← Beranda
6 Hukuman Pengurangan Poin Terbesar dalam Sejarah Sepak Bola
M Shofyan Dwi Kurniawan• Minggu, 27 September 2026 | 22.15 WIB
Manchester City. (ig @mancity)

 

 

JawaPos.com - Manchester City kini menghadapi ketidakpastian besar setelah dilaporkan terbukti bersalah atas 114 dari 115 pelanggaran terhadap aturan keuangan Premier League.

City awalnya didakwa atas 115 dugaan pelanggaran yang terjadi antara 2009 dan 2018. Meski sanksi belum ditentukan, pengurangan poin menjadi salah satu hukuman yang berpotensi dipertimbangkan komisi disiplin.

Jika hukuman tersebut benar-benar dijatuhkan, City tentu tidak akan menjadi klub pertama yang kehilangan poin dalam jumlah besar. Sepanjang sejarah sepak bola, sejumlah klub pernah menerima penalti yang jauh lebih berat hingga mengubah perjalanan mereka secara drastis.

Melansir Sportsmole, berikut enam pengurangan poin terbesar yang pernah tercatat.

1. Luton Town - 30 poin (2008-09)

Luton Town menerima pengurangan 30 poin pada awal musim 2008-09 setelah menghadapi serangkaian masalah administratif dan finansial.

FA memberikan hukuman 10 poin karena penyimpangan dalam transaksi transfer, sementara EFL menjatuhkan tambahan 20 poin setelah klub keluar dari administrasi tanpa Perjanjian Sukarela Perusahaan.

Luton sebenarnya mencatatkan 13 kemenangan dan 17 hasil imbang dari 46 pertandingan liga. Namun, hukuman tersebut membuat mereka finis di posisi terbawah League Two.

Setelah itu, Luton menghabiskan lima musim berikutnya di National League sebelum kembali ke EFL pada 2013-14. Dari sana, mereka memulai perjalanan yang akhirnya membawa mereka hingga kasta tertinggi sepak bola Inggris.

2. AC Milan, Fiorentina, Lazio - 30 poin (2005-06)

Skandal Calciopoli mengguncang sepak bola Italia pada 2006 setelah penyelidikan menemukan dugaan intervensi terhadap sistem perwasitan.

Investigasi yang melibatkan rekaman percakapan telepon tersebut menyeret sejumlah klub, termasuk Juventus, AC Milan, Lazio, Fiorentina, Arezzo, dan Reggina.

Juventus menjadi klub yang menerima hukuman paling berat dan harus terdegradasi ke Serie B. Sementara itu, AC Milan, Fiorentina, dan Lazio masing-masing mendapat pengurangan 30 poin untuk musim 2005-06.

Meski kehilangan 30 poin, Milan tetap finis di posisi kedua. Fiorentina berada di posisi kesembilan, sedangkan Lazio finis di urutan ke-16.

Ketiganya kemudian kembali mendapat hukuman untuk musim berikutnya. Fiorentina memulai musim dengan -15 poin, Milan -8, dan Lazio -3.

3. Grazer AK - 28 poin (2006-07)

Grazer AK mengalami masalah finansial serius yang berujung pada serangkaian hukuman.

Klub Austria tersebut kehilangan enam poin karena gagal membayar kreditor, 10 poin akibat pelanggaran aturan keuangan, serta 12 poin lainnya karena pelanggaran lisensi.

Total 28 poin dipotong dari perolehan mereka. Grazer akhirnya finis di posisi terbawah Bundesliga Austria dengan hanya mengoleksi enam poin. Mereka kemudian dilarang tampil di liga profesional dan harus turun langsung ke kompetisi regional.

Masalah finansial tersebut terus berlanjut hingga klub dilikuidasi pada 2012. Para pendukung kemudian mendirikan klub baru sebagai penerus Grazer.

4. Limerick - 26 poin (2019)

Limerick mendapat hukuman pengurangan 26 poin ketika klub memasuki masa pengawasan finansial pada 2019. Akibat penalti tersebut, mereka finis di posisi terbawah dari 10 klub di Divisi Pertama Liga Irlandia.

Tidak ada klub yang terdegradasi dari kompetisi tersebut pada musim itu. Namun, masalah finansial Limerick terus berlanjut dan mereka sempat gagal mendapatkan lisensi untuk musim 2020 setelah menumpuk utang sekitar £420.000.

Klub tersebut akhirnya memperoleh lisensi setelah melakukan perubahan dan kemudian beroperasi dengan nama Treaty United.

5. FC Dnipro - 24 poin (2016-17)

FC Dnipro menerima pengurangan 24 poin pada musim 2016-17 akibat sejumlah masalah finansial dan kewajiban kepada mantan pemain serta staf.

Enam poin pertama dipotong karena klub gagal membayar utang kepada mantan pelatih Juande Ramos dan stafnya.

Enam poin lainnya diberikan karena kegagalan membayar mantan pemain Danilo Sousa Campos sesuai keputusan komite disiplin FIFA. Dnipro kemudian kehilangan tiga poin tambahan karena tidak menjalankan salah satu keputusan komite disiplin.

Dengan total pengurangan 24 poin, Dnipro finis di posisi ke-11, hanya tiga poin di atas Volyn Lutsk yang berada di posisi terbawah.

Namun, hukuman mereka tidak berhenti di sana. Dnipro kemudian diturunkan ke divisi ketiga dan akhirnya bangkrut pada 2018.

6. Derby County - 21 poin (2021-22)

Derby County menjadi salah satu contoh terbaru dari klub Inggris yang mengalami hukuman besar berupa pengurangan poin.

Pada September 2021, Derby kehilangan 12 poin setelah memasuki proses administrasi. Dua bulan kemudian, mereka menerima tambahan pengurangan sembilan poin setelah mengakui pelanggaran aturan akuntansi EFL.

Total 21 poin hilang dari perolehan Derby. Padahal, tim yang saat itu dilatih Wayne Rooney mampu meraih 14 kemenangan dan 13 hasil imbang dalam 46 pertandingan Championship. Namun, hukuman tersebut membuat Derby finis di posisi ke-23 dan akhirnya terdegradasi ke League One.

City Kini Menunggu Nasibnya

Kasus Manchester City masih menjadi perhatian besar karena skala tuduhan yang dihadapi jauh berbeda dari kebanyakan kasus sebelumnya.

Jika pengurangan poin menjadi bagian dari hukuman, besarnya penalti akan menjadi faktor penting yang menentukan dampaknya terhadap posisi City.

Sejarah menunjukkan bahwa pengurangan poin dalam jumlah besar dapat mengubah musim sebuah klub secara drastis. Dalam beberapa kasus, konsekuensinya bahkan berlanjut hingga degradasi, masalah lisensi, atau keruntuhan finansial.

Namun, untuk City, besaran dan bentuk sanksi akhirnya tetap bergantung pada keputusan resmi dalam kasus tersebut.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti