JawaPos.com - Manchester City sedang menghadapi salah satu situasi paling serius dalam sejarah klub setelah dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan terkait pelanggaran aturan keuangan Premier League.
Sanksi untuk klub belum ditentukan dan proses hukum masih berlanjut karena Manchester City diperkirakan akan mengajukan banding terhadap putusan tersebut.
Berbagai kemungkinan hukuman pun mulai dibicarakan, mulai dari denda dan peringatan hingga pengurangan poin atau bahkan pengusiran dari Premier League. Skenario terakhir tentu dapat menyebabkan City harus bermain di divisi yang lebih rendah.
Jika hukuman berat benar-benar dijatuhkan, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan posisi klub di kompetisi. Masa depan sejumlah pemain bintang juga akan menjadi perhatian, termasuk Erling Haaland.
Haaland Tidak Punya Klausul Degradasi
Haaland merupakan salah satu aset terbesar Manchester City. Striker asal Norwegia tersebut masih menjadi salah satu penyerang paling produktif di sepak bola dunia dan memiliki kontrak jangka panjang bersama klub.
Melansir SPORT, Haaland memperpanjang kontraknya pada Januari tahun lalu sehingga masa baktinya di Etihad Stadium kini berlangsung hingga 2034.
Namun, ada satu hal yang mungkin cukup mengejutkan: tidak terdapat klausul pelepasan khusus dalam kontraknya yang otomatis aktif jika Manchester City mengalami degradasi.
Dengan kata lain, apabila City benar-benar harus turun kasta, Haaland tidak secara otomatis bisa meninggalkan klub dengan membayar sejumlah nilai yang sudah ditentukan dalam kontraknya.
Masa Depannya Bisa Berubah Sekitar 2030
Meski tidak memiliki klausul degradasi, bukan berarti masa depan Haaland bersama City sepenuhnya tidak bisa berubah.
Menurut laporan yang beredar di Inggris, sang pemain dapat memiliki peluang untuk meninggalkan klub pada pertengahan masa kontraknya jika memang menyatakan keinginan untuk pergi.
Nilai transfernya juga disebut dapat semakin menurun seiring kontraknya mendekati masa akhir pada 2034.
Situasi tersebut membuat tahun sekitar 2030 menjadi periode yang menarik untuk diperhatikan dalam perjalanan kontrak Haaland.
Agen Haaland Ingin Pemain Tetap Punya Kendali
Agen Haaland, Rafaela Pimienta, sebelumnya berbicara mengenai pentingnya memberikan kebebasan kepada pemain dalam menentukan masa depannya.
“Saya selalu mengatakan bahwa salah satu prioritas saya sebagai agen adalah menawarkan kepada pemain apa yang saya sebut 'kunci pintu'. Ketika seorang pemain pergi ke sebuah klub, saya melakukan segala sesuatu untuk menciptakan kondisi agar kunci pintu ada di tangannya.”
“Dan bagaimana jika besok Anda tidak tahan lagi berada di sana karena Anda tidak menyukainya, atau Anda tidak dibayar dengan baik, atau karena istri Anda ingin tinggal di Paris? Ya, Anda pergi, bukan? Saya tidak suka ketika pemain saya tidak bebas untuk memutuskan.”
“Pekerja harus memiliki hak untuk dipindahkan, untuk memutuskan hidupnya sendiri. Saya mendorong para penggemar untuk mengingat bahwa pemain juga manusia,” kata agennya, Rafaela Pimienta, setelah perpanjangan kontrak Erling dalam sebuah wawancara dengan 'AS'.
Pimienta juga menegaskan bahwa selama menangani kontrak para pemain di agensi yang sebelumnya dimiliki Mino Raiola, tidak pernah ada pemain yang ingin pergi tetapi tidak bisa melakukannya.
“Saya telah menangani setiap kontrak untuk agensi ini (yang dimiliki oleh Mino Raiola) dalam 25 tahun terakhir. Setiap kontrak. Tidak pernah sekalipun seorang pemain mengatakan 'Saya ingin pergi' dan tidak bisa.”
Gaji Haaland Jadi Persoalan Lain
Selain status kontraknya, persoalan finansial juga bisa menjadi faktor penting jika City benar-benar terdegradasi.
Haaland dilaporkan memperoleh sekitar €30 juta bersih per tahun. Angka tersebut tentu sangat besar bagi klub yang bermain di Championship.
Namun, Manchester City sendiri masih memiliki sumber daya finansial yang memungkinkan mereka mempertahankan pemain dengan biaya sebesar itu.
Untuk saat ini, Haaland tetap terikat kontrak hingga 2034 dan tidak memiliki klausul degradasi yang memungkinkan dirinya pergi secara otomatis jika Manchester City turun kasta.
Masa depannya baru akan menjadi persoalan lebih besar apabila sanksi terhadap City benar-benar mengubah kondisi klub dan sang pemain kemudian mempertimbangkan pilihan lain.
***