JawaPos.com — Persebaya Surabaya adalah salah satu klub sepak bola paling bersejarah di Indonesia, dan perannya dalam perkembangan sepak bola nasional tidak bisa diabaikan.
Dari masa ke masa, Persebaya Surabaya tidak hanya menjadi klub yang disegani di Tanah Air, tetapi juga menjadi tempat lahirnya sejumlah pemain bintang yang memperkuat tim nasional Indonesia.
Jejak para pemain ini bisa ditelusuri dari lahirnya legenda sepak bola Indonesia dari kompetisi internal Persebaya Surabaya di era 1950-an hingga 1980-an, sebuah masa keemasan bagi sepak bola Surabaya.
Pada era 1950-an, Persebaya Surabaya masih dikenal dengan nama SIVB (Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond) dan menjadi bagian penting dalam perjuangan melawan dominasi sepak bola kolonial.
Seiring dengan kemerdekaan Indonesia, sepak bola nasional juga mulai berbenah, dan Persebaya Surabaya terus memainkan peran besar. Salah satu kontribusi terbesar mereka adalah kompetisi internal yang diadakan secara rutin. Dari kompetisi inilah lahir talenta-talenta muda berbakat yang kemudian berkembang menjadi pemain nasional.
Tee San Liong, Saderan, dan Andjiek Ali Noerdin adalah beberapa nama besar yang muncul di era 1950-an hingga 1960-an. Mereka adalah representasi dari sepak bola Surabaya yang tangguh dan berdedikasi.
Tee San Liong dikenal sebagai salah satu pemain terbaik di masanya, yang sering disebut sebagai ‘Sang Naga dari Jember’ karena kemampuannya mencetak gol ke gawang lawan. Saderan dan Andjiek Ali Noerdin, di sisi lain, merupakan pemain serba bisa yang mampu bermain di berbagai posisi, membuat mereka menjadi pilar penting di klub dan Timnas Indonesia.
Pada era 1970-an, nama-nama besar seperti Abdul Kadir, Joko Malis, dan Rudy Keltjes mulai mendominasi panggung sepak bola Indonesia. Abdul Kadir, yang dikenal dengan dribelnya yang memukau, adalah pemain yang selalu menjadi ancaman bagi pertahanan lawan. Dia memiliki kelincahan dan kecepatan yang mematikan, yang membuatnya sulit dihentikan oleh lawan-lawannya.
Joko Malis, seorang penyerang tajam dengan insting gol tinggi, merupakan andalan Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia di berbagai turnamen.
Sementara itu, Rudy Keltjes adalah pemain dengan visi permainan yang luar biasa. Dia terkenal karena kemampuannya dalam membaca permainan dan memberikan umpan-umpan terobosan yang presisi.
Periode 1980-an juga tidak kalah gemilang bagi Persebaya Surabaya. Beberapa nama yang mengisi daftar pemain bintang dari kompetisi internal Persebaya Surabaya pada masa ini adalah Maura Hally, Putu Yasa, dan Budi Yohanis.
Maura Hally, seorang gelandang bertahan yang tangguh, terkenal dengan ketenangannya dalam menghalau serangan lawan. Putu Yasa, seorang kiper tangguh, kiper skuad Juara Persebaya Surabaya 1987/1988 dan pahlawan Timnas Indonesia di SEA Games 1987. Sementara itu, Budi Yohanis dikenal sebagai gelandang serang yang hebat dan playmaker andal.
Isack Adri Ferdinandus, salah satu legenda Persebaya Surabaya dari era 1950-an, pernah mengungkapkan betapa ketatnya persaingan di kompetisi internal Persebaya Surabaya pada masa itu. “Kompetisi internal Persebaya itu sangatlah ketat. Antusiasme penonton tak kalah dengan perserikatan. Wajar jika banyak pemain hebat lahir dari sana,” ucap Adri dikutip dari koran Jawa Pos edisi 2 Oktober 2015.
Kompetisi internal ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan bagi pemain muda, tetapi juga menjadi tempat mereka mengasah mental dan fisik untuk menghadapi kompetisi yang lebih besar.
Dukungan dari suporter setia Persebaya Surabaya, Bonek, juga menjadi faktor penting dalam menciptakan atmosfer kompetisi yang penuh gairah.
Kompetisi internal Persebaya Surabaya juga dianggap sebagai salah satu yang paling bergengsi di Indonesia pada masa itu. Setiap pertandingan di kompetisi ini selalu menyedot perhatian ribuan penonton yang memadati stadion.
Rivalitas antarklub internal yang ketat juga membuat setiap pertandingan berjalan dengan tensi tinggi. Para pemain yang tampil di kompetisi ini tidak hanya dituntut untuk menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga harus memiliki mental yang kuat untuk bertahan dalam tekanan.
Selain itu, keterlibatan komunitas dan asal-usul etnis dalam pembentukan klub-klub internal Persebaya Surabaya juga menjadi bagian penting dari sejarah klub ini.
Banyak pemain yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, termasuk Tionghoa, Arab, dan pribumi, yang menunjukkan bahwa sepak bola Surabaya adalah cerminan dari keragaman sosial kota tersebut.
Persatuan antarpemain dari berbagai latar belakang ini menjadi salah satu kekuatan Persebaya Surabaya dalam menciptakan tim yang solid dan berdaya saing tinggi.
Melihat kembali perjalanan para pemain bintang dari kompetisi internal Persebaya Surabaya pada era 1950-an hingga 1980-an, jelas bahwa klub ini tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya talenta-talenta sepak bola terbaik, tetapi juga menjadi institusi yang membentuk karakter dan profesionalisme pemain.
Para pemain yang lahir dari kompetisi ini tidak hanya menjadi kebanggaan Kota Surabaya, tetapi juga menjadi aset penting bagi sepak bola nasional.
Saat ini, semangat kompetisi internal Persebaya Surabaya masih terus hidup, meskipun zaman telah berubah dan tantangan baru terus muncul. Namun, jejak para pemain bintang dari masa lalu tetap menjadi inspirasi bagi generasi muda yang bercita-cita untuk membawa kejayaan kembali ke Persebaya Surabaya dan sepak bola Indonesia.
Persebaya Surabaya akan selalu menjadi simbol kebanggaan bagi masyarakat Surabaya, terutama berkat kontribusinya yang tak tergantikan dalam mengembangkan sepak bola nasional.