Kangen Bonek dan Doakan Persebaya Surabaya Juara
Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 7 Februari 2025 | 16.45 WIB
Legenda Persebaya Surabaya Kurniawan Dwi Yulianto kini siap mengabdi ke Timnas Indonesia. (Instagram @kurniawanqana)
 

JawaPos.com — Kala itu, Kurniawan Dwi Yulianto tidak bisa menyembunyikan rasa rindu terhadap Persebaya Surabaya. Mantan striker andalan Green Force itu kembali ke Surabaya pada 6 Februari 2020 sebagai pelatih Sabah FA.

Kepulangannya ke Kota Pahlawan bukan sekadar lawatan biasa. Laga uji coba melawan Persebaya Surabaya menjadi momen emosional baginya karena kembali bertemu dengan klub yang pernah dibawanya juara Liga Indonesia 2004.

Saat itu, Kurniawan menjadi bagian penting skuad Green Force yang meraih kejayaan bersama Bejo Sugiantoro dan Uston Nawawi. Dua nama terakhir tersebut berstatus sebagai asisten pelatih Persebaya Surabaya saat itu.

Pertemuan tersebut seolah menjadi reuni bagi tiga sosok yang pernah berjasa bagi klub kebanggaan Bonek. Kurniawan mengaku sering berkomunikasi dengan Bejo dan Uston untuk bertukar informasi tentang perkembangan Persebaya Surabaya.

Meskipun datang sebagai lawan, Kurniawan tetap merasa memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Persebaya Surabaya. Bahkan, dia mengaku selalu mengikuti perkembangan tim meski sudah lama berkarier sebagai pelatih di luar negeri.

“Terlepas dari laga lawan Persebaya, sebenarnya saya dengan Bejo dan Uston masih sering komunikasi. Kadang saya tanya soal perkembangan Persebaya. Saling support saja,” katanya kepada Jawa Pos (6/2/2020).

Salah satu momen yang paling diingatnya adalah selebrasi unik yang selalu dilakukan setiap kali mencetak gol untuk Persebaya Surabaya. Dia akan berlari, melepas jersey, lalu melemparkannya ke udara sebagai bentuk euforia.

Namun, selebrasi itu kini sudah tidak mungkin dilakukan lagi karena aturan yang lebih ketat. "Coba kalau sekarang (copot jersey) pasti sudah kena kartu kuning," ucapnya sambil tertawa.

Bagi Kurniawan, Persebaya Surabaya lebih dari sekadar klub yang pernah dibelanya. Dia merasa mendapatkan tempat istimewa di hati para suporter setia Bonek yang selalu mendukung dengan penuh totalitas.

Atmosfer stadion Gelora Bung Tomo yang selalu membara menjadi salah satu hal yang paling dirindukan. Dia menyebut Bonek sebagai salah satu kelompok suporter terbaik di Indonesia karena loyalitas mereka.

“Bonek itu spesial buat saya. Mereka yang membuat saya merasa nyaman selama main di sini (Persebaya),” ucap mantan pemain PSM Makassar tersebut.

Sebagai seorang mantan pemain, Kurniawan tidak pernah berhenti memberikan dukungan kepada Persebaya Surabaya. Dia percaya dengan kualitas tim, pelatih, dan manajemen saat itu, Persebaya Surabaya sangat layak menjadi juara Liga 1.

Harapan besar itu dia sampaikan kepada para pemain Sabah FA saat menghadapi Persebaya Surabaya dalam laga uji coba. Dia meminta anak asuhnya berdoa untuk kesuksesan Persebaya Surabaya meskipun mereka akan bertanding sebagai lawan.

"Saya selalu bilang kepada pemain saya, ini bukan hanya laga persahabatan. Saya ingin pemain kami berdoa untuk kesuksesan Persebaya," ujar Kurniawan penuh harapan.

“Kalau dilihat dari kualitas pemain, pelatih, manajemen, dan suporter, sudah selayaknya Persebaya juara musim ini,” imbuhnya kala itu.

Kini, lima tahun berlalu, dan Kurniawan kembali menjadi perbincangan di dunia sepak bola Indonesia. Mantan striker Timnas Indonesia itu bersiap untuk bersaing menjadi asisten pelatih skuad Garuda.

Dia masuk dalam kandidat bersama Bima Sakti dan Eko Pujianto untuk mendampingi Patrick Kluivert. Pelatih asal Belanda itu tengah mencari asisten lokal yang bisa menjadi jembatan antara tim pelatih asing dengan para pemain.

Saat ini, Kluivert sudah memiliki dua asisten asing, yakni Alex Pastoor dan Denny Landzaat. Namun, kehadiran pelatih lokal dinilai penting untuk mendukung komunikasi dengan pemain non-keturunan.

Kurniawan tidak ambil pusing dengan keputusan akhir yang akan diambil Kluivert. Baginya, siapa pun yang terpilih, yang terpenting adalah tim nasional Indonesia bisa meraih prestasi terbaik.

"Siapa pun yang terpilih, kita akan tetap men-support. Ini semua demi kebangkitan sepak bola Indonesia," kata Kurniawan dikutip dari Antara.

Meski begitu, dia tetap siap jika dipercaya menjadi bagian dari tim kepelatihan skuad Garuda. Dia merasa memiliki pengalaman yang bisa bermanfaat untuk perkembangan sepak bola Indonesia.

"Dimanapun saya ditempatkan, saya siap. Saya ingin apa yang saya miliki bisa memberikan manfaat bagi sepak bola nasional," tegasnya usai tinggalkan Como 1907.

Sambil menunggu hasil seleksi dari Kluivert, Kurniawan tetap aktif di dunia kepelatihan. Saat ini, dia fokus membantu Indra Sjafri dalam membangun Timnas Indonesia U-20 yang akan berlaga di Piala Asia U-20 2025.

Dia dipercaya menjadi pelatih khusus untuk para penyerang muda Indonesia. Peran itu sangat cocok untuknya mengingat pengalamannya sebagai striker tajam di masa lalu.

Piala Asia U-20 2025 akan digelar di Tiongkok dan menjadi ajang penting bagi Garuda Nusantara. Indonesia bertekad tampil kompetitif dan Kurniawan berperan besar dalam mempersiapkan lini serang tim muda tersebut.

Kurniawan berharap semua yang terlibat dalam sepak bola Indonesia bisa bersatu demi kemajuan timnas. Menurutnya, saat ini yang paling penting adalah menciptakan atmosfer kerja sama yang solid.

Meski sudah tidak lagi berseragam Persebaya Surabaya, kecintaan Kurniawan terhadap Green Force tidak akan pudar. Dia tetap menjadi bagian dari keluarga besar Persebaya Surabaya dan selalu berharap yang terbaik bagi tim.

Bonek dan Persebaya Surabaya akan selalu memiliki tempat spesial di hatinya. Tidak ada yang bisa menggantikan kenangan indah saat membawa Green Force menjadi juara.

Kini, Kurniawan akan melanjutkan perjalanannya sebagai pelatih dengan harapan bisa memberikan kontribusi lebih besar bagi sepak bola Indonesia. Namun, satu yang pasti, cintanya kepada Persebaya Surabaya tidak akan pernah berubah.

EDITOR: Edi Yulianto