Khanafi Sempat Merasa seperti Tidak Bisa Main Bola
Bantuan rekan-rekan setim, kemauan belajar, dan taktik pelatih yang pas kunci keberhasilan sejumlah eks penggawa Liga 2 dan Liga 3 unjuk kemampuan di Liga 1. Ada yang sukses membobol gawang tim-tim besar, ada pula yang membuat penyerang asing sampai dibangkucadangkan.
FARID S.M.-BAGUS P.P., Surabaya-TAUFIQ A., Jakarta
---
SEMINGGU setelah direkrut Persik Kediri dari tim Liga 3 Persedikab Kabupaten Kediri, Mohammad Khanafi merasa seperti orang yang tidak bisa bermain bola.
Umpan dan kontrol selama latihan pun tidak bisa dia lakukan dengan baik. ’’Saya sempat mau dipulangin sama coach Divaldo (Alves),’’ kenangnya kepada Jawa Pos.
Kepercayaan dirinya pun perlahan tergerus. Dia merasa kariernya mungkin hanya layak di Liga 3, strata di mana Persedikab berada. ’’Tapi, alhamdulillah di Persik ada beberapa pemain asal Kediri yang memberi saya dukungan,’’ katanya.
Pemain asli Kediri yang dia maksud adalah Yusuf Meliana, Adi Eko, Vava Mario Yagalo, Faris Aditama, hingga Krisna Bayu Otto yang sering menyemangatinya di dalam atau di luar latihan. Asisten pelatih Persik Johan Prasetyo juga sering membantunya jika ada kesulitan. ’’Lama-lama rasa percaya diri muncul karena dukungan itu. Jadi nyaman,’’ bebernya.
Buntutnya, karier Khanafi bersama Persik mulai menanjak. Sepuluh pertandingan sudah dijalaninya sejak masuk di putaran kedua dengan torehan empat gol. Hebatnya lagi, dua gol di antaranya dicetak ke gawang dua tim besar: Persija Jakarta dan Persib Bandung.
Selain bantuan mental dari teman-teman satu daerah, pria 26 tahun itu menyebut peningkatan performanya tidak lepas dari seringnya berdiskusi dengan pelatih Persik Divaldo Alves. Dia tidak segan bertanya kepada pelatih asal Portugal itu tiap kali latihan apa yang jadi kekurangannya.
Hal tersebut dilakukan karena Khanafi sadar ada perbedaan yang sangat jauh dari sisi kualitas permainan antara Liga 3 dan Liga 1. Khususnya soal visi bermain di lapangan. ’’Kalau Liga 1 otak kudu berpikir ekstra dan harus cepat, soalnya lawan banyak yang berpengalaman. Kalau Liga 3, fisik paling dominan,’’ tegasnya.
Bantuan dari rekan setim dan asisten pelatih juga membuat Aditya Putra Dewa bisa langsung klop dengan permainan Barito Putera. Direkrut di putaran kedua dari klub Liga 2 PSIM Jogjakarta, 15 pertandingan sudah dimainkannya. Satu gol berhasil dicetak oleh pemain yang bisa diplot di posisi gelandang bertahan dan bek tersebut.
’’Saya juga hanya berusaha bermain sesuai dengan karakter saja dengan mengikuti instruksi serta menyesuaikan taktik pelatih,’’ ujarnya.
Rekan setim Dewa, Eksel Runtukahu, juga termasuk sukses menyeberang dari klub Liga 2 Sulut United ke Barito Putera. Runtukahu yang mencatat lima gol dalam empat laga di Liga 2 bergabung pada tengah musim setelah kompetisi strata kedua dihentikan.
Sejauh ini, penyerang 24 tahun itu sudah mengemas 2 gol dan 2 assist dari 10 laga bersama Barito Putera. Statistik yang cukup lumayan untuk pemain yang baru kali pertama mencicipi kompetisi strata tertinggi.
’’Saya sebenarnya belum lama bergabung dan masih terus menyesuaikan. Tapi, semakin lama, saya semakin nyetel dengan strategi yang diterapkan oleh pelatih,’’ kata pemain kelahiran Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, tersebut.
Dalam dua laga pemungkas, Runtukahu selalu jadi ujung tombak utama. Pelatih Barito Putera Rahmad Darmawan percaya dengan talenta pemain bertinggi 175 sentimeter itu. Dia didampingi Gustavo Tocantins dan Rizky Pora di sisi sayap.
Tidak mudah bagi Runtukahu untuk bersaing di posisi striker. ’’Target gol pasti selalu ada. Cuma yang jelas, setiap gol yang saya buat semua saya persembahkan untuk keluarga dan suporter,’’ terangnya.
Striker Persija Jakarta Aji Kusuma juga termasuk pemain yang langsung tune in setelah promosi ke Liga 1. Sampai pekan ke-32 Liga 1, penyerang yang direkrut dari klub Liga 2 Persiba Balikpapan di pertengahan musim ini tersebut sudah mengantongi 14 caps.
Artinya, Aji hampir selalu dimainkan dalam setiap pertandingan Persija sejak direkrut. Dalam 14 kesempatan bermain, pemain 24 tahun itu sudah mencetak 2 gol.
Performa meyakinkan Aji tidak terlepas dari cara bermain yang diterapkan pelatih Thomas Doll. Menurut Aji, pelatih asal Jerman tersebut menuntut para pemainnya untuk agresif dan cepat dalam menyerang. ’’Cara bermain tersebut sesuai dengan karakter bermain saya,’’ ucap pemain bertinggi 171 sentimeter itu.
Bahkan, beberapa kali Aji dipasang sebagai target man dalam formasi 3-4-2-1. Sedangkan penyerang tim nasional Republik Ceko Michael Krmencik malah dibangkucadangkan.
Di mata Doll, Aji adalah striker dengan pergerakan yang sangat dinamis. ’’Dia pemain yang cepat dan bisa bergerak di lini depan,’’ ungkap Doll.
Performa maksimal yang diperlihatkan Aji tidak terlepas dari proses adaptasi yang cepat. ’’Ini karena para pemain membantu proses adaptasi saya. Semuanya menyambut saya dengan baik,’’ ujar Aji. (*/c17/ttg)