JawaPos.com - Kehebohan terjadi di dunia maya ketika netizen Indonesia ramai-ramai menyerbu akun Instagram klub sepak bola asal Italia, Como 1907. Hal ini dipicu oleh pernyataan kontroversial Mirwan Suwarso, perwakilan pemilik klub, yang mengomentari kemungkinan perekrutan Thom Haye. Dalam wawancaranya, Mirwan secara tegas menyatakan bahwa Como 1907 tidak akan merekrut gelandang asal Belanda tersebut untuk berkompetisi di Serie A musim depan karena dinilai tidak memenuhi standar klub.
"Tidak mungkin [rekrut Thom Haye]. Kami sudah melihat dia dan tidak memenuhi standar untuk mengangkat [tim]. Jadi pelapis mungkin bisa, tapi pelapis ketiga," kata Mirwan.
Saat Como 1907 berkompetisi di Serie B, Thom Haye sempat menjadi target rekrutmen klub. Namun, rencana tersebut tidak terwujud. Menurut Mirwan, persaingan di Serie A menjadi salah satu alasan utama mengapa gelandang berusia 29 tahun itu tidak bergabung dengan klub yang berbasis di Kota Como tersebut.
"Kami pernah melihat Thom Haye karena cocok di Serie B. Tapi untuk ke Serie A belum tentu jadi kami belum berani. Venezia juga akan melakukan hal serupa jika lolos ke Serie A tentu mencari pemain baru juga. Kalau tidak mereka bisa turun lagi ke Serie B," ujarnya.
Mirwan juga menjelaskan bahwa keputusan untuk tidak mendatangkan Thom Haye disebabkan oleh kuota pemain dengan tipe serupa yang sudah penuh di Como. Setidaknya ada lima pemain yang menempati posisi yang biasa dimainkan oleh Haye di lapangan hijau, yaitu Alessandro Bellemo, Daniele Baselli, Ben Lhassine Kone, Matthias Braunoder, dan Oliver Abdilgaard.
"Tapi kami masih kekurangan pemain nomor 8 dan 10 yang harus dinamis serta agresif. Sedangkan Thom sendiri bukan tipe seperti itu karena kami butuh permainan pressing. Thom tipe pemain quarterback dengan umpan akurat dari belakang, bukan tipe pemain pressing. Jadi secara sistem tidak sesuai dengan permainan kami," ucapnya.
Sebelumnya, Thom Haye dihubungkan dengan Como usai resmi berpisah dengan SC Heerenveen. Media lokal Belanda sempat memberitakan kemungkinan Haye merapat ke Italia karena sang pemain ingin berkarier di luar negara kelahirannya tersebut.
Pernyataan Mirwan Suwarso ternyata menyulut kemarahan netizen Indonesia. Mereka berbondong-bondong menyerbu akun Instagram Como 1907, menyampaikan berbagai komentar yang mengekspresikan ketidakpuasan dan kekecewaan mereka. Berikut adalah beberapa komentar yang dilontarkan netizen:
"Betapa pentingnya Doa bagi orang beragama. Jadi hati hati dengan doa kami. Bisa jadi, anda degradasi!!!," ujar seorang netizen.
"Bilangin kagak usah sombong dengan perkataan ownerny gw sumpahin musim depan degradasi Seri B Seri C Seri D.," ujar netizen lainnya.
"Semoga degradasi !!!!!," ujar seorang netizen dengan nada geram.
"Semoga Kalian Degradasi lagi musim depan," komentar netizen lainnya dengan penuh emosi.
"Semisal ga mau ambil pemain Indonesia, ngomong yang sopan lah bilang aja ga cocok skema pelatih jangan nyinggung pemain yang notabene orang Indonesia bijaklah berucap," tambah seorang netizen yang tampaknya merasa tersinggung oleh pernyataan Mirwan.
"Ingat ya prof tim haye udah pernah berkarier di Lecce ," ujar netizen lainnya, mengingatkan bahwa Thom Haye memiliki pengalaman bermain di Italia sebelumnya.
"Maksudnya pemain lapis ke 3 apa," tanya seorang netizen dengan nada sarkastis.
"Lekas degradasi lagi musim depan kalo bisa bubar gw berharapa inter juve milan bisa ngebantai como dengan gol gol yang banyak ,warga indonesia tidak suka dan tidak pelduli ini hanya tim medioker," ujar netizen lain dengan penuh kemarahan.
"BACK TO SERIE D , Pernyataan yang menghina dan merendahkan pemain," komentar netizen lain, menganggap pernyataan Mirwan merendahkan Thom Haye.
"Degradasi langsung aja enggak usah main di seri a , mau jadi ," ujar netizen lainnya dengan nada mengejek.
Gelombang komentar negatif ini menunjukkan betapa kuatnya reaksi netizen Indonesia terhadap pernyataan yang dianggap merendahkan dan tidak menghargai. Sejauh ini, Como 1907 belum memberikan tanggapan resmi terhadap serbuan komentar dari netizen Indonesia.
Fenomena ini menunjukkan betapa cepatnya respons publik di era digital, di mana pernyataan kontroversial bisa dengan mudah memicu reaksi luas dari netizen di berbagai belahan dunia. Kejadian ini juga menjadi pelajaran bagi klub-klub sepak bola dan perwakilan mereka untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan yang bisa memicu kontroversi.
Mirwan Suwarso sendiri mungkin tidak menyangka bahwa komentarnya akan memicu reaksi sebesar ini. Ke depan, akan sangat menarik untuk melihat bagaimana Como 1907 menangani situasi ini dan apakah ada langkah-langkah yang akan diambil untuk meredakan ketegangan dengan netizen Indonesia.
Kisah ini juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hubungan baik dengan semua pemangku kepentingan, termasuk para penggemar dan netizen yang memiliki pengaruh besar di era media sosial ini. Persebaya Surabaya mode jor-joran, berani penuhi permintaan naik gaji striker top skor Liga 1 Flavio Silva.