JawaPos.com - Jose Mourinho akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan: kemenangan. Real Madrid membuka perjalanan mereka di Liga Champions 2026-27 dengan mengalahkan Inter Milan 2-1 di Santiago Bernabeu.
Kylian Mbappe dan Federico Valverde membawa Los Blancos unggul lebih dulu sebelum Carlos Augusto memperkecil ketertinggalan Inter. Namun, skor akhir tidak benar-benar menggambarkan jalannya pertandingan.
Real Madrid menang, tetapi Inter justru tampil lebih dominan dalam banyak aspek permainan. Dan bagi Mourinho, kemenangan tersebut mungkin menjadi kabar baik sekaligus peringatan bahwa masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Mourinho Mendapatkan Kemenangan yang Diinginkan
Melansir ESPN, Mourinho sebelumnya sudah menegaskan bahwa dirinya tidak terlalu peduli bagaimana pertandingan berjalan selama Real Madrid mampu mendapatkan hasil maksimal.
"Saya ingin menang," katanya pada konferensi pers sebelum pertandingan. "Saya bisa mengatakan saya ingin bermain bagus, tetapi saya tidak ingin bermain bagus seperti yang kami lakukan melawan [Real] Betis [di LaLiga pada hari Jumat] dan kalah. Saya ingin menang."
Keinginannya terwujud. Madrid mengamankan tiga poin dalam pertandingan pembuka fase liga Liga Champions. Bagi Mourinho, ini menjadi awal dari upayanya memenangkan trofi yang belum pernah ia raih selama periode pertamanya di Bernabeu.
Namun, jika Madrid ingin benar-benar menjadi kandidat juara dan melangkah hingga final di Stadion Metropolitano pada Juni mendatang, performa seperti melawan Inter jelas belum cukup.
Inter Lebih Dominan, Madrid Lebih Efektif
Pertandingan ini menjadi contoh sempurna bahwa dominasi permainan tidak selalu berujung pada kemenangan.
Inter menguasai pertandingan dalam berbagai aspek. Salah satu statistik yang paling mencolok adalah jumlah umpan menuju sepertiga akhir lapangan: Madrid hanya mencatatkan 15, sedangkan Inter mencapai 128.
Namun, Madrid memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Inter: efektivitas. Los Blancos sudah unggul 2-0 setelah 23 menit. Mbappe mencetak gol pertama setelah memanfaatkan kesalahan pertahanan Inter, sebelum Valverde menggandakan keunggulan melalui kesalahan Josep Martinez.
Madrid bahkan memiliki sejumlah peluang untuk memperbesar keunggulan sebelum turun minum. Masalahnya, setelah itu mereka kehilangan kendali.
Inter semakin percaya diri pada babak kedua dan akhirnya mendapatkan gol melalui Carlos Augusto pada menit ke-77. Madrid memang memiliki peluang untuk kembali mencetak gol, tetapi permainan mereka secara keseluruhan terasa jauh dari meyakinkan.
Courtois Kembali Jadi Penyelamat
Di tengah masalah tersebut, Madrid masih memiliki pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan lewat kualitas individu.
Salah satunya tentu saja Thibaut Courtois.
Kiper Belgia itu melakukan tujuh penyelamatan dan berkali-kali menggagalkan peluang Inter. Dari 17 tembakan yang dilepaskan Nerazzurri, hanya satu yang berhasil berujung gol.
Penampilan Courtois bahkan membuat Federico Valverde merasa penghargaan Pemain Terbaik Pertandingan lebih pantas diberikan kepada sang penjaga gawang.
"Dia menyelamatkan kami," kata Valverde kepada Movistar.
Bagi Madrid, ketergantungan terhadap Courtois tentu menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan. Kiper kelas dunia bisa menyelamatkan sebuah pertandingan, tetapi tidak mungkin menjadi solusi untuk setiap masalah sepanjang musim.
Lini Tengah Masih Menjadi Persoalan
Madrid juga tampil tanpa Arda Guler yang terkena skorsing. Padahal, pemain asal Turki tersebut bisa dibilang menjadi salah satu pemain terbaik mereka pada awal musim.
Bernardo Silva juga absen. Kehadirannya diharapkan mampu memberikan kontrol di lini tengah yang belum dimiliki Madrid secara konsisten. Sebagai gantinya, Mourinho memainkan Trent Alexander-Arnold di posisi yang bukan posisi alaminya.
Hasilnya tidak terlalu meyakinkan. Trent terlihat kesulitan menentukan posisi dan perannya di lini tengah. Madrid pun kembali menunjukkan masalah lama: mereka memiliki banyak pemain berkualitas, tetapi belum menemukan struktur permainan yang benar-benar stabil.
Mbappe Tetap Jadi Senjata Utama
Di sisi lain, Madrid masih memiliki Mbappe. Striker Prancis tersebut kembali menunjukkan kualitasnya dengan mencetak gol pembuka. Beberapa hari sebelumnya, ia memang mengalami malam buruk ketika menghadapi Real Betis, meski melepaskan tujuh tembakan dan mencatatkan expected goals (xG) pribadi sebesar 1,96, termasuk penalti yang gagal.
Melawan Inter, Mbappe merespons dengan cara terbaik. Golnya lahir dari sebuah momen pressing yang cerdas. Ia membaca kesalahan Yann Bisseck, menutup ruang geraknya, dan memaksanya melakukan kesalahan sebelum menerima umpan dari Brahim Diaz.
Namun, Mbappe tetap menjadi pusat perdebatan lain. Sebelum pertandingan, ia ditanya mengenai tuntutan agar dirinya lebih aktif dalam bertahan dan menjadi penyerang modern seperti Ousmane Dembele atau Raphinha.
"Saya bisa saja mengatakan bahwa saya mencetak lebih banyak gol daripada dua pemain yang Anda sebutkan," jawabnya.
"Tetapi saya ingin bersikap bijak dan mengatakan tentu saja saya perlu meningkatkan kemampuan saya... meskipun saya melakukan hal-hal yang tidak dilakukan oleh pemain lain."
Suporter Mulai Kehilangan Kesabaran
Yang membuat situasi semakin menarik adalah respons para pendukung di Bernabeu. Seharusnya, kemenangan atas salah satu klub top Eropa menjadi alasan untuk berpesta. Namun, sebagian suporter justru menunjukkan rasa frustrasi terhadap penampilan tim.
Vinicius Junior bahkan mendapat cemoohan ketika ditarik keluar pada menit ke-87. Mbappe juga menerima reaksi serupa ketika digantikan pada masa tambahan waktu.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa kemenangan saja belum cukup untuk memuaskan para pendukung Madrid.
Mereka menginginkan sebuah tim yang mampu mengontrol pertandingan, mendominasi lawan, dan menunjukkan identitas permainan yang jelas.
Mourinho Harus Menemukan Identitas Baru
Mourinho sendiri menolak anggapan bahwa dirinya masih merasa kehilangan trofi Liga Champions yang gagal diraih bersama Madrid pada periode pertamanya.
"Kami memenangkan apa yang kami menangkan, dan kami kalah dalam apa yang kami kalahkan," katanya sebelum pertandingan tentang apa yang masih kurang dari koleksi trofi Bernabéu pribadinya. "Itu adalah babak yang sudah tertutup."
Babak baru memang telah dimulai. Tetapi lima pertandingan kompetitif jelas masih terlalu sedikit untuk menarik kesimpulan besar mengenai Madrid versi Mourinho. Hanya saja, pertandingan melawan Inter memberikan gambaran awal tentang pekerjaan yang menanti sang pelatih.
Madrid memiliki Courtois untuk menyelamatkan mereka di belakang dan Mbappe untuk memberikan perbedaan di depan.
Di antara kedua pemain tersebut, Mourinho masih harus menemukan sesuatu yang jauh lebih penting: identitas tim.
Jika Madrid ingin berbicara serius mengenai gelar Liga Champions, mereka tidak bisa terus mengandalkan penyelamatan Courtois dan keajaiban Mbappe. Mourinho harus membangun tim yang mampu mengontrol pertandingan dengan caranya sendiri.
Kemenangan atas Inter adalah awal yang bagus. Namun, pertandingan tersebut juga menjadi pengingat bahwa jalan menuju final masih sangat panjang.